Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Pameran Darkness is White: Antara Keindahan dan Kekuatan Jiwa

Seorang pengunjung sedang melihat detail lukisan karya Lempad. (foto: dok. Salihara)

Yayasan Bali Purnati dan Komunitas Salihara menyelenggarakan pameran multimedia karya Lempad, pembaharu seni lukis tradisional Bali. Pameran yang diadakan di Komunitas Salihara, Jakarta itu diselenggarakan dengan mengandeng WIR Group dan mengangkat tema: Darkness is White.

JAKARTA-KABARE.ID: Selain pameran lukisan konvensional dan pemutaran film Lempad karya John Darling, pameran ini juga menggandeng perusahaan technology digital reality yang akan menyajikan multimedia berupa video mapping dan augmented reality (AR), sebuah teknologi yang dapat menyatukan antara dunia nyata dengan dunia digital.

Dengan teknologi itu, diharapkan pameran ini bisa dinikmati tak hanya pecinta seni di lingkaran yang sudah ada seperti pelukis, dosen, dan kurator, tetapi juga kalangan anak muda, generasi milenial dan audiens yang lebih luas lainnya.

Gagasan besar dari pameran multimedia adalah "masuk ke pikiran Lempad", yang melibatkan tiga indera manusia utama (pendengaran, penciuman, dan penglihatan) yang diterjemahkan ke dalam musik eksperimental, aroma spesifik dari berbagai ritual, dan permainan gambar "digital" lukisan dan dokumentasi karya Lempad.

Kalau di bidang sastra ada dua naskah yang menjadi perbincangan di kancah dunia internasional, yakni Serat Centhini—sebuah kitab sastra klasik dan ensiklopedia Jawa— dan La Galigo—epik mitos penciptaan dari peradaban Bugis di Sulawesi Selatan yang merupakan kitab sastra klasik terpanjang di dunia— maka karya-karya Lempad adalah sebuah ikon dan simbol keabadian budaya Bali, di mana Bali adalah jendela unggulan Indonesia menuju dunia.

Lempad adalah seorang guru abadi dengan jiwa Bali, tetapi pikiran dan karyanya universal. Ia adalah tokoh pembaharu seni Bali. Melalui karya-karyanya, masyarakat bisa melihat karya Lempad dan rasa cintanya yang besar pada orang-orang di sekelilingnya, makhluk dan alam sekitar dalam kehidupannya.

Lempad melukis dengan jiwanya. Ia menyajikan keindahan sekaligus menyebarkan energi positif bagi orang lain. Tanpa melupakan kekuatan seni lukis tradisional Bali hasil proses evolusi berabad-abad, imajinasinya merevolusi seni Bali dengan menyerap perkembangan moderen.

Banyak karyanya menyatukan dunia spiritual berbaur harmonis dengan rutinitas sehari-hari. Ia membawa seni lukis Bali hingga tersohor ke seantero dunia. Banyak karyanya dikoleksi berbagai museum penting di dunia.

Selama masa pameran berlangsung, akan diadakan talkshow setiap hari Rabu, pada 19 Juni 2019, 26 Juni 2019 dan 3 Juli 2019. Para pembicara yang dihadirkan akan membicarakan beragam tema yang berkaitan dengan Lempad.

Dengan mempersembahkan karya Lempad dalam sebuah pameran yang dikemas dengan cara menarik ini diharapkan bisa memperlihatkan kebesaran seorang Lempad yang berkarya untuk mempersembahkan kemurahan hatinya bagi para dewa dan juga untuk mengajar keluarga, teman dan orang lain.

Lempad meninggalkan banyak karya-karyanya dalam keadaan seperti belum selesai tetapi ia menikmati tampilan estetika dari yang belum selesai itu. Lempad tidak melanjutkan pekerjaannya karena mungkin ia berharap generasi selanjutnya yang meneruskan karyanya itu. Secara halus ia mengajarkan seni pada generasi muda.   

Pameran “LEMPAD: Darkness is White” ini berada di bawah naungan Puri Saren Agung, Ubud, didukung oleh Yayasan Bali Purnati, Komunitas Salihara, Epson, WIR Global dan Darmawan Associates. Pameran yang berlangsung sejak 20 Juni - 07 Juli 2019 ini menampilkan koleksi Lukisan Museum Puri Lukisan, Ubud – Museum Arma, Koleksi pribadi Daniel Yusuf kolektor muda pencinta Lempad. (*)

 

*Foto-foto: dok Salihara

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post