Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Persatuan Indonesia Tercabik oleh Pertikaian Berlatar Belakang SARA

Kuliah kebangsaan yang digelar oleh PARA Syndicate di Wisma Antara, Kamis (17/10/2019). (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

Meredupnya khazanah tradisi ke-Indonesia-an membuat masyarakat linglung dalam menghadapi dominasi budaya asing yang akhirnya menyebabkan krisis kebangsaan dan bernegara.

JAKARTA – KABARE.ID: Lembaga kajian kebijakan  independen PARA Syndicate menggelar kuliah kebangsaan untuk mengajak masyarakat kembali bersatu pasca Pemilu 2019.

“Setelah 20 tahun reformasi, ada kecenderungan kita mengalami kemunduran demokrasi, bukan proseduralnya, tetapi kita tidak siap berbeda pendapat dalam pemilu dan sebagainya,” kata Direktur PARA Syndicate, Ari Nurcahyo di Wisma Antara, Kamis (17/10/2019).

Menurutnya, cara-cara berdemokrasi belakangan ini, malah merusak sistem demokrasi yang telah dibangun. Apalagi pasca Pemilu marak ditemukan politisasi agama, isu-isu identitas, dan paparan radikalisme.

Ia menambahakan, persatuan Indonesia sedang tercabik-cabik oleh pertikaian berlatar belakang SARA (suku, agama, ras, antara-golongan) dan permusuhan yang berlarut-larut akibat politik elektoral.

Hal ini diperparah dengan meredupnya khazanah tradisi ke-Indonesia-an, sehingga masyarakat linglung dalam menghadapi dominasi budaya asing yang akhirnya menyebabkan krisis kebangsaan dan bernegara.

“Oleh karena itu kita menghadirkan budayawan, tokoh agama untuk memberikan kuliah kebangsaan. Menunjukkan kepada masyarakat bahwa identitas dan agama itu saling mengokohkan, bukan malah memecah-belah,” ujarnya.

Dalam acara itu, PARA Sydicate menghadirkan Budayawan Sobary untuk menarasikan dongeng budaya, serta Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar dan Romo Kardinal Uskup Agung Ignasius Suharyo untuk memberikan kuliah umum.  (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post