Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Perlu Kreativitas Baru untuk Mengembangkan Cerita dan Budaya Panji

Cerita Panji yang diaplikasikan pada topeng. (Instagram/nidanatsir)

Tidak perlu takut mendobrak pakem cerita Panji yang sudah ada, agar cerita dan budaya Panji bisa hidup sesuai "zaman now".

JAKARTA - KABARE.ID : Cerita Panji  lahir sebelum abad ke-14, pada masa Kerajaan Kediri di Jawa Timur, dengan tokoh utama Raden Panji Inu Kertapati dan Dewi Candrakirana. Seiring waktu sampai saat ini telah menyebar ke Jawa, Bali, Lombok, Kalimantan, hingga  ke Malaysia, Thailand, Myanmar, Kamboja, Laos dan Vietnam menjadi berbagai versi.

Semula berbentuk sastra lisan, kemudian berkembang menjadi  seni rupa (relief, candi, lukisan, kriya, kartun,dll.), pertunjukan (tari, teater, wayang dan topeng), dan naskah tulis tangan maupun cetak (sekar/tembang : macapat dan kidung;  sastra : puisi, cerpen dan novel).

Cerita Panji yang disebut oleh Andrian Vickers sebagai "Sebuah civilization Panji/Inao di Asia Tenggara",  di mata para pengamat sebagai simbol romantisme, pemberontakan, keselarasan dan duta budaya. Selain penuh variasi, keberadaan naskah Panji di sejumlah koleksi internasional, terdiri dari sejumlah bahasa dari zaman ke zaman.  Akhirnya, oleh UNESCO ditetapkan sebagai Memory of the World (ingatan Dunia), pada tanggal 30 Oktober 2017.

Dalam konteks Indonesia, bagaimana kehidupan cerita Panji tersebut agar laras dengan "zaman now" -- yang global, dominan media sosial, selera populer Barat --  sangat ditentukan oleh "kreativitas" para pemangku kepentingan. Salah satu kreativitas dimaksud adalah berani menghasilkan bentuk dan isi cerita-cerita Panji yang baru, yang bisa menarik minat masyarakat dan "nyambung" dengan keadaan sekarang.

Hal ini merupakan salah satu simpulan yang bisa ditarik dari Seminar Internasional Pelestarian Naskah Panji/Inao, yang digelar oleh dan di Perpusatakaan Nasional Republik Indonesia, Jl. Merdeka Selatan No 11 Jakarta Pusat, selama dua hari, Selasa-Rabu (10-11/7/2018).

Menampilkan pembicara dari Indonesia: Dr Karsono H Saputro, Prof.Dr. Agus Aris Munandar, Drs. Henry Nurcahyo, Prof. Dr. I Made Bandem dan Dr. Tedi Permadi. Sedangkan pembicara dari luar negeri : Dr Roger Tol (Amsterdam), Dr. Theniraat Jatutsari (Thailand), Prof. Dr. Nooriah Mohamed (Malaysia) dan Dr. Lidya Kieven (Jerman).

Pada acara pembukaannya dihadiri antara lain oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof.Ing. Wardiman Djojonegoro yang menjadi inisiator festival Panji, Direktur Kesenian Restu Gunawan yang membuka seminar ini. Diikuti oleh 200-an peserta terdiri dari dosen, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, guru sejarah, peneliti budaya dan sastra Panji, media, komunitas  perwakilan KITLV, British Library, hingga Atase Kebudayaan Negara Malaysia, Thailand, Kamboja, Belanda dan Inggris.

Kegiatan seminar ini merupakan salah satu bagian puncak dari Festival Panji Internasional 2018, yang digelar Kemdikbud dengan mitranya, di 8 kota : Denpasar, Surabaya, Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Yogyakarta dan Jakarta), dalam bentuk seminar, seni tari dan pameran,  diselenggarakan sejak  1 -30 Juli 2018.

Keterputusan dan Keterasingan

Dramatari "Ma Panji Kesatria Pinilih". (Instagram/kusumoharyo)

 

Filolog Karsono Hadi Saputro dari Fakultas Ilmu Pengetahun Budaya Universitas Indonesia (UI), meminta kita untuk jujur mengakui bahwa sampai hari ini, hanya sebagian kecil orang Indonesia yang mengenal baik cerita dan budaya Panji. Mereka itu generasi tua. Sedang generasi muda dan anak-anak banyak yang terasing dengan cerita Panji.

"Keterasingan cerita Panji sesungguhnya hanya merupakan sebagian puncak gunung es keterasingan orang Indonesia terhadap budaya dan budaya tradisional sebagai akibat 'keterputusan' intelektual' adat nenek moyang," ucapnya.

Keterputusan tersebut, tandasnya, diakibatkan oleh dua hal besar. Pertama, pewarisan yang tidak bersinambung, karena nenek moyang kita menganggap anak cucu harus "tahu dengan sendirinya" segala ilmu pengetahuan dan adat. Kedua, tawaran sistem nilai dan budaya baru. Dijelaskan, revolusi teknologi komunikasi yang sangat cepat belakangan ini, berdampak pada hilangnya jarak ruang dan waktu. Hal ini berakibat derasnya informasi dari mancanegara yang bermuatan segala macam unsur kebudayaan, yang jauh "lebih menarik" bagi generasi masa kini atau zaman now, dibanding dengan budaya tradisional yang cenderung "beku". Ditambah lagi ketiadaan "penyaring" masuknya unsur-unsur budaya mancanegara tersebut.

Dalam situasi keterputusan dan keterasingan tersebut, Karsono memberikan apresiasi terhadap berbagai pihak yang telah berupaya melakukan pelestarian dan pengembangan cerita dan budaya Panji. Sebagai contoh Kemdikbud menerbitkan buku dongeng dengan muatan cerita Panji untuk bacaan wajib siswa SD dan SMP, dan menerbitkan teks-teks Panji yang sudah dialihaksarakan  sebagai bacaan umum. Ia merindukan adanya cerita Panji  yang dikemas menjadi kebudayaan modern atau populer, misalnya film yang digarap oleh sineas berkelas agar mendunia.

"Pemaknaan kembali nilai-nilai cerita Panji harus dilakukan oleh para ilmuwan dan peneliti untuk mengangkat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dan kemudian memaknainya sesuai dengan zamannya," tandasnya. (ysh)

Yusuf Susilo Hartono

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post