Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Pameran Exi(s)t 2018 Kulik Aspek Kesejarahan di Indonesia

Pameran exi(s)t kembali diselenggarakan untuk yang ke-7 kalinya di dia.lo.gue artspace, Jakarta, pada 6 Desember 2018 – 13 Januari 2019.

JAKARTA-KABARE.ID: Sebagai acara tahunan, program ini bertujuan untuk memberi kesempatan bagi para seniman muda yang berbasis di Jakarta untuk berpartisipasi dalam rangkaian lokakarya, diskusi, dan pameran dengan suatu tema kuratorial yang khusus.

Dalam keterangan resmi yang diterima Kabare.id, Jumat (7/12), tahun ini, exi(s)t mengundang Evelyn Huang dan Stella Katherine, dosen dan kurator dari Jakarta, untuk berperan sebagai kurator. Para seniman yang terlibat adalah: Alexandra Karyn, Aziz Amri, Ella Wijt, Rummana Yamanie, Semburat, Sherchle, Tandika Cendrawan, dan Yovista Ahtajida.

Tema besar untuk program exi(s)t tahun ini adalah mengulik aspek kesejarahan dalam rentang interpretasi artistik seluas-luasnya. Peristiwa sejarah yang epik, mitos, tradisi lisan, narasi personal dan politisasi sejarah merupakan sebagian topik yang ditanggapi oleh para seniman muda dalam program ini.

“Pameran ini berusaha menangkap dan sekaligus menampilkan sejarah melalui kacamata anak muda. Walaupun tidak bermaksud mengumbar kekinian yang menjadi salah satu kata kunci populer di generasi milenial dan gen Z, tidak dapat dipungkiri bahwa penonton akan menangkap bagaimana suatu generasi memandang fragmen-fragmen sejarah yang bermakna bagi diri mereka melalui pameran ini,” tulis keterangan tersebut.

Pada tahap awal, tim kuratorial yang terdiri dari Evelyn Huang dan Stella Katherine memberikan esai singkat mengenai sejarah alternatif sebagai pemantik eksplorasi yang akan dilakukan oleh para seniman terkait dengan minat dan ideologi mereka.

Baca juga: Barongsai Meriahkan Kongres Kebudayaan Indonesia

Serangkaian lokakarya dan diskusi intensif dari pembicara yang diundang memberikan pemaparan akan sejarah dari berbagai perspektif.

Timoteus Anggawan Kusno, seniman yang kerap menghadirkan tema sejarah fiktif; Victoria Tunggono, penulis fiksi yang tertarik dengan okultisme Jawa; Lilawati Kurnia, yang berprofesi sebagai dosen kajian budaya; dan Saleh Husein, seniman yang akhir-akhir ini berkarya dengan tema sejarah personal, kesemuanya membawa seniman dalam diskusi yang membaurkan batas antara mitos, fakta, dan iman.

Setelah proses kuratorial selama 5 bulan, para seniman merampungkan ide mereka dalam karya sebagai berikut: Alexandra Karyn bertolak dari jargon “sejarah adalah sekarang” dalam bingkai media koran; Aziz Amri menampilkan performans yang merefleksikan relasi antara manusia sebagai obyek dengan penonton yang terinspirasi dari keadaan di masa kolonial.

Kemudian, Ella Wijt menghadirkan jagat paralel berdasarkan sejarah lisan dan temuannya di situs yang personal baginya; Rummana Yamanie mengolah temuannya akan sosok perempuan yang multi peran lewat performans; Semburat menggunakan strategi visual yang dipakai oleh grup Stamboel di masa lampau ke dalam konsep sinema yang menjadi kekhasan mereka.

Serta, Sherchle tertarik pada zaman keemasan kerajaan di bumi nusantara melalui serangkaian ilustrasi; Tandika Cendrawan menelusuri memori kolektif sebuah marga Tionghoa melalui dokumentasi mixed media; dan Yovista Ahtajida mengkritisi komodifikasi agama dalam kurun waktu tertentu melalui karya instalasi. (rls/bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post