Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Pertunjukan Wayang Urban Jadi Pembuka Peringatan 50 Tahun Taman Ismail Marzuki

Pertunjukan Wayang Urban menjadi pembuka peringatan 50 Tahun Taman Ismail Marzuki, Rabu (7/11/2018). (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

Berbeda dengan pertunjukan wayang pada umumnya, Wayang Urban mengkombinasikan cerita wayang dengan musik popular, seperti pop, jazz, dan juga rock agar bisa dekat dan disukai oleh generasi milenial.

JAKARTA-KABARE.ID: Pertunjukan Wayang Urban yang dipimpin oleh dalang Nanang Hape menjadi pembuka gelaran “Bersama Seni, Seni Bersama” dalam ranga 50 Tahun Taman Ismail Marzuki, pada Rabu malam (7/11/2018). Nanang membawakan lakon “Dino Tanpo Tresno” (Hari Tanpa Cinta), yang mengisahkan antara Rama, Shinta, dan Rahwana.

“Wayang Urban adalah cara kita mendongeng. Memperkenalkan cerita wayang dengan cara kekinian agar dilirik generasi milenial,” ujar Nanang Hape.

Ia menjelaskan, banyak anak muda yang mempunya jarak dengan seni pertunjukan wayang. Salah satunya karena durasi pertunjukan yang lama. Belum lagi bahasa penuturan yang tidak dimengerti oleh mereka.

Melalui pendekatan musik popular dan bahasa Indonesia, Nanang bersama timnya ingin berbagi cerita wayang dengan cara yang asik, tetapi tetap dengan isi dan nilai wayang sebagai mestinya.

Nanag Hape dan timnya menampilkan agedan Rahwana menculik Shinta. (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

 

Pertunjukan malam itu dibuka dengan musik jazz yang liriknya menceritakan tentang hari tanpa cinta. Lirik ini menceritakan awal mula cinta bisa dibeli, dimana awalanya orang-orang mencari nasi (kepentingan perut) untuk mengisi tenaga agar dapat bekerja.

Setelah mempunyai tenaga dan dapat bekerja, orientasi manusia kemudian berubah menjadi mencari harta dan kekayaan. Sampai akhirnya tidak ada lagi cinta. Adegan ini menggambarkan bagaimana kesepiannya Shinta tanpa cinta, di mana selama belasan tahun ia ditinggal Rama yang sibuk bekerja.

Pertunjukan juga disisipi puisi cinta Rama kepada Shinta, musik rock yang mengambarkan Rahwana menculik Shinya, musik pop yang menjelaskan alasan Rahwana menculik Shinta, dan adegan di saat Rama hilang akal, yang kemudian melesatkan panah 'saktinya' untuk mengeringkan lautan. Rama juga tega menghilangkan ribuan nyawa demi cintanya kepada Shinta.

“Pertunjukannya asik, baru tahu kalau cerita wayang bisa semenarik ini,” ujar Winda (23) yang hadir malam itu bersama sejumlah temannya.

Usai penampilan Wayang Urban, pertunjukan dilanjutkan dengan penampilan tari topeng Betawi. (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

 

Sebelum pertunjukan ini dimulai, Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Asiantoro mengatakan, peringatan 50 Tahun Taman Ismail Marzuki (TIM) digelar untuk memberikan maanfaat bagi pelaku dan pecinta seni di seluruh Indonesia, khusunya di dalam lingkungan TIM.

“Dimana saat ini berkumpul para seniman. Kedepannya Pemprov DKI akan merevilitasasi TIM agar semua komponen seniman dan ekosistemnya berjalan dagan baik. Sehingga para seniman bisa menghasilkan karya luar biasa,” ujarnya.

Selain pertunjukan Wayang Urban, peringatan 50 Tahun TIM juga dimeriahkan penampilan tari topeng Betawi, tari kecak dan barong, teater Abang None, ketoprak Tobong, Cikini Karnaval, tari silat Betawi, Teater Tanah Air, wayang kulit, dan Wayang Orang Bharata.

Ada juga penampilan musik dari Tohpati, Gugun Blues Shelter, Kunto Aji, Maliq & D’essentials, White Shoes and The Couples Company, serta 35 booth bazar makanan dan kesenian. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post