Monday 8 May 2015 / 22:03
  • Hingga Jumat (3/4), 1.986 orang di Indonesia Positif Covid-19, 134 orang sembuh, dan 181 meninggal.
SENI BUDAYA

Sebelum Keraton Agung Sejagat, Empat Kerajaan Ini yang Pernah Menggegerkan Indonesia

Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat. (Foto: Istimewa)

Kemunculan Keraton Agung Sejagat bukanlah yang pertama menggegerkan Indonesia. Sebelumnya ada Kerajaan Ubur – Ubur, Gafatar, Satrio Piningit Weteng Buwono, dan juga Kerajaan Lia Eden.

JAKARTA – KABARE.ID: Keraton Agung Sejagat di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Kabupaten Purworejo viral di media sosial karena mengaku sebagai penerus dari Kerajaan Majapahit.

Viralnya kemunculan Keraton Agung Sejagat setelah mereka mengadakan acara Wilujengan dan Kirab Budaya pada 10-12 Januari 2020. Pengikut mereka bahkan mencapai 450 orang.

Namun rupanya, Keraton Agung Sejagat bukanlah yang pertama muncul. Sebelumnya, pada 2018 silam, pernah muncul Kerajaan Ubur - Ubur yang dibentuk pasangan suami istri bernama Rudi dan Aisyah.

Kerajaan Ubur – Ubur

Mediasi antara MUI Kota Serang dengan Kerajaan Ubur-ubur. (Foto: Dok. MUI Kota Serang, Banten)


Meski dikenal warga sebagai muslim, Rudi dan Aisyah tak pernah salat berjamaah di masjid ataupun musala dekat rumahnya.

Pengikut aliran sesat itu mayoritas warga Jawa Timur dan Jawa Tengah. Menurut keterangan pengikutnya, Aisyah mengaku sebagai Ratu Kidul yang menganut agama Sunda Wiwitan, yang mengakui Alquran dan Allah SWT.

Aisyah mengatakan kalau Allah SWT memiliki makam menyerupai petilasan. Dia pun percaya kalau Nabi Muhammad berjenis kelamin perempuan.

"Kesimpulan kami dia bukan Islam. Dia menyebarkan atas nama Alquran, ini sudah meresahkan. Kalau seperti itu Islam sudah ternodai," kata Anas Tajudin, Sekretaris MUI Kota Serang, pada Senin, 13 Agustus 2018, sebagaimana dikutip dari Liputan6.com.

Dugaan sementara, kelompok aliran sesat Kerajaan Ubur-Ubur yang dipimpin oleh suami istri itu memiliki tujuan ekonomi seperti mengumpulkan uang dan menyimpannya di berbagai bank, baik dalam maupun luar negeri.

Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar)

Foto: Liputan6.com


Sebelum muncul Kerajaan Ubur – Ubur, pada 14 Januari 2016, Bareskrim Polri menerima laporan tentang adanya aliran sesat bernama Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) pimpinan Ahmad Musadeq yang‎ mengaku sebagai nabi setelah Nabi Muhammad SAW.

Kelompok ini mengklaim memiliki 50 ribu anggota yang tersebar di 12 wilayah negara Karunia Tuhan Semesta Alam Nusantara yang dibentuk oleh ketua umumnya, Mahful Muis Tumanurung.

"Anggotanya cukup banyak, 40 sampai 50 ribu yang tersebar di seluruh Indonesia," ungkap Kasubdit I (Keamanan Negara dan Separatis) AKBP Satria Hady Permana di kompleks Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin 30 Mei 2016.

Satria menuturkan, setiap anggota diminta menyetorkan uang dengan modus untuk kegiatan sosial Gafatar. Uang tersebut kemudian dikumpulkan pada bendahara dari tingkat RT, RW, kecamatan, daerah, sampai tingkat nasional.

