Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
BISNIS

Serangan Cryptojacking Diprediksi Meningkat Sepanjang Tahun 2019

Presiden Direktur Dimension Data Indonesia, Hendra Lesmana saat menjelaskan tentang laporan intelijen ancaman Siber Global 2019 yang dikeluarkan oleh NTT Security. (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

Pelanggaran keamanan siber yang membajak komputer orang lain untuk menambang mata uang kripto (cryptojacking ) sudah dan masih akan terjadi.

JAKARTA-KABARE.ID: Serangan cryptojacking diprediksi akan meningkat hingga akhir tahun 2019.  Hal itu diungkapkan oleh Presiden Direktur Dimension Data, Hendra Lesmana dalam laporan tahunan berjudul Laporan Intelijen Ancaman Siber Global 2019.

"Dilihat dari sekarang sepertinya yang namanya cryptojacking itu sudah terjadi dan akan terjadi di mana-mana, akan ada peningkatan di kuartal dua 2019," kata Hendra ketika ditemui di wilayah Kuningan, Jakarta, Selasa (18/6/2019).

Jenis malware yang digunakan dalam cryptoajcking, antara lain: XMRig, CoinHive, dan CoinMiner. Dari ketiga itu, yang paling banyak digunakan adalah XMRig, yakni sebesar 62%.

"XMRig paling banyak ditemukan di perangkat yang sudah terinfeksi dari serangan cryptojacking," jelasnya.

Mengutip laporan yang sama, dari 2017 ke 2018 sendiri, ada peningkatan serangan cryptojacking sebesar 459% secara global. Sektor yang paling terpengaruh yakni teknologi (46%) dan edukasi (40%).

"Sumber dari komputasi besar itu komputer yang bisa dikompromi (ditanamkan malware). Biasanya komputer di kasir atau di laboratorium sekolah," jelasnya.

Kedua komputer itu dipilih karena, cryptojacking sendiri membutuhkan tenaga komputasi yang besar, sehingga mereka akan memanfaatkan komputer yang jarang digunakan melalui penanaman malware.

“Dengan tenaga komputer-komputer orang lain itu, penyerang dapat menyamar sebagai insitusi legal yang diizinkan menambang kripto,” ujar Hendra.

Penyerang cryptojacking pun mendapatkan untung karena berhasil menambang mata uang kripto. "Kripto yang dulu dibilang sangat aman, ternyata bisa diakali. Begitu metode itu (cryptojacking) keluar, banyak dipakai untuk keuntungan finansial penyerangnya," jelas Hendra.

Sementara itu, pengguna komputer yang menjadi korban cryptojacking akan mengalami kerugian berupa melambatnya performa komputer mereka.

Untuk mencegah serangan cryptojacking, pengguna komputer harus mengontrol aktivitas perangkatnya secara teratur. Harus ada pembatasan dari perangkat keras dan perangkat lunak pada komputer.

Plug in dalam peramban juga harus diaktifkan untuk membatasi fungsi situs yang dibuka. Selain itu, protokol Deny Stratum juga harus digunakan. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post