Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Wisata_Kuliner

Rahasia Sang Cenderawasih di Pedalaman Tambrauw Papua Barat

Foto: Kemenpar RI

Menyaksikan langsung kecantikan burung cenderawasih di habitat aslinya, di Tambrauw, Papua Barat akan sangat berbeda jika dibandingkan melihatnya di layar kaca atau kebun binatang.

TAMBRAUW-KABARE.ID: Apalagi keindahan alam di timur Indonesia menyimpan daya tarik yang luar biasa. Dengan kemasan yang penuh kesederhanaan, Papua Barat memiliki kekayaan alam dan budaya yang bisa membuat siapa saja jatuh hati.

Untuk menuju Papua Barat, wisatawan harus melalui perjalanan udara selama kurang lebih 4 jam dari Jakarta. Jarak tempuhnya tentu akan berbeda, bergantung lokasi asal yang dipilih.

Selanjutnya, perjalanan darat yang ditempuh dari satu lokasi ke lokasi lain cukup jauh, pun belokan tajam dan jalan bebatuan masih banyak ditemui. Dibutuhkan fisik dan kendaraan yang prima untuk melewatinya.

Salah satu daya tarik Papua Barat terletak pada hutannya yang magis. Seolah hutan lebat tersebut menyimpan berbagai kejutan bagi para pelintas. Siapa sangka, jauh di dalam rimbunan pohon dan medan tanah yang cukup rumit dilewati, tersimpan dua pesona wisata yang luar biasa.

Dua pesona yang dimaksud adalah burung cenderawasih yang berada di titik pengamatan Hutan Vicirie, Distrik Miyah, dan Hutan Nunggou di Distrik Sausapor. Selain itu juga ada tank peninggalan Perang Dunia II yang terletak di Distrik Bikar.


Mengamati burung cenderawasih di bumi asalnya merupakan sebuah pengalaman berharga. Untuk memasuki area pengamatan burung cenderawasih, wisatawan harus menyusuri jalan hutan selama kurang lebih 40 menit, setelah itu dilanjutkan dengan berjalan kaki memasuki Hutan Nonggou di Distrik Sausapor.

Harga tiketnya yakni Rp150 ribu per orang, sementara harga jasa guide lokal Rp150 ribu untuk 4 orang. Seorang warga lokal menunjukan sebuah jalan di mulut hutan sebagai petapakan menuju lokasi persembunyian untuk melihat cendrawasih.

Jalan tersebut merupakan jalan yang dibuat warga lokal dengan menyusun dahan dan akar di tanah sehingga membentuk jalan berundak. Panjang jalan yang ditempuh sekitar 300 meter dengan keadaan jalan menanjak yang cukup curam, mencapai 45 derajat.

Berbeda, jika wisatawan berkunjung ke Hutan Vicirie di Miyah, lokasi persembunyian untuk melihat cenderawasih ditempuh dengan waktu yang lebih singkat. Jarak tempuh dari tempat parkir mobil ke lokasi persembunyian hanya 100 meter dengan jalan yang cenderung landai. Untuk harga tiket, sama dengan harga tiket di Distrik Sausapor.

Lokasi persembunyian bagi yang ingin berkegiatan pengamatan burung, dibuat berupa pohon kering dan hijau yang disusun rapi menyerupai pohon liar, di sela – sela daun hijau itulah yang menjadi tempat pengamatan burung.

Baik di Miyah maupun Sausapor, ada aturan tidak tertulis bagi wisatawan yang mau melihat langsung keindahan burung cenderawasih. Sebaiknya wisatawan datang pada waktu pagi buta, pada saat itu kemungkinan untuk melihat burung lebih banyak.


Selain itu, wisatawan harus menjaga ketenangan karena suara bising dan ribut bisa menganggu ketenangan burung sehingga enggan datang. Berpakaian gelap serta tidak memakai wewangian merupakan syarat berikutnya.

Setelah itu, kesabaran pun dibutuhkan. Wisatawan harus menunggu beberapa saat sampai si cantik cenderawasih tersebut muncul. Kadang mereka hanya melintas, kadang hinggap cukup lama di dahan pohon sehingga bisa diabadikan melalui lensa kamera.

Tidak perlu takut merasa bosan karena harus menunggu dalam diam, suara merdu burung cenderawasih dan burung lainnya yang terdengar bersautan dari kejauhan juga cukup menghibur.

Tidak disangka suaranya begitu beragam, suara yang terdengar mulai dari suara khas burung hingga suara mirip monyet. Semuanya menjadi suara nyanyian alam yang merdu dan sayang jika dilewatkan.

Pengamatan ini menjadi menarik karena kesempatan untuk melihat burung cenderawasih tidak selalu ada. Jika beruntung, wisatawan bisa melihat belasan ekor cenderawasih yang sedang bermain – main. Namun bila belum beruntung, hanya ada beberapa ekor yang melintas.


Berbelok sedikit, wisatawan bisa menikmati wisata sejarah. Wisatawan dapat diantar warga lokal melalui jalan satu-satunya untuk mencapai lokasi Tank Peninggalan PD II di Distrik Bikar. Jalan yang ditempuh kali ini cukup rata sehingga perjalanan tersebut tidak terasa lama.

Di antara hutan rimbun tersebutlah ditemukan beberapa tank yang teronggok berbalut rerumputan akar dan tumbuhan liar.

Tank yang ditemukan tersebut diperkirakan berjenis amfibi dan artileri. Meski tampilannya sudah banyak karat, namun masih utuh. Roda dan rantai yang melekat pada tank pun tak terlepas dari tempatnya. Beberapa bagian sengaja dirusak agar tank tidak bisa digunakan lagi.

Konon, tank tersebut merupakan peninggalan Perang Dunia II dimana didalamnya terdapat peran tentara Amerika yang membantu penduduk pribumi untuk menyerang pasukan perang Jepang. Tank tersebut adalah milik musuh yang sengaja disembunyikan warga jauh di dalam hutan agar mereka tidak lagi melakukan penyerangan.

Taktik yang digunakan berhasil, dengan hilangnya tank milik musuh, maka kekuatannya untuk menyerang pun berkurang. Meski begitu, tank tersebut tidak dirusak, hanya dibiarkan begitu saja di dalam hutan.

Dulu, tank yang teronggok seperti ini juga banyak ditemui dipinggir pantai. Namun, tank tersebut banyak dipereteli warga, beberapa bagian besinya diambil baik untuk dijual atau dimanfaatkan.

Tank bisa ditemukan di tiga area. Dua area berdekatan dan hanya berjarak sekitar 50 meter, sementara satu area berjarak cukup jauh diperlukan waktu tempuh seharian penuh untuk mencapai lokasi tersebut, bahkan katanya di lokasi tersebut juga ada peninggalan bangkai helikopter. Kebanyakan wisatawan hanya mengunjungi dua lokasi pertama, mengingat jarak yang cukup jauh untuk menuju lokasi yang ketiga.

Melihat potensi wisata ini, Pemda setempat pun mendorong masyarakat sekitar untuk ikut mengelola dua lokasi wisata ini dan menjaga kelestariannya. Selain itu, potesi wisata Tambrauw pun akan dipetakan secara baik sehingga potensi wisata Tambrauw bisa disajikan dengan baik dan menarik. (rls/bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post