Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Pameran Sketsa Daring “Move on”: Menyeruakan Kebebasan, Kebenaran dan Kemanusiaan

Sketsa berjudul "Korona Merah Hati" karya YSH yang dipamerkan dalam pameran daring "Move On". (Foto: tangkap layar katalog daring pameran Move On)

Melalui 70-an sketsa dengan “subject matter” perempuan, Yusuf Susilo Hartono ingin menyeruakan kebebasan, tradisi, kasih sayang, kebenaran dan kemanusiaan dalam pameran daring bertajuk “Move On”.

JAKARTA – KABARE.ID: Di tegah pandemi korona Covid-19, banyak tempat umum ditutup demi menekan penyebaran virus. Tidak terkecuali galeri seni sebagai tempat pameran bagi para seniman.

Melihat kondisi itu, sejumlah seniman pun menggelar pameran daring, salah satunya adalah Yusuf Susilo Hartono (YSH) yang menampilkan pameran sketsa daring bertajuk “Move on”.

Pameran ini digelar via aplikasi Zoom pada 15 Mei 2020 lalu, namun penikmat seni masih bisa melihat karya YSH di channel Youtube – Galeri YSH.

Melalui 70-an sketsa dengan subject matter perempuan, YSH ingin menyeruakan kebebasan, tradisi, kasih sayang, kebenaran dan kemanusiaan.

Kurator pameran ini, Citra Smara Dewi, yang sehari hari menjadi Dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan seorang Kurator Galeri Nasional Indonesia menyebut bahwa hal meraik dari karya sketsa YSH adalah sosok perempuan yang mendominasi karya – karyanya.

“Perempuan dalam karya YSH bukan semata memiliki spirit keindahan, namun juga memiliki spirit cinta kasih yang tulus melalui karya ibu dan anak,” ujar Smara Dewi, dikutip Kabare dari katalog pameran.

Merespon fenomena wabah Covid-19, YSH memilih pendekatan spiritual dalam meyikapi fenomena tersebut, yaitu melalui sosok perempuan dalam doa yang khusuk mengharap wabah cepat berlalu.

Setiap seniman memiliki pandangan dan pertimbangan sendiri, “perempuan menurut saya tidak identik dengan stigma sebagai “yang lemah”, namun sebaliknya sebagai makhluk yang lebih kuat, indah dan istimewa,” demikian YSH berujar.

Perinsip berkarya YSH yang mengangkat tema perempuam dapat dilihat melalui 70 karya sketsa pada pameran ini, dengan mengkritisi berbagai pereistiwa sosial, budaya dan kemanusiaan sejak era 2000an hingga 2020.

 

Sekilas tentang pameran “Move On”

Segmen kebebasan, sebagai pembuka “Move On”, YSH menampilkan sketsa-sketsa ballerina, dengan gesture dinamis, diihlami pertunjukan balet Sumber Cipta, Namarina, dll.

Disusul segmen tradisi dan kasih sayang yang digambarkan dalam sketsa-sketsa berbasis tradisi kekodratan, seni budaya Jawa, metropolitan, termasuk di dalamnya pertunjukan “Gallery of Kisses” EKI Dance Company.

Segmen kebenaran disajikan dalam sketsa diihlami pertunjukan kelompok tari Padneswara: “Dewabrata”, “Abimanyu Gugur”, dan “Kurawa – Pandawa Tanding”, dipuncaki dengan segmen sketsa – sketsa tentang wabah korona.

YSH menggarap karya – karya ini dengan beragam medium. Mulai dari tinta, akrilik, oil pastel, soft pastel, charcoal, tanah toraja, sampai kopi pada kertas dan kanvas, berbagai ukuran. Semua karya itu dibuat dari tahun 2002 – 2020. Khusus untuk medium kopi, ia melakukan eksplorasi sejak tahun 2002, dan sampai sekarang warnanya bertahan.

“Pameran ini merupakan bentuk solidaritas atas penanganan wabah secara gotong royong, serta doa kepada Allah agar manusia dapat diselamatkan; dengan kesadaran dan cara baru yang lebih manusiawi dan berkeillahian,” ujar YSH.

Pameran ini terselengga atas dukungan Direktorat Jenderal Kebudayaan, melalui platform @budayasaya yang selama pandemi memberikan ajang ekspresi kesenian, kebudayaan dan edukasi seni budaya.

 

Testimoni para seniman

Pameran daring “Move on” mendapat beragam komentar positif dari para sahabat YSH yang juga berprofesi sebagai seniman, penulis buku, dan juga dosen IKJ.

Dr. Nungki Kusumastuti, Dosen IKJ yang juga berprofesi sebagai penari misalnya memberi catatan bahwa karya YSH memiliki “rasa” dan bukan sekedar keterampilan biasa.

“Keindahan tari yang jamaknya menyemburat dari panggung, oleh Yusuf Susilo Hartono ditampung di steksa. Dua dimensi berbeda. Dalam seni tari yang saya tekuni, gerak didorong oleh rasa. Tanpa rasa, yang muncul henyalah keterampilan. Dalam karya sketsanya, Yusuf pun tentu juga tidak sekedar keterampilan. Goresannya menjalar dipantik oleh rasa. Di situ kami berada pada dimensi yang sama: rasa”.

Tidak hanya Nungki, Maya Tamara Lrad – Arad, Principal / Artistic Director Namarina Dance Academy juga memberikan catatan menarik bagi karya YSH kali ini.

“Karya penuh ekspresi ini menjadi suatu kesatuan sketsa tangan yang tajam namun lentur. Gerakan tubuh penari yang gemulai seakan percikan – percikan api,” ujarnya.

Sementara Agus Dermawan, penulis buku – buku budaya dan seni menyebut YSH sebagai orang dengan multi minat multi bisa.

“Gambar – gambar Yusuf Susilo Hartono selalu menyakinkan saya atas dirinya yang multi bisa dan multi minat. Ia melukis, membuat drawing dan menggoreskan sketsa dengan apik. Semua itu sejalan dengan dunia penulisannya yang juga bisa lari ke mana-mana. Ia ahli menulis berita, cerita, esai, feature, bahkan puisi dalam Bahasa Indonesia dan Jawa. Kemampuan ini menunjukkan spiritnya yang sangat merdeka. Dan itu, bagi saya: istimewa”.

 

Biodata YSH   

Mantan guru yang pernah kuliah di FKIP – IKIP ini dikenal sebagai perupa, wartawan budaya senior dan penyair. Ia mulai berkarya sejak 1980 melalui jalur sanggar.

Sampai sekarang mantan Pemred Majalah Seni Rupa Visual Art, yang kini mengelola Majalah Galeri, pernah beberapa kali pameran tunggal antara lain di Balai Budaya (1990), dan Pameran Sketsa Keliling 3 kota: Jakarta, Bojonegoro, Surabaya (2012).

Pameran bersamanya yang pernah diikuti antara lain bersama Daod Joesoef, Ruliati dkk (1993), “Manifesto” (2010), “Bayang” (2011), “Sketsaforia” (2019). Tahun 2000 menjadi Finalis Philip Morris Indonesia Art Awards, dan tahun 2001 finalis Indofood Art Award.

Di antara buku – bukunya tentang seni rupa, sastra dan jurnalistik, berjudul “Menangkap Momen dan Memaknai Essensi (Moment and Essence)”, merupakan kumpulan 300 sketsa pilihan tahun 1982 – 2013, terbit tahun 2013. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post