Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Pertunjukan Pencak Silat oleh Warga Negara Denmark

Warga Denmark menampilkan pencak silat di Indonesian Bazaar and Cultural Day. (dok. KBRI Kopenhagen)

Seorang warga negara Denmark mempelajari pencak silat lebih dari 30 tahun sejak tahun 1988. Kini ia telah memiliki klub pencak silat dan memiliki murid-murid warga Denmark.

DENMARK-KABARE.ID: Martin Sangill, seorang warga negara Denmark, dan team-nya berhasil memukau penduduk setempat saat menampilkan berbagai jurus silat Setia Hati Anoman, di Vitus Berings Plads, yang merupakan alun-alun kota Horsens, Denmark, Sabtu 22 Juni 2019.

Atraksi pencak silat tersebut merupakan bagian dari acara "Indonesian Bazaar and Cultural Day" yang diselenggarakan oleh KBRI Kopenhagen bekerja sama dengan Dini's Restaurant dan masyarakat Indonesia di wilayah Jutland, Denmark.

"Tahun ini kami menampilkan pencak silat yang merupakan warisan budaya Indonesia, namun uniknya didalami oleh warga Denmark," ujar Duta Besar RI untuk Denmark, M. Ibnu Said, seperti dilansir dari keterangan resmi KBRI Kopenhagen, Senin (24/6).

Dalam pertunjukan itu, Martin Sangill dan murid-muridnya menunjukkan kebolehannya dengan menggunakan tongkat dan golok. Setiap jurus yang diatraksikan menimbulkan decak kagum penonton yang juga sibuk merekam adegan dengan telepon pintar mereka.

"Acara seperti ini sangat penting bagi kedua bangsa. Kita dapat saling mengenal dan menperkaya hidup kita dengan budaya lain. Seperti pencak silat sebagai bukti nyata, sebuah warisan budaya Indonesia, tetapi didalami oleh warga Denmark," ujar Wakil Wali Kota Horsens, Peter Sinding Poulsen.

Martin Sangill sendiri telah mempelajari pencak silat lebih dari 30 tahun sejak tahun 1988. Pada tahun 2012 dia membuka klub pencak silat pertama di Denmark dan memiliki murid-murid warga Denmark.

Selain pencak silat, ditampilkan juga berbagai tarian nusantara mulai dari alusi au dari Sumatera Utara, Lancang Kuning dari Riau, Lenggang Nyai dan Nandak dari Jakarta, Jaipong dari Jawa Barat, Tanduk Majeng dari Madura, Tenun dan Condong dari Bali, Gantar dari Kalimantan, hingga tari-tarian dari daerah Timur Indonesia, seperti Poco-poco, Maumere, Tobelo, dan Sajojo.

Berbagai kuliner Indonesia juga diperkenalkan kepada warga setempat, mulai dari bakso, mie ayam, nasi kuning, rendang, masakan Manado, masakan Bali, kupat tahu Bandung, sate, martabak telur hingga mpek-mpek.

Selain itu, berbagai produk makanan Indonesia, seperti kecap, gudeg Bu Tjitro, Sambal Bu Rudi, dan produk-produk PT. Mayora, seperti kopiko, bengbeng dan coffee joy juga laris manis diminati, bukan hanya oleh masyarakat Indonesia tetapi juga warga setempat.

Sebagai kick off pesta rakyat 17 Agustus nanti, festival ini juga dimeriahkan dengan berbagai permainan tradisional, seperti lomba bawa kelereng untuk anak-anak.

Sedangkan bagi orang dewasa ada lomba balap bakiak, memasukkan pulpen ke dalam botol, joged jeruk diiringi dangdut, serta lomba membuat lumpia. Lomba-lomba itu tidak hanya diikuti oleh warga Indonesia, tetapi juga oleh warga setempat.

Sekedar informasi, kota Horsens terletak di pesisir timur wilayah Jutland, Denmark, atau sekitar 200 kilometer dari ibukota Kopenhagen. Kota ini memiliki populasi sebesar 58.646 orang pada tahun 2018. Saat ini terdapat sekitar 800 orang WNI yang menetap di Denmark. (bas)

 

*Foto-foto: dok. KBRI Kopenhagen

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post