Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Pengamat: Jangan Asal Kritik, Indonesia Punya Budaya Kritik yang Baik

Ilustrasi: seorang warga negara yang sedang melakukan protes terhadap kebijakan pemerintah. (IST)

Jika hendak mengkritik kebijakan pemerintah mestinya dilakukan dengan cara yang santun dan elegan. Mengkritik boleh, tapi melukai perasaan orang lain itu yang tidak boleh.

JAKARTA – KABARE.ID: Kritikan Ade Armando kepada Gubernur DKI Anies Baswedan dinilai pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin tidak etis. Pasalnya, Ade mengunggah wajah Anies menjadi karakter fiktif Joker dan menambahkan caption "Gubernur jahat berawal dari Menteri yang dipecat" ke media sosial miliknya.

Menurut Ujang, jika Ade hendak mengkritik kebijakan Anies Baswedan mestinya dilakukan dengan cara yang santun dan elegan.

"Mengkritik itu apanya? iya kritik kebijakannya. Jadi kesalahan kebijakan itu harus kita kritik, sekeras apapun kritik itu. Tapi jika sudah berbicara personal atau pribadi, itu yang tidak kita inginkan yang tidak kita mau," kata Ujang, dikutip Kabare dari teropongsenayan.com, Kamis (7/11/2019).

Menurut Ujang, apa yang dilakukan oleh Ade Armando tidak tepat, karena konteksnya menyerang pribadi, bukan melontarkan kritikan. Karena itu, Ujang menganggap, wajar bila anggota DPD RI Fahira Idris melaporkan Ade Armando ke Polda Metro Jaya atas dugaan pembunuhan karakter melaui media sosial.

"Karena sifatnya sudah masuk kategori personal, pribadi berdasarkan cuitan Gubernur jahat berawal dari Menteri yang dipecat. Menurut saya kata-kata itu tendensius, mengatakan orang jahat, gubernur jahat, itu kan sudah kelihatan tendensiusnya," terangnya.

Ujang menggarisbawahi, dalam mengkritik juga ada kaidah yang harus dikedepankan, salah satunya adalah kesopanan dalam mengkritik. "Kita itu kan bangsa yang beradab, bangsa beretika, tentu nilai nilai kekayaan etika dan budaya seperti kesopanan, kesantunan dalam bertutur atau dalam berkomentar itu penting harus dijaga,” kata Ujang.

“Tidak boleh kita berkomentar dan menyuarakan pendapat yang menyinggung atau melukai orang lain. Yang boleh adalah mengkritik," ucapnya. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post