Gafatar menjadi organisasi yang dicap ilegal karena tak terdaftar di pemerintahan, dan tak mempunyai surat keterangan terdaftar sebagai organisasi yang sah. Apalagi, banyak warga dilaporkan hilang karena ikut Gafatar, sehingga keberadaan organisasi ini meresahkan masyarakat.

Ahmad Musadeq sendiri sebelum terlibat kasus Gafatar, pernah terjerat kasus aliran Al-Qiyadah al-Islamiyah pada 2006. Sebagai pendiri aliran, Ahmad Musadeq menyatakan diri sebagai nabi atau mesias.

Al-Qiyadah al-Islamiyah merupakan sebuah aliran kepercayaan yang melakukan sinkretisme ajaran dari Al-Qur'an, Injil, dan Yahudi, juga wahyu yang diakui turun kepada pemimpinnya.

Satrio Piningit Weteng Buwono

Foto: Istimewa


Jauh sebelum Gafatar dan Kerajaan Ubur – Ubur, ada juga Sekte Satrio Piningit Weteng Buwono yang didirikan oleh Agus Imam Solihin. Dia mengaku sebagai Tuhan sejak 2005-2006. Sekte ini dianggap sesat dan melanggar perintah agama Islam.

Agus yang mengaku sebagai Imam Mahdi dan keturunan Presiden Sukarno mengajarkan kepada pengikutnya untuk meninggalkan salat, puasa, dan menjalankan hubungan seksual bersama pasangannya secara bersama-sama pengikut lainnya dalam satu ruangan.

Sebelumnya, Agus mendirikan padepokan di Permunas III Bekasi Timur yang akhirnya diusir oleh warga dan akhirnya pindah ke Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Dianggap meresahkan dengan ajarannya yang menyimpang, Agus pun ditangkap, tetapi berhasil melarikan diri. Hingga akhirnya Agus menyerahkan diri dan dia diadili dengan hukuman penjara 2 tahun 6 bulan.

Kerajaan Tuhan Lia Eden

Lia Eden (tribunnews.com)


Lia Aminudin atau dikenal sebagai Lia Eden sempat menggemparkan masyarakat karena mengaku sebagai penyebar wahyu Tuhan dan reinkarnasi Bunda Maria.

Paham Lia Eden ini mampu menjaring sekitar 100 penganut pada awal pendiriannya yang terdiri dari cendekiawan, artis, dan pelajar. Pada Desember 1997, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah melarang perkumpulan ini.

Pimpinan sekte Kerajaan Tuhan Eden telah dua kali mendapat vonis hukuman penjara pada 2006 dan 2009 akibat kasus penistaan agama. Namun, hal itu tidak membuatnya jera.

Pada Mei 2015, dia membuat sejumlah pernyataan mengejutkan. Salah satunya soal kedatangan UFO. Dia sempat meminta izin kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, untuk mendaratkan UFO itu di Monas.

Wanita yang mengaku Rasul Lia Eden ini juga mengingatkan tentang akhir zaman yang terjadi pada akhir Mei 2015. Disebutkan, UFO yang rencananya didaratkan di Monas itu, akan membawa Eden dan pengikutnya ke surga.

Surat yang sama juga dikirimkannya ke pejabat KPK serta Polri. Dia mengkritik kesesatan yang masih terjadi di negeri ini.

Menurut versi Lia Eden, Indonesia seharusnya bisa selamat asal menjadikan BJ Habibie sebagai Presiden. Lia Eden menyebut Habibie adalah sosok Presiden yang jauh dari kemusyrikan dan tak pernah bersekutu dengan Nyi Roro Kidul.

"Dia (Habibie) adalah reinkarnasi Gajah Mada yang punya Sumpah Palapa. Karena itu, sesungguhnya Indonesia bisa selamat kalau dia yang menjadi presiden pada waktu itu. Tapi sayangnya, kolaborasi politik kotor telah menurunkannya," tulis Lia Eden. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post