Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
NASIONAL

Presiden Jokowi Ajak Jepang Investasi di Natuna

Presiden Jokowi didampingi sejumlah menteri menerima Menlu Jepang Motegi Toshimitsu, di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (10/1) pagi. (Foto: Ibrahim/Humas Setkab)

Presiden Jokowi menerima kunjungan kehormatan Menteri Luar Negeri Jepang Motegi Toshimitsu, di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (10/1). Dalam pertemuan itu, Jokowi mengajak Jepang untuk melakukan investasi di Natuna.

JAKARTA – KABARE.ID: Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak Jepang untuk berinvestasi di Natuna, Kepulauan Riau.

“Saya ingin mengajak Jepang melakukan investasi di Natuna,” kata Presiden Jokowi saat bertemu Menteri Luar Negeri (Menlu) Jepang Toshimitsu Motegi di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (10/1/2020).

Indonesia dan Jepang sudah bekerja sama dalam pembangunan sentra kelautan dan perikanan terpadu fase pertama di Natuna. Jokowi berharap kedua negara menindaklanjuti pendanaan untuk fase kedua.

“Saya mengapresiasi kerja sama di Natuna, yaitu pembangunan sentra kelautan dan perikanan terpadu untuk fase pertama. Saya berharap usulan pendanaan untuk fase kedua dapat segera ditindaklanjuti,” ujar Jokowi.

Investasi pulau terluar dan tenaga kerja

Usai menggelar pertemuan tersebut, Menlu Retno Marsudi mengatakan, selain investasi di Kepulauan Natuna, Presiden Jokowi juga mengajak Jepang melakukan investasi untuk pengembangan pulau-pulau terluar.

“Antara lain untuk pengembangan perikanan termasuk SKPT (Sentra Kelautan Perikanan Terpadu), kemudian yang kedua juga pengembangan pariwisata, kemudian yang ketiga adalah peningkatan kapasitas nelayan,” kata Menlu kepada wartawan.

Selain investasi di kepulauan-kepulauan terluar, menurut Retno, investasi Jepang di bidang infrastruktur juga akan diteruskan. Hal kedua yang disampaikan Jokowi, lanjut Retno, adalah agar draft perjanjian RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership) dapat ditanda tangani pada tahun ini.

Kemudian hal yang ketiga yang dibahas adalah mengenai kerja sama dalam konteks pengembangan sumber daya manusia. Baik melalui program vokasi maupun program internship on the job. “Jadi internship pada perusahaan-perusahaan Jepang yang ada di Indonesia, serta pengembangan bahasa Jepang,” kata Retno seraya menambahkan, bahwa Jepang saat ini sedang kekurangan tenaga kerja.

Menurut Menlu, yang perlu diperkuat adalah masalah skill di bidang bahasa. Oleh karena itu, lanjut Retno, kalau kita melakukan kerja sama di bidang bahasa maka muaranya adalah dalam rangka dapat memenuhi permintaan pasar tenaga kerja Jepang dari Indonesia yang memang saat ini potensinya cukup banyak. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post