Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Pameran Warna Dalam Gua: Memasuki Dunia Kreativitas Sesuka Hati

Foto: dok. Museum Macan

Melalui pameran seni ini, seniman mengajak pengunjung untuk masuki dunia kreativitas - cat dan warna, sesuka hati.

JAKARTA – KABARE.ID: Sejarah seni dimulai narasinya di gua. Buktinya bisa kita lihat dari gambar-gambar tangan atau kawanan binatang serta tanda-tanda yang lebih abstrak. Selain sebagai tempat untuk meninggalkan pola dan warnanya sendiri, gua-gua adalah tempat berlindung.

Mit Jai Inn, seniman dari Thailand mencoba mengangat tema “Warna Dalam Gua” atau Color in Cave untuk mengeksplorasi ide-ide tentang rumah dan awal kehidupan. Karya seni yang ditampilkan dalam bentuk instalasi ini dipamerkan di Museum Macan hingga Maret 2020.

“Gua – gua adalah ruang hangat di mana kita bisa mengapung bebas - tempat di mana kita dapat mengembangkan persepsi dan sensasi yang kuat dari lingkungan kita dan dunia luar,” ujar Mit Jai Inn dalam keterangan resmi yang dikutip Kabare, Selasa (21/1/2020).

Pameran instalasi ini secara khusus ditujukan Mit Jai Inn, untuk anak-anak. Seniman mengundang para pengunjung untuk masuk, untuk mengekspresikan diri secara bebas melalui kegiatan mencampur warna, menempel dan menyusun bentuk, melukis di dinding gua dan batu-batu lunak, menulis dengan fosil warna, menambah tanda orang lain dan membaca pesan khusus dari seniman.

Dalam praktiknya sendiri, Mit tertarik ketika sebuah lukisan menjadi lebih dari sekadar melukis - ketika melukis dapat memfasilitasi kesadaran akan lingkungan bersama. Dia juga tertarik ketika tindakan mempersepsikan warna bukan tentang mata, melainkan tentang merasakan kesadaran cahaya, sinarnya dan getarannya.

Mit Jai Inn lahir pada tahun 1960 di Chiang Mai, Thailand. Dia belajar di Universitas Silpakorn, Bangkok dan Akademi Seni Wina sambil bekerja sebagai asisten seniman Franz West.

Lukisan-lukisannya tidak terbentang dan tidak dibingkai, berwarna cerah, sebagian besar karya dua sisi yang dapat disentuh yang menghiasi galeri tetapi juga ruang publik, taksi, apartemen pribadi, dan yang sering ia gunakan sebagai mata uang perdagangan.

Sejak kembali ke Thailand pada tahun 1992, Mit telah terlibat dalam inisiatif seni yang terlibat secara sosial dan politik. Dia adalah salah satu pendiri Instalasi Sosial Chiang Mai dan terlibat dalam Midnight University dan The Land Foundation.

Dia telah berpartisipasi dalam berbagai pameran, termasuk Biennale ke-21 Sydney, Australia, SUNSHOWER: Seni Kontemporer di Asia Tenggara dari 1980-an hingga hari ini di Mori Art Museum, Tokyo, dan lainnya. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post