Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Salihara Jazz Buzz 2019: Melintasi Batas Genre Musik

Poster Salihara Jazz Buzz 2019

Program musik tahunan yang diadakan Komunitas Salihara sejak 2012 ini akan menampilkan musisi jazz senior hingga musisi yang lebih muda, dalam beragam komposisi dan kolaborasi.

JAKARTA-KABARE.ID: Festival musik Jazz Buzz kembali digelar pada 9, 10, 16, dan 17 Februari 2019 di Komunitas Salihara, Jalan Salihara No.16, Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Mengusung tema Jazz Sans Frontiéres IV (Jazz Lintas Batas IV), Komunitas Salihara melanjutkan tema yang sama sejak tiga tahun sebelumnya. Mereka melihat minat masyarakat pada musik jazz akhir-akhir ini mulai meningkat.

Untuk itu, penting untuk menghadirkan format pertunjukan alternatif yang melampaui batas-batas jazz pada umumnya, baik yang menyangkut genre musik, penggunaan instrumen maupun negeri asal musisinya.


Jazz Buzz tahun ini dibuka oleh duet Sri Hanuraga dan Gerald Situmorang yang membawakan komposisi dari album terbaru mereka, Meta (2019).

Sri Hanuraga, adalah seorang pianis yang menamatkan studi program master piano jazz di The Conservatorium van Amsterdam, Belanda, pada 2011, dengan predikat summa cum laude.

Ia telah meraih sejumlah penghargaan internasional maupun nasional seperti soloist prize di East of Eastern Jazz Festival, Nijmegen (2006), The European Keep an Eye Jazz Award 2011 untuk kategori “Best Band” bersama Daniel Master Quartet dan Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2016 untuk kategori “Artis Jazz Instrumental Terbaik”.

Selain bermusik, ia mengajar di Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang.

Baca juga: Seniman Muda Indonesia-Thailand Gelar Pameran Bersama di Galeri Salihara

Sementara, Gerald Situmorang adalah gitaris yang telah merilis sejumlah album, di antaranya album tunggal Solitude (2016) dan Dimensions (2017) yang meraih “Album Choice of the Year” dari 40th Jazz Goes to Campus dan “Instrumental Album of The Year” dari Indonesian Choice Awards 2018.

Berkat dua album tersebut pula ia meraih penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2017 dan 2018 untuk kategori “Karya Produksi Instumentalia”.

Selain album tunggal, ia juga merilis album Taifun (2015) bersama band Barasuara dan album terbaru Meta (2019). Hanuraga dan Gerald akan tampil pada Sabtu, 09 Februari 2019, pukul 20:00 WIB.

Kemudian, untuk format band, ada Sengat, band terbaru Reynold Silalahi (piano, kibor & vokal) yang diperkuat Tesla Manaf (noise box, effect, media & sampling), Yusuf Yadi Surya (gitar) dan Irene Lase (vokal).

Berdasarkan musikalitas setiap personil yang beragam, band ini siap menawarkan warna musik baru. Sengat akan tampil pada Minggu, 10 Februari 2019, pukul 20:00 WIB.

Pada minggu kedua, Iwan Hasan Progressive Jazz Ensemble akan membawakan komposisi yang terinspirasi oleh konsep Third Stream komponis Gunther Schuller, dengan sentuhan instrumen Timur dan rock progresif.

Iwan Hasan menempuh studi musik di Willamette University, Amerika Serikat, pada 1987-1991. Ia adalah satu-satunya gitaris harpa dari Indonesia. Karya tunggal instrumentalnya telah dirilis di Amerika Serikat dalam album kompilasi gitar harpa Beyond Six Strings (2006).

Ia membentuk grup jazz Iwan Hasan Quintet, Iwan Hasan Chamber Jazz dan band rock progresif Discus, satu-satunya band Indonesia yang namanya tercantum dalam buku The Progressive Rock Handbook. Iwan Hasan akan tampil pada Sabtu, 16 Februari 2019, pukul 20:00 WIB.


Eyal Maoz, gitaris garda depan dari Amerika Serikat akan menampilkan jazz bebas (free improvisation). Musikalitas Eyal Maoz adalah sintesis dari musik rock, jazz dan klasik modern. Ada juga sentuhan suara-suara musik Timur Tengah, elektronik dan garda depan.

Selain sejumlah festival musik di Amerika Serikat, ia juga pernah tampil di Montréal Jazz Festival (Kanada), Red Sea International Jazz Festival (Israel), Adelaide Festival (Australia), Jazz in Marciac (Prancis) dan bersama band Hypercolor, ia tampil di Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest) 2016.

Album mutakhirnya The Lie Detectors: Part III – Secret Unit, baru dirilis pada September 2018 di Chant Records, New York City. Eyal Maoz akan tampil pada Minggu, 17 Februari 2019, pukul 16:00 WIB.

Jazz Buzz 2019 ditutup oleh penampilan Tohpati Bertiga yang berkolaborasi dengan empat pemain brass untuk membawakan komposisi yang bernuansa jazz-rock.

Tohpati sendiri merupakan gitaris ternama Indonesia. Ia pernah bermain di Twilight Orchestra, Erwin Gutawa Orchestra dan band SimakDialog. Direktur musik Tohpati Orchestra ini juga membentuk band Tohpati Ethnomission dan Tohpati Bertiga yang aktif sampai sekarang.

Ia telah merilis sembilan album solo, di antaranya Tohpati Bertiga (2011), Song for You (2013), Tribal Dance (2014), Guitar Fantasy (2015) dan Bias (2018).

Peraih Anugerah Musik Indonesia (AMI) sebanyak sepuluh kali ini juga kerap tampil di festival jazz di luar negeri. Ia pernah rekaman dan bermain bersama musisi jazz dunia seperti Jimmy Haslip, Chad Wackerman dan grup jazz Amerika Serikat yaitu Yellow Jacket.

Tohpati Bertiga dan Brass akan tampil pada Minggu, 17 Februari 2019, pukul 20:00 WIB. (rls/bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post