Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Pendidikan

Pembentukan Kepercayaan Diri Anak Dimulai dari Keluarga

Ilustrasi: Ayah mengajak anak memandang dunia. (Pixabay)

Banyak anak-anak atau bahkan orang dewasa sebenarnya mampu mengerjakan sesuatu, tetapi tidak percaya diri melakukannya. Karena tidak percaya diri inilah kemudian tersugesti tidak berani melakukan hal itu.

JAKARTA-KABARE.ID: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, pembentukan karakter anak untuk kepercayaan diri dimulai dari pendidikan keluarga.  

“Kita punya problem sebetulnya untuk di Indonesia ini, karena pembentukan karakter percaya dirinya kurang, jadi banyak tradisi yang kita warisi itu membuat kita menjadi kurang percaya diri," ungkap Mendikbud dalam keterangan resmi yang dikutip Kabare.id, Selasa (27/11/2018).

Menurut Mendikbud banyak tradisi budaya dalam keluarga yang justru berperan menumbuhkan rasa tidak percaya diri dalam diri sang anak.

“Misalnya ada tamu saya ikut nimbrung gitu, ketika tamunya pulang saya dicubit oleh ibu saya karena tidak sopan".

"Kemudian makan juga gitu, kalau diajak pergi makanan saya habis, itu enggak boleh, kata ibu saya itu tidak menunjukkan bentuk keperwiraan. Jadi, harus disisakan sedikit". 

"Hal-hal seperti ini sangat terkontrol yang menurut saya kadang-kadang membuat kita jadi kurang percaya diri," kata Mendikbud.

Oleh karena itu ia menekankan ada 5C yang harus dibangun untuk membentuk karakter anak bangsa, yakni Critical Thinking, Creativity and Innovation, Communication Skill, Collaboration dan Confidence.

"Confidence ini tidak kalah penting dari 4C yang ada. Karena confidence inilah yang kemudian menumbuhkan yang namanya self efficacy atau efikasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, efikasi akan mendorong orang untuk bisa bekerja keras hingga mampu, meskipun tadinya ia tidak mampu.

Menurut Mendikbud, banyak orang yang tidak percaya diri bahwa ia mampu, padahal sebenarnya ia mampu. “Lebih baik percaya diri mampu walaupun sebenarnya tidak mampu, daripada sebetulnya mampu tapi kita tidak percaya kalau kita mampu,” katanya.

Mendikbud menuturkan, menurut beberapa riset, self efficacy pada siswa kurang. Jadi sebetulnya mereka mampu, tapi tidak merasa bisa. Karena tidak merasa bisa, kemudian tersugesti tidak ada keberanian untuk melakukan. "Jadi antara kemampuan dan perasaan mampu itu harus sinkron," tandas Mendikbud. (bas)
 

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post