Monday 8 May 2015 / 22:03
  • Hingga Jumat (3/4), 1.986 orang di Indonesia Positif Covid-19, 134 orang sembuh, dan 181 meninggal.
BISNIS

Paguyuban Sugeng, Komunitas dari Nama yang Sama

Sugeng Daryono, Ketua 2 Paguyuban Sugeng di Jakarta, Senin (19/12). (Kabare/ Gloria)

Hanya karena nama yang sama, mereka menjadi lebih dari saudara. Paguyuban Sugeng, misalnya. Paguyuban yang berasal dari orang-orang bernama Sugeng. Meski nama ini identik dengan nama orang Jawa, tetapi penggagasnya justru dari Malaysia yang bernama Sugeng Jabri.

Jakarta - William Shakespeare pernah mengungkapkan: Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap wangi semerbak. Tetapi sungguh berbeda dengan nama Sugeng. Karena nama ini, mereka saling membantu meski tidak ada hubungan kerabat dan handaitolan. Bahkan, mereka lebih dekat hubungannya, sampai membuat Sugeng Peduli Sugeng (SPS) untuk saling membantu di antara mereka. Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatat Paguyuban Sugeng sebagai paguyuban dengan Nama Sama terbanyak di tahun 2012.

Berikut adalah petikan wawancara Kabare.co dengan Sugeng Daryono, Ketua II Paguyuban Sugeng di Jakarta, Senin (19/12).

Awal ide terbentuknya Paguyuban Sugeng seperti apa?

Sebetulnya ide dari pembentukan Paguyuban Sugeng itu justru malah dari orang dari