Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Patung Ismail Marzuki Dipindah Paksa, Toko Buku Jose Terancam Cafe

Gubernur DKI Anis Baswedan meninjau patung Ismail Marzuki (1984) karya Arsono (depan) yang dipindah paksa ke Teater Besar. (Foto: ysh)

Pematung Arsono resah karena karyanya patung Ismail Marzuki sebagai landmark TIM dipindah paksa ke depan Teater Besar. Sementara itu Jose Rizal Manua resah, karena toko bukunya terancam dijadikan cafe.

JAKARTA-KABARE.ID :  Sebelum meninggalkan TIM, di Jl. Cikini Raya 73 Jakarta Pusat, usai “ngobrol” dengan beberapa dedengkot TIM, Jumat (12/1) malam, Gubernur Anies Baswedan menyempatkan jalan kaki ke Teater Besar, melihat langsung patung Ismail Marzuki setelah dipindah paksa 7 Oktober lalu. Turut mendampingi, Arsono, pematung yang membuat patung itu, aktor Jose Rizal Manua, Arie Batubara dan pelukis Hidayat LPD yang mengenakan tongkat pasca kecelakaan ditabrak motor tahun lalu.

Cukup lama Gubernur melihat-lihat dan mengapresiasi patung dada musisi Betawi Ismail Marzuki, yang dibuat Arsono 1984, yang sejak tahun itu bertengger di taman bagian depan dekat pintu gerbang, sebagai landmark (penanda, tengara) PKJ TIM. Namun, patung dari bahan perunggu itu, sejak 7 Oktober 2017 dipindah paksa ke depan Teater Besar. Menjawab Anies, Arsono menjelaskan bahwa patung dada Ismail Marzuki ini, usianya seumuran dengan patung-patung lain yang ia buat pada masa itu, seperti patung dada Chairil Anwar dan Patung M. Hoesni Thamrin di Monas, dan patung Sam Ratulangi di Gedung Kris, Menteng. 

Di mata Arsono, patungnya yang kini berusia 34 tahun tersebut, di tempatnya yang baru, telah kehilangan makna dan peran utamanya selama ini, yaitu sebagai landmark (penanda) seluruh kawasan PKJ-TIM. “Kini perannya jadi kerdil, sekedar bagian dari Gedung Teater Besar saja,” ungkapnya resah.

Patung yang diberi tanda IM di bagian depan dan nama dirinya dan tahun 1984 di bagian belakang, dibuat atas pesanan Bang Ali Sadikin, pada saat dirinya menjadi pengurus Dewan Kesenian Jakarta, duduk di Komite Seni Rupa. Semula modelnya ia bikin dari tanah liat, kemudian dicetak perunggu oleh Ignatius Gardono, Yogyakarta.

Sebagai seniman yang membuat patung tersebut, Arsono merasa kecewa dan penasaran. Pertama, karena sama sekali tidak ada penjelasan resmi dari pihak TIM kepada publik seputar alasan pemindahan itu. Kedua, peletakannya patung itu saat ini “menceng”, juga tanpa penjelasan mengapa dibuat demikian. Oleh karena itu Arsono minta bantuan Gubernur Anies untuk mengembalikan ke tempat semula sebagai landmark PKJ TIM. “Biar Gubernur yang akan mengembalikan pada tempatnya semula Mas Arsono,” kata Arsono menirukan Anies.

Pematung Arsono menuntut agar karya patungnya Ismail Marzuki dikembalikan jadi landmark ke tempat semula. (Foto: ysh)

 

Menurut saksi mata, Cak Kacung, pemain teater asal Surabaya yang “bermarkas” di TIM, pembongkaran dan pemasangan itu dilakukan oleh sejumlah tukang secara terburu-buru. Ketika ia bertanya siapa yang menyuruh, tidak ada yang mengaku. Ketika ia tanya ke TIM, DKJ dan AJ diperoleh jawaban yang sama, tidak tahu. Begitu ia merekam dengan telpon pintarnya prosesi pemasangan patung itu di tempatnya yang baru, para tukangnya berlarian sembunyi. Ia tambah tidak paham ada apa di balik pemindahan ini sebenarnya. Belakangan Cak Kacung  tahu, bahwa pemindahan patung Ismail Marzuki ke situ, menjadi bagian dari penataan plaza, yang akan diresmikan Gubernur DKI Djarot Syaiful Hidayat  sebelum serah terima dengan Anies Baswedan.

Kini penataan plaza itu dikecam banyak seniman dan pecinta TIM, sebagai perusakan plaza, terutama dengan adanya deretan tiang pancang mulai dari samping Planetarium hingga depan Institut Kesenian Jakarta. Deretan itu (belum jelas untuk apa) membelah TIM jadi dua : TIM timur dan TIM barat.  

 

Toko Buku Mau Digusur Jadi Café 

Toko Buku Jose Rizal Manua di pojok GBB terancam jadi cafe. (Foto: ysh)

 

Sementara itu Jose Rizal Manua, dalam kapasitas sebagai pemilik Toko Buku di pojok Graha Bhakti Budaya, juga melaporkan pada Anies bahwa toko bukunya yang dikelola atas ijin Gubernur Suryadi pada waktu itu, telah diminta pindah oleh pihak UPT-TIM. Alasannya, tempat itu akan dijadikan café. Kepada Anis, ia tetap menolak, meskipun pindahnya masih tetap dilingkungan TIM. Baginya toko buku sebagai sumber ilmu pengetauan dan makanan jiwa, tak kalah pentingnya dengan Café untuk makanan fisik, sedangkan toko buku ini untuk makanan batin. Anies tersenyum, dan setuju sumber pengetahuan ini tetap ada di tempatnya selama ini.

 

 

Yusuf Susilo Hartono

Yusuf Susilo Hartono

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post