Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Komunitas

Petani Milenial di Kaki Gunung Merbabu

Foto: Istimewa

Di desa Kopeng, Semarang ada sebuah kawasan pertanian organik yang dikelola anak-anak milenial berusia 19-38 tahun. Mereka punya slogan keren: Pemuda Tampan Masa Kini (PETANI).

JAKARTA - KABARE.ID: Semarang tak hanya lawang sewu. Coba jika Anda plesir ke ibu kota Jawa Tengah itu, singgahlah pula ke Kopeng, sebuah desa yang ada di kaki Gunung Merbabu, Kecamatan Getas, Kabupaten Semarang. Hawanya sejuk, pemandangannya bagus.

Selain itu, di sana ada sebuah kawasan pertanian organik yang dikelola anak-anak milenial. Usianya berkisar 19-38 tahun. Mereka punya slogan keren: Pemuda Tampan Masa Kini (PETANI). Para pemuda ini bernaung di bawah payung kelompok Tani Citra Muda yang sudah dirintis sejak 2014. Pelopornya adalah Sofyan Adi Cahyono (24 tahun).

Sofyan memang berasal dari desa itu. Keluarganya juga juga berlatar belakang petani. Dunia pertanian sudah tak asing lagi baginya. Karena sudah tahu tentang seluk beluk dunia pertanian, Sofyan bercita-cita menjadi petani, seperti ayahnya.

Namun keinginan Sofyan itu sempat dipertanyakan keluarga dan teman-temannya. Karena, kebanyakan teman-teman Sofyan ogah menggeluti dunia pertanian. Mereka justru memilih menjadi pegawai kantoran. "Hidup dari kecil sudah bertani kok masih mau ambil pertanian," kata keluarga dan teman-teman Sofyan saat ia memutuskan mengambil studi pertanian.

Namun keputusan Sofyan tak berubah. Ia tetap mengambil kuliah pertanian di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Menjadi petani bukan tanpa alasan. Sofyan merasa prihatin dengan anak-anak muda yang enggan lagi terjun ke dunia pertanian. Padahal, menurut dia, dunia pertanian itu jika dikelola dengan baik akan jauh lebih keren. "Jika dikelola dengan baik maka akan menguntungkan dan tak kalah keren dengan pekerjaan yang lain," ujarnya.

Alasan lain, Sofyan ingin dunia pertanian yang digelutinya nanti tak banyak menggunakan bahan kimia alias organik. Dari tekad itu, bersama kelompoknya ia merintis pertanian berbasis organik. "Lebih murah, mudah, dan menyehatkan semua orang," katanya.

Sofyan membuktikan itu. Selepas kuliah, bersama 30 orang temannya ia membentuk kelompok Tani Citra Muda. Kelompok tani ini mengelola 10 hektar lahan yang tersebar di beberapa titik yang ada di Kecamatan Getasan. Di lahannya itu segala macam sayuran dari jenis daun, bunga dan buah ditanam. Kini ada 70an macam sayuran dan buah yang mereka tanam.

Di kelompoknya, Sofyan membagi beberapa divisi. Ada divisi peternakan yang bertugas mengolah pupuk kandang menjadi pupuk organik. Ada juga divisi pembibitan; divisi perawatan; divisi pemasaran, dan divisi pelatihan.

Kelompok ini juga menggandeng petani-petani lokal. Kini kelompok tani pimpinan Sofyan ini sudah bermitra dengan 18 kelompok tani dengan jumlah petani 400an orang yang ada di Kecamatan Getasan.

Produk-produknya dilabeli SOM, singkatan dari Sayur Organik Merbabu. Pemasarannya melalui media sosial instagram. Jangkauan pemasarannya dari Magelang, Semarang, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Jabodetabek.

Aktivitas Sofyan dan teman-temannya ini sempat menarik perhatian Menteri Pertahian Syahrul Yasin Limpo dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Menteri Syahrul yang berkunjung Juni lalu menyebut, model pertanian organik yang ada di Kopeng ini bisa diduplikasi untuk daerah-daerah lain. Selain itu, ia berharap apa yang dilakukan Sofyan dan kawan-kawannya itu bisa menjadi inspirasi bagi anak milenial lainnya.

Apa yang dilakukan Sofyan ini memang menjanjikan. Sebelum pandemi, kata Sofyan, mereka bisa meraup omzet Rp100 juta hingga Rp150 juta perbulan. Saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia, permintaan bukan turun tapi malah naik. "Omzet sekitar Rp300 jutaan," ujarnya.

Berkat rintisannya itu, Sofyan dipilih menjadi duta petani milenial. Dalam dua tahun ini kelompoknya mendapatkan program desa pertanian organik dari pemerintah. Karena kesuksesan merintis pertanian organik, Sofyan pernah diminta mewakili petani organik Indonesia di acara Organic Youth Forum. Kegiatan ini digerakkan IFOAM Asia dan pemerintah Taiwan, Maret 2019. Hadir di ajang bergengsi itu, perwakilan dari 11 negara di Asia. (*)

 

Sumber: Infopublik.id

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post