Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
NASIONAL

Ratusan Petani Tebu Bertandang ke Istana, Keluhkan Harga Gula Rendah Hingga Kurangnya Mesin Pengolahan Tebu

Presiden Joko Widodo menerima ratusan petani tebu di Istana Negara, Rabu (6/2/2019). (Foto: BPMI)

Ratusan petani tebu bertandang ke Istana Negara untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi), pada 6 Januari 2019. Mereka datang untuk mengeluhkan rendahnya harga gula hingga kurangnya mesin pengolahan di lapangan.

JAKARTA-KABARE.ID: Mulyadi, salah satu petani dari Jawa Barat menyarankan pemerintah untuk merevitalisasi pabrik-pabrik gula milik BUMN yang usianya sudah tua. Sementara Harmonis, petani tebu dari Lampung mengeluhkan tentang program “Bansos Tebu” yang berhenti sejak tahun 2015.

“Padahal pada 2014 kami dapat pupuk untuk pengolahan lahan dan alat pertanian,” kata Harmonis, seperi diberitakan Antara, Rabu (6/2/2019).

Menurut Harmonis, bansos tebu itu sangat membantu mengurangi produksi petani. “Tiga tahun tidak sampai karena ada kebijakan harus ada sertifikasi bibit, sedangkan perusahaan di Lampung tidak pernah mengeluarkan sertifikat itu,” ujarnya.

Baca juga: Penjelasan Jokowi terkait Pembangunan Kilang Minyak Tuban yang Ditolak Warga

Kamari, petani tebu dari Jawa Tengah mengeluhkan tentang dihapusnya program Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) yang diubah menjadi Kredit Usaha Rakyat (KUR). “Sangat menyulitkan (bagi) kami karena perbankan meminta kami untuk memberikan angunan agar mendapat KUR, padahal dengan KKPE tidak (perlu angunan),” ujarnya.

Ia pun meminta agar KUR dapat dipermudah angunannya.

Sementara Tarif, petani tebu dari Madiun mengeluhkan harga pokok pembelian gula yang turun sejak 2016 karena ada gula impor untuk industri makanan dan minuman yang merembes ke pasar konsumen.

“Kami mohon kepada Bapak Presiden kalau impor gula tidak pada waktu panen, bukan kami alergi gula impor karena kami sadar gula produksi nasional masih di bawah kebutuhan konsumen, tapi kami harap impor tidak waktu panen sehingga harga gula tetap bisa memenuhi harga pokok produksi,” kata Tarif.

Selain keluhan-keluhan tersebut, para petani juga meminta pemerintah menaikkan harga gula, mempertahankan sistem bagi hasil antara petani dengan pabrik gula, penambahan luas perkebunan, perbaikkan alat-alat di pabrik gula yang sudah tua, dan usulan lainnya.

Baca juga: Strategi Jokowi Agar Harga Komoditas Pertanian Tidak Anjlok Saat Panen


Janji Jokowi

Usai mendengar keluhan dan masukan dari para petani tebu, Presiden Jokowi berjanji akan mengkaji semua keluhan dan masukan dalam waktu satu minggu. “Tolong saya diberi waktu seminggu,” ujar Presiden.

“Selanjutnya juga minta mesin-mesin dari pabrik BUMN harus direvitalisasi, bisa diterima, kemudian soal bansos tebu, kemudian KKPE tebu akan saya urus, karena saya pikir hal ini sangat penting,” kata Jokowi.

Presiden mengaku, usulan revitalisasi pabrik gula itu akan dibuat prioritas 1,2,3 dan seterusnya. “Kalau bicara dengan pelaku-pelaku, saya lebih cepat nangkep dan ditindaklanjuti. Kadang-kadang saya bicara dengan birokrasi tidak masuk, sehingga keputusan itu tidak bisa saya ambil. Mohon maaf, jangan dipikir semua hal saya mengerti,” kata Jokowi.

Jokowi juga berjanji akan menindaklanjuti usulan mengenai sistem bagi hasil antara petani tebu dengan pabrik gula. “Kemudian yang menarik rendemen individu betul penting? Sehingga bersemangat untuk memperbaiki rendemennya. Lalu untuk ‘harvester’ (alat panen), nanti saya perintahkan Menteri Pertanian siapkan masalah ini,” ujar Jokowi. (ant/bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post