Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Quatuor Bozzini Membawakan Karya Empat Komposer Muda Indonesia

Quatuor Bozzini saat menggelar latihan sebelum pentas di Komunitas Salihara, Jumat (10/8/2018). (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

Keempat karya komposer yang dibawakan oleh Quatuor Bozzini adalah Bali Miniatures karya Marisa Sharon Hartanto, String Quartet No. 2 karya Matius Shan Boone, Counter Noise No. 3 karya M. Arham Aryadi, dan In Memory karya Stevie Jonathan Sutanto.

JAKARTA-KABARE.ID: Kelompok musik asal Kanda, Quatuor Bozzini membawakan karya empat komposer muda Indonesia secara perdana di Salihara International Performing - Art Festival (SIP-Fest) 2018, di Komunitas Salihara, Jumat malam (10/8/2018).

Kelompok musik beranggotakan Clemens Merkel (biola), Alissa Cheung (biola), Stephanie Bozzini (viola), dan Isabelle Bozzini (cello) ini membawakan Bali Miniatures (2018) karya Marisa Sharon Hartanto, String Quartet No. 2 (2018) karya Matius Shan Boone, Counter Noise No. 3 (2018) karya M. Arham Aryadi, dan In Memory (2018) karya Stevie Jonathan Sutanto.

Bali Miniatures (2018) dibuat Marisa untuk menggambarkan souvenir musik dari Bali, khas pulau Dewata. Bali Miniatures terdiri dari enam miniatur gerakan, yakni matahari, gamelan, monyet Ubud, tari Kecak dan Hanoman, rindik dan matahari terbenam, serta ombak.

“Karya ini bercerita tentang pengalaman pribadi saya saat berada di Bali,” ujar Marisa kepada Kabare.id, sesaat sebelum pertunjukan.

Marisa Sharon Hartanto jelang konser Quatuor Bozzini di Komunitas Salihara, Jumat (10/8/2018). (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)


String Quartet No. 2 (2018) menggambarkan pengulangan ekstensif yang mengubah bahan sederhana menjadi banyak konteks yang berbeda. Proses ini dapat dilihat misalnya dalam sebuah periskop atau rumah cermin, di mana satu objek sedang dipantulkan melalui banyak cermin, kata Matius.

“Kesederhanaan objek tunggal ini direpresentasikan melalui penggunaan gerak berlawanan kromatik sebagai dasar dari keseluruhan komposisi,” ujarnya.

Kemudian Counter Noise No. 3 (2018), sebuah karya yang menggabungkan dua elemen suara dan bunyi. Arham menggunakan klip pengikat pada dawainya guna mewujudkan warna bunyi seperti instrumen tarawangsa dari Jawa Barat.

Terakhir adalah, In Memory (2018) yang didedikasikan Stevie untuk para korban terorisme di Indonesia. Stevie mencoba menggambarkan empat musisi yang sedang berinteraksi dengan jiwa-jiwa para korban secara metaforis melalui ruang, bunyi, dan cahaya.  

“Karya ini melambangkan perhatian manusia tentang masalah teroris dan menyediakan ruang waktu bagi audiens untuk membuat harapan bagi dunia. Setiap suara yang dihasilkan setidaknya mewakili kehidupan para korban yang meninggal akibat serangan teroris,” ujar Stevie.

Selain empat karya komposer muda Indonesia, Quatuor Bozzini juga membawakan Koan for String Quartet (1984) karya James Tenney dari Amerika.

Pada hari kedua, Sabtu (11/8/2018), Quatuor Bozzini membawakan Folkestone (1999) karya Linda Catlin Smith, About Bach (2015) karya Cassandra Miller, dan Pulau Dewata (1977) karya Claude Vivier. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post