Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Seniman Muda Indonesia-Thailand Gelar Pameran Bersama di Galeri Salihara

Thidarat Chantachua dari Thailand yang membawakan pertunjukan berjudul “Bangkok Tea Project”. (Foto: Komunitas Salihara)

Pameran bersama ini meneliti bagaimana pergeseran antara dua negara membawa dampak pada masing-masing seniman dalam mengembangkan sisi artistik diri serta integritas artistik mereka sebagai respon terhadap masyarakat.

JAKARTA-KABARE.ID: Delapan seniman muda progresif dari Indonesia dan Thailand menggelar pameran bersama bertajuk “The Concept of Self: individuality and integrity” di Galeri Salihara, Pasar Minggu, pada 19 Januari hingga 3 Februari 2019.

Setiap karya yang dipamerkan di sini mencoba mengamati bagaimana perubahan-perubahan dalam masyarakat berdampak pada pembentukan sebuah konsep mengenai diri. Pameran ini mencoba mengeksplorasi pengaruh dari pergeseran politik dan budaya yang terjadi baik di Indonesia maupun di Thailand pada periode 1990an.

Salah satu karya yang ditampilkan adalah instalasi serat berjudul “How to Live with The Thought That Sometimes Life Ends, karya Rega Ayundya Putri dari Indonesia.

Baca juga:Indonesia Raih Best Cultural Performance di Pameran Pariwisata Amerika

“Karya saya adalah sebuah meditasi untuk pikiran-pikiran yang berkecamuk pada saya, semacam pengobatan juga. Bagaimana penolakan dan keengganan saya justru memberikan ketenangan, yang berlawanan dengan dunia kontemporer yang serba masif dan cepat,” ujar Ayundya dalam keterangan resmi yang dikutip Kabare.id, Kamis (17/1/2019).

Ia menjelaskan, gambar-gambar yang ia buat ada dan berputar mengelilingi kesadaran dan alam bawah sadanya. Karya-karya ini menunjukkan bagaimana alam bawah sadarnya menangkap konflik antara dirinya dan realitas fisik yang ada.

“Proses ini, yang tidak hanya menuntut kedekatan dan kesabaran, tetapi juga memerlukan spontanitas dan kepolosan, adalah sebuah meditasi untuk segala pikiran yang berkecamuk dalam diri saya. Ini adalah obat saya juga,” ujarnya.

“How to Live with The Thought That Sometimes Life Ends", karya Rega Ayundya Putri dari Indonesia. (Foto: Komunitas Salihara)

 

Ada juga Thidarat Chantachua dari Thailand yang membawakan pertunjukan berjudul “Bangkok Tea Project”. Sebuah karya hasil observasi mengenai isu perbedaan rasial dan agama yang diamati oleh Chantachua dalam perjalanan-perjalanan hidupnya.

“Sebagai seorang perempuan Muslim di antara masyarakat Thailand yang mayoritasnya adalah penganut Buddha, pengalaman saya sebagai seorang minoritas berdampak besar pada usaha dan keterarikan saya untuk mengkomunikasikan isu ruang dan kemanusiaan melalui teknik mixed-media,” ujarnya.

“Bangkok Tea Project” bukan hanya merepresentasikan Chantachua sebagai seniman, tetapi juga semua orang yang merupakan keturunan imigran dari latar belakang etnis mana pun.

“Ini adalah sebuah cerita tentang relokasi, tentang adaptasi, menggunakan satu bagian budaya yang terus terbawa. Budaya adalah aksi manusia. Manusia adalah penampil emosi,” ujarnya.

Baca juga: Baron Basuning Gelar Pameran Tunggal di Galnas Indonesia

Selain Ayundya dan Chantachua sejumlah seniman yang akan tampil antara lain: Antonio S. Sinaga, Patriot Mukmin, dan Theo Frids Hutabarat. Sementara dari Thailand yang akan tampil adalah: Chayanin Kwangkaew, Chulayarnnon Siriphol, dan Kitikun Mankit.

Acara pembukaan akan diresmikan oleh Duta Besar Kerajaan Thailand untuk Indonesia, Songpol Sukchan. Akan ada juga kesempatan berjumpa dengan seniman dan mempelajari teknik dan proses berkesenian mereka pada sesi bincang seniman dan master class yang menyertai pameran ini. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post