Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
BISNIS

Prungg, Produk Kreatif dari Karung Goni

Rai menunjukan tas “Prungg” yang terbuat dari karung goni di sela pameran ICRA 2018, Kamis (13/9/2018). (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

Sekumpulan mahasiswa pecinta alam dari Majalengka yang terhimpun dalam Margasophana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung berhasil mengubah limbah karung goni menjadi karya kreatif yang memiliki nilai jual.

JAKARTA-KABARE.ID: Mereka adalah Edi Hidayat, Rai, Bani, Ujan, dan Teple yang mengubah limbah karung goni menjadi sepatu, sandal, hingga tas dengan desain artistik kekinian. Produk kreatif mereka kemudian diberi nama Prunng, sebuah akronim dari karung goni.

“Prungg dalam bahasa Sunda juga memiliki arti mari lakukan. Di Sunda ada peribahasa “Hayu, hayu, hayu, tapi diem” nah melalui Prungg ini kita mencoba tidak hanya hayu tetapi juga melakukan,” kata Rai saat dijumpai Kabare.id di pameran ICRA 2018, di Jakarta, Kamis (13/9/2018).

Prungg adalah salah satu dari 25 produk kreatif pilihan Bekraf yang turut serta memeriahkan pameran Interior & Craft (ICRA) 2018 di Balai Sidang Jakarta/ Jakarta Convention Center (JCC) pada 12-16 September 2018.

“Sedikit ga nyangka Prungg terpilih sebagai salah satu dari 25 pengrajin pilihan Bekraf. Padahal yang ikut mendaftar mencapai ratusan, apalagi Prungg sendiri masih baru di bidang industri kreatif,” kata Rai. Selain Prungg ada juga 201 stan lainnya yang ikut meramaikan pameran ICRA 2018.

Mengubah limbah karung goni agar bermanfaat

Sepatu Prungg yang terbuat dari karung goni. (Foto Kabare.id/ Baskoro Dien)

 

Ide untuk mengubah limbah karung goni menjadi barang berharga ini datang saat Rai dan kawan-kawan melakukan perjalanan ke Sukabumi untuk menyusuri pantai. Dalam perjalanan itu mereka bertemu dengan Abah Iwan, seorang warga yang menggunakan karung goni sebagai pakaiannya.

“Semua pakaiannya, mulai dari rompi hingga jaket terbuat dari karung goni. Saat itu kita tertarik dan coba tanya-tanya. Setelah pertemuan itu kita balik ke Bandung dan langsung menerapkan ilmu yang didapat dengan mencoba membuat tas dan sandal dari karung goni,” kata Rai.

Hingga saat ini Rai mengaku belum menemukan kesulitan, karena bahan dasar karung goni didapatkan dari pabrik coklat, pabrik kopi, atau pabrik kedelai di Bandung. Sementara desain produk mereka buat sendiri.

Mereka mengaku mampu membuat 30 sepatu dan 150 sandal dalam sebulan. Semua pengerjaannya menggunakan mesin khusus untuk membuat sandal, sepatu, dan tas.

Baca juga: Mengemas Produk Budaya jadi Konsumsi Pasar Global

Harga yang ditawarkan oleh Prungg juga cukup bersaing. Untuk sepatu dibanderol mulai Rp275 ribu hingga Rp385 ribu, sandal rata-rata Rp150 ribu, sementara tas dibanderol mulai Rp125 ribu hingga Rp385 ribu.

Saat ini pembeli terbesar produk Prungg  masih di sekitaran Jawa Barat, khususnya Bandung, Majalengka, dan Tasikmalaya. Kendati demikian mereka juga pernah melayani pembeli dari luar Jawa.

“Tiap bulan pasti ada orderan, minimnya kita sebulan bisa untung Rp4 juta. Kalau saat pameran untungnya bisa naik sekitar 5 persen,” kata Rai.

Menurut Rai, kunci sukses untuk memulai usaha adalah harus simpel dan jangan terlalu rumit. Hal terpenting lainnya adalah coba berpikir untuk memanfaatkan limbah menjadi barang-barang yang bernilai. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post