Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Pesan Kebajikan dan Kejahatan di Relief Candi Sukuh

Relief yang terpampang di Candi Sukuh. (Foto: IST)

Candi Sukuh dianggap kontroversial karena mengusung bentuk kurang lazim, yakni lingga dan yoni. Padahal tak hanya perkara pria dan wanita, candi ini membawa pesan kebajikan dan kejahatan di relief-reliefnya.

JAKARTA – KABARE.ID: Situs candi Sukuh dilaporkan pertama kali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta. Johnson kala itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data untuk menulis bukunya The History of Java.

Candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut. Candi ini berada di dukuh Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sekitar 36 kilometer dari Surakarta.

Berbeda dengan candi-candi lainnya di Jawa Tengah, bentuk bangunan candi Sukuh cenderung mirip dengan peninggalan budaya Maya di Meksiko atau peninggalan budaya Inca di Peru. Strukturnya juga mengingatkan dengan bentuk-bentuk piramida di Mesir.

Candi sukuh menjadi destinasi wisata yang unik. Selain lokasinya di pegunungan dengan udara yang dingin, candi ini memberikan pengetahuan mengenai hubungan laki-laki dan wanita. Hal ini digambarkan dengan relief-relief yang ada dan terdapatnya simbol hubungan tersebut berupa Lingga dan Yoni.

Baca juga: Uniknya Candi Sukuh, Candi yang Mirip Situs Peradaban Kuno Meksiko

Sebelum memasuki pintu utama Candi Sukuh, pengunjung akan memasuki gapura terbesar akan disambut dengan arsitektur khas berbentuk trapesium yang disusun agak miring dengan atap di atasnya. Material batuan candi ini memakai batu andesit, berwarna agak kemerahan.

Pada teras pertama terdapat gapura utama dengan sengkala memet dalam bahasa Jawa yang berbunyi Gapura Buta Aban Wong. Artinya, raksasa gapura pemangsa manusia, yang masing-masing memiliki makna angka 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau 1437 Masehi. Angka tahun ini sering dianggap sebagai tahun berdirinya candi Sukuh, meskipun lebih mungkin adalah tahun selesainya dibangun gapura ini.

Di sampingnya terdapat relief sengkala memet berwujud gajah bersorban yang menggigit ekor ular, melambangkan bunyi ‘gapura buta anahut buntut’ atau raksasa gapura menggigit ekor, yang juga dapat ditafsirkan sebagai 1359 Saka.

Pada teras kedua Candi Sukuh terdapat gapura yang sudah rusak. Di kanan dan kirinya terdapat patung penjaga pintu atau dwarapalayang juga sudah rusak. Pada gapura ini terdapat sebuah candrasangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi ‘gajah wiku anahut buntut’ yang berarti “Gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi.

Teras ketiga candi, berupa pelataran besar dengan candi induk dan beberapa panel berelief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Terdapat candi utama di bagian tengah yang memiliki sebuah bujur sangkar yang kelihatannya merupakan tempat menaruh sesaji.

Baca juga: Air Terjun Kwai di Wondama yang Bertingkat Layaknya Candi

Di bagian kiri candi induk terdapat relief yang menceritakan mitologi utama Candi Sukuh, Kidung Sudamala. Relief di bagian kiri dilukiskan sang Sahadewa, saudara kembar Nakula, keluarga Pandawa Lima.

Relief ini menggambarkan Sadewa yang sedang berjongkok di depan Dewi Durga. Pada relief kedua dipahat gambar Dewi Durga dalam bentuk raksasa wanita dengan 2 raksasa lain, Kalantaka dan Kalañjaya yang sedang murka.

Pada prasasti sukuh terdapat dua buah patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian tirta amerta (air kehidupan) yang terdapat dalam kitab Adiparwa, kitab pertama Mahabharata.

Terdapat pula tiga patung kura-kura yang melambangkan bumi dan penjelmaan Dewa Wisnu. Bentuk kura-kura ini menyerupai meja dan ada kemungkinan memang didesain sebagai tempat meletakkan sesaji.

Ada juga bangunan berelief tapal kuda dengan dua sosok manusia di sebelah kiri dan kanan yang saling berhadapan satu sama lain. Relief ini melambangkan rahim seorang wanita dan sosok sebelah kiri melambangkan kejahatan dan sosok sebelah kanan melambangkan kebajikan. (*)

 

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post