Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
BISNIS

Petani Jateng Punya Aplikasi Sistem Perdagangan Elektronik

Ilustrasi: Petani panen coklat. (Pixabay)

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menjajaki kerja sama dengan pengelola aplikasi sistem perdagangan elektronik untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

SEMARANG-KABARE.ID: Kepala Biro Infrastruktur dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah Peni Rahayu mengatakan, ada dua aplikasi yakni Regopantes dan Eragano yang dapat memberikan keleluasan bagi petani Jateng untuk memilih aplikasi yang digunakan untuk menjual hasil panennya.

"Ada Eragano, ada Regopantes, petani boleh memilih, petani mau jual dalam jumlah kecil dengan harga yang cukup menguntungkan bisa lewat Regopantes, kalau komoditasnya dalam jumlah besar tentu harganya berbeda dan itu kita bisa tawarkan melalui Eragano," kata Peni di Semarang, Senin (5/2).

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, aplikasi Regopantes, menurutnya perlu terus disosialisasikan kepada para petani meski sudah tiga bulan beroperasi, sedangkan aplikasi Eragano perlu segera diuji coba di beberapa daerah.

"Sistem informasi pertanian yang dibangun pada 'e-commerce' Eragano akan membuat petani memperoleh keuntungan yang layak," kata Ganjar.

Menurutnya, aplikasi Eragano bisa diterapkan di Provinasi Jateng dan beberapa kelompok tani yang sudah punya modal awal peralatan bisa langsung ditautkan ke aplikasi tersebut.

"Eragano membangun sistem informasinya, termasuk produksi dan kemana akan dijual. Dia carikan 'off taker'-nya, 'back-up insurance'-nya, dan beri intermediasi perbankan," ujarnya.


Solusi dari hulu ke hilir

CEO Eragano, Stephanie menerangkan bahwa aplikasi sistem perdagangan elektronik yang dikelolanya merupakan solusi dari hulu ke hilir berbasis teknologi untuk memberikan kemudahan bagi petani dalam mengakses pinjaman atau kredit perbankan, memperoleh pelatihan budidaya, dan pascapanen hingga mereka siap menjual hasil panennya.

Untuk pemasarannya, aplikasi sistem perdagangan elektronik Eragano berorientasi pada segmen industri agar petani dapat menjual komoditasnya dalam skala besar.

"Kami punya jaringan ke hotel, restoran, dan kafe, tapi kami fokuskan pada pasar industri agar kita stabil dulu, tujuan yang kami sudah ada seperti Unilever, Nestle, Charoen Pokphand Indonesia, Cargill," ujarnya.

Secara teknis, petani yang mengawali keikutsertaannya di aplikasi Eragano harus mengisi data profil petani, titik lahan, dan titik "geotagging" untuk memudahkan monitoring budidaya hingga pascapanen.

"Dari profil petani mereka masukkan data seperti dari nama, tanggal lahir, nomor KTP sampai nama ibu kandung untuk membantu bank menerapkan laku pandai. Titik profil lahan dan titik 'geotagging' sehingga langsung ketahuan lahannya dimana dan bisa dikroscek karena ketika nanti monitoring, ada pengecekan antara lokasi foto dengan lokasi lahannya," paparnya.

Dengan segmen industri yang ada, Stephanie mengungkapkan, Eragano mendorong petani untuk menjual komoditasnya dengan bobot minimal 2,5 ton sehingga ongkos kirim yang dikucurkan tidak banyak. (*)


Sumber: Antara

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post