Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Silek, Seni Beladiri Masyarakat Minangkabau

Kesenian Silek. (Antara Foto/ Iggoy el Fitra)

Kesenian "Silek" di halaman Balai Adat Nagari Kandang Baru, Sijunjung, Sumatera Barat, Jumat (17/2). Pemerintah daerah setempat mendorong warga di daerah itu untuk rutin menggelar kegiatan budaya sebagai upaya pelestarian kesenian tradisi Minang di kalangan anak muda.

Sijunjung - Silek adalah seni beladiri yang dimiliki oleh masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Tabiat masyarakat Minangkabau yang suka merantau diyakini menjadi tradisi silek tetap dilestarikan hingga kini. Hal ini dilakukan sebagai bekal yang cukup dalam menjaga diri dari hal buruk selama di perjalanan atau di tanah perantauan.

Di samping sebagai bekal untuk merantau, silek juga dinilai penting untuk pertahanan nagari terhadap ancaman dari luar karena wilayah Minangkabau yang subur dan produsen rempah-rempah.

Setiap nagari di Minangkabau memiliki tempat belajar silek yang dipimpin 'Tuo Silek' (guru silat). Tuo silek ini memiliki tangan kanan yang bertugas membantu mengajari para pemula.

Orang yang mahir bermain silek dinamakan 'pandeka' (pendekar). Pandeka ini memiliki peranan sebagai penjaga keamanan nagari.

Gelar Pandeka ini pada zaman dahulunya dikukuhkan secara adat oleh 'ninik mamak' dari nagari yang bersangkutan. Namun pada zaman penjajahan gelar dibekukan oleh pemerintah Belanda.

Setelah lebih dari seratus tahun dibekukan, masyarakat adat Koto Tangah, Kota Padang akhirnya mengukuhkan kembali gelar Pandeka pada 2000-an.

Pada awal tahun 2009, Walikota Padang, Fauzi Bahar digelari Pandeka Rajo Nan Sati oleh pemuka adat Koto Tangah, Kota Padang.

Gelar ini diberikan sebagai penghormatan atas upaya Fauzi Bahar menggiatkan kembali aktivitas silek tradisional di kawasan Kota Padang dan memang Fauzi adalah pesilat juga pada masa mudanya, sehingga gelar itu layak diberikan.
 

Editor: Baskoro

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post