Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
BISNIS

Perlu Lembaga Resmi untuk Diaspora Indonesia

Chairman of Indonesia Diaspora Network

Penggagas Indonesian Diaspora Network (IDN), Dino Patti Djalal, memaparkan pentingnya mewadahi diaspora Indonesia. Orang Indonesia di luar negeri sekitar 6 juta. Mereka sangat peduli dengan Tanah Air. Dalam waktu dekat, IDN akan menggelar Indonesian Diaspora Business Forum di Jakarta.

Jakarta – Saat ini, hanya ada satu meja di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia untuk mengurus diaspora Indonesia. Menurut Dino Patti Djalal, itu tidak cukup. Paling tidak harus ada satu organisasi di pemerintahan yang fokus terhadap mereka yang saat ini sekitar 6 juta orang.

Mereka memiliki beragam profesi dan pekerjaan. Ada pengusaha, pekerja seni, budaya, arsitek dan sebagainya. Mereka sangat peduli dengan perkembangan Tanah Air, tetapi tidak begitu tertarik pada politik. Demikian kutipan wawancara Dino Patti Djalal bersama La Ode Idris dan Dhodi S, fotografer majalah Kabare pada Kamis (29/9).

 

Bagaimana terbentuknya IDN?

Kongres diaspora pertama di Los Angeles pada Juli 2012. Setelah itu, banyak organisasi diaspora di berbagai kota dan negara.  Tumbuh sekitar 65 lebih organisasi diaspora Indonesia.

Setelah itu, apa yang ingin dikerjakan dalam waktu dekat ini?

Sekarang kami ingin galakan adalah konten pengusahanya, konten bisnisnya. Selama ini banyak konten mengenai filantropis, pendidikan,  beasiswa, budaya dan sebagainya.

Kami ingin tingkatkan sinergi pengusaha Indonesia di luar negeri dengan di Tanah Air. Jadi pada 10 Oktober mendatang adalah pertemuan pertama yang bernama Indonesiaan Diaspora Business Forum (IDBF). Kami ingin menggali pandangan mereka untuk meningkatkan kerjasama bisnis.

Sudah berapa banyak yang ikut?

Kami tidak menargetkan banyak-banyak. Biasanya kalau terlalu ambisius malah tidak jalan. Yang penting walaupun kecil tetapi berbobot dan bisa menghasilkan sinergi.

Ide mendirikan IDN seperti apa?  

Pertama, banyak orang Indonesia di luar negeri. Tetapi mereka umumnya di bawah “radar” (tidak terjamah oleh kebijakan pemerintah). Mereka tidak terkoneksi satu dengan lainnya, tidak saling mengenal. Misalnya, diaspora di Atlanta tidak kenal dengan yang di San Francisco, Tokyo dan sebagainya.

Melihat ini saya terdorong untuk menggagas Kongres Diaspora Indonesia. Tujuannya mempertemukan mereka dan membangkitkan ke-Indonesia-an mereka.

Bagaimana responnya waktu itu?

Bagus. Ada sekitar 2000 orang yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Apakah di seluruh dunia ada IDN?

Tidak seluruh dunia. Tetapi sudah ada 65 cabang di sekitar 35 negara.

Pertemuan 10 Oktober di Jakarta ini bekerjasama dengan lembaga atau asosiasi apa?

Kami sedang merintis. Di Indonesia saat ini belum ada lembaga yang menangani diaspora, sangat lemah dari segi strukturalnya. Jadi kami ingin, pemerintah membentuk suatu badan nasional yang menangani diaspora. Bentuknya seperti apa, terserah.

Lembaga pemerintah resmi belum ada yang menangani diaspora?

Belum ada. Hanya ada satu meja di Kementerian Luar Negeri RI, dan itu sama sekali tidak memadai.

Menurut Anda harus ada?

Harus ada. Karena 6 juta orang diaspora Indonesia harus ada yang kelola. Tidak mungkin hanya satu meja yang nampung aspirasi mereka.

Apa harapan Anda untuk acara 10 Oktober?

Harapan saya sederhana saja. Kegiatan bisnis antara diaspora dengan yang di Tanah Air meningkat, saling membantu, dan win win.

Apakah dengan adanya IDN semakin meningkatkan kepedulain mereka terhadap Indonesia?

Cintah Tanah Air dan kepedulian mereka sudah tinggi. Cuma sinerginya yang masih kurang. Itu yang akan kami tumbuhkan.

Bagaimana pandagan diaspora terhadap perkembangan di Tanah Air?

Mereka optimistik terhadap perkembangan ekonomi di Indonesia.

Politik juga termasuk?

Umumnya mereka tidak tertarik politik. Mereka umumnya tertarik dengan bidang ekonomi, sosial dan budaya.

Editor: La Ode Idris/Fotografer: Dhodi Syailendra

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post