Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
KABAR

Rasio Elektrifikasi Nasional Capai 99,20 Persen

Foto: Kementerian ESDM

Kementerian ESDM mencatat, selama enam tahun terakhir pelayanan akses listrik terus membaik seiring meningkatnya rasio elektrifikasi (RE) nasional menjadi 99,20 persen berdasarkan prognosis perhitungan di 2020.

JAKARTA - KABARE.ID: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berkomitmen memberikan akses layanan listrik dengan kualitas yang baik dan harga terjangkau.

Layanan tersebut dengan tetap memperhatikan prinsip pemerataan, efisiensi, dan dampak terhadap lingkungan.

“Semua itu bertujuan agar seluruh masyarakat Indonesia dapat menikmati akses layanan listrik dengan kualitas yang baik dan harga yang terjangkau," kata  Sekretaris Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Munir Ahmad, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (13/1/2021).

Menurut Munir, selama enam tahun terakhir pelayanan akses listrik terus membaik seiring meningkatnya rasio elektrifikasi (RE) nasional dari 2014 sebesar 14,85 persen menjadi 99,20 persen berdasarkan prognosis perhitungan di 2020. 

Pemerintah bahkan menargetkan rasio elektrifikasi sebesar 100 persen di akhir 2024. 

"Pemanfaatan listrik juga terus didorong untuk kegiatan produktif yang mampu untuk memutar roda perekonomian nasional," katanya.

Berdasarkan hasil perhitungan, prognosis konsumsi listrik per kapita nasional pada 2020 mencapai 1.089 kWh. Dari jumlah tersebut, proporsi pemanfaatan listrik untuk sektor rumah tangga tercatat sebesar 38 persen, sektor industri sebesar 41 persen, sektor bisnis sebesar 15 persen, dan sisanya adalah sektor publik sebesar 6 persen.

Guna meminimalisasi dampak terhadap lingkungan, kata Munir, pemerintah mendorong pengembangan pembangkit tenaga listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT), pemanfaatan teknologi High Efficiency Low Emission (HELE) pada PLTU, dan pengalihan bahan bakar yang lebih rendah karbon.

"Berbagai upaya terus dilakukan agar teknologi terkini terkait energi bersih dapat diimplementasikan secara masif di Indonesia dan tentunya dengan nilai keekonomian yang wajar," tegasnya.

Ia menambahkan, pemanfaatan hidrogen dan Carbon Capture Storage (CCS)/Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) masih terus dikembangkan.

"Kerja sama dengan berbagai pihak dan investor pun terus dilakukan pemerintah supaya teknologi terkini dapat diimplementasikan dalam nilai keekonomiannya," ujarnya.

Sampai semester I-2020, Indonesia telah memiliki kapasitas terpasang pembangkit listrik sekitar 71 GW, jaringan transmisi sepanjang 61.000 kilometer sirkuit (kms), gardu induk (GI) sebesar 150.000 MVA, jaringan distribusi sepanjang 995.000 kms, dan gardu distribusi sepanjang 61.000 kms. (*)

 

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post