Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Wisata_Kuliner

Puluhan Peselancar Siap Menaklukan Legenda Hantu Anjing Laut di Festival Bekudo Bono 2019

Peselancar sedang menaklukan ombak Bono di sungai Kampar, Riau. (Foto: Kemenpar)

Gelombang Bono dalam sudut pandang seni tutur masyarakat Teluk Meranti ada beberapa versi. Di antaranya ada yang bercerita bahwa bono merupakan hantu anjing laut yang menarik gelombang ke arah sungai Kampar.

JAKARTA – KABARE.ID: Festival Bekudo Bono yang digelar di Sungai Kampar, Riau selalu memikat puluhan peselancar, tak hanya dari Indonesia tapi juga peselancar internasional. Tahun ini, Festival Bekudo Bono rencananya akan digelar pada 10-15 November 2019.

Selama kurang lebih dua jam para peselancar akan menari di atas gelombang yang bisa mencapai 2 meter, dengan lebar gelombang mengikuti sungai. Perlombaan bekudo bono dibagi atas dua kelas, yaitu professional dan lokal. Untuk lokal, mereka bermain di Teluk Rimba Putus, yang berjarak kurang lebih 30 menit dari Teluk Meranti.

Sementara peselancar professional akan beraksi di Tanjung Pebila. Mereka akan menyambut gelombang Bono yang mulai datang pukul 10.30. Bono sendiri merupakan fenomena alam gelombang tidal bore. Gelombang ini terbentuk dari benturan arus laut dengan arus di muara sungai Kampar.

Pada saat bulan purnama ataupun bulan baru, permukaan laut di Selat Malaka menjadi naik dan melahirkan gelombang pasang yang menyapu masuk ke dalam sungai Kampar sejauh 50 sampai 60 km.

Ketika sisi depan dari gelombang masuk ke muara sungai yang menyempit dan bertemu dengan perairan dangkal sungai Kampar, lahirlah gelombang yang dikenal dengan sebutan Bono. Ketinggian bono dapat mencapai 2 meter dan melaju ke arah hulu selama kurang lebih 2 jam dan nantinya menghilang dengan sendirinya.

Legenda hantu 7 anjing laut

Gelombang Bono dalam sudut pandang seni tutur dari masyarakat Teluk Meranti ada beberapa versi. Di antaranya ada yang bercerita bahwa bono merupakan hantu anjing laut yang menarik gelombang ke arah sungai Kampar.

Karena Belanda saat itu tidak bisa masuk ke dalam muara sungai Kampar, pihak Belanda menembak gelombang dengan menggunakan meriam. Akibatnya, satu gelombang bono mati dan jumlahnya berkurang dari 7 menjadi 6.

Gelombang bono bisa dilihat di Kampung Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, provinsi Riau. Kampung ini berjarak lima jam dari Kota Pekanbaru dengan menggunakan moda transportasi darat.

Gelombang yang ditakuti pada zaman dahulu ini bertranformasi menjadi salah satu destinasi selancar unggulan di Indonesia. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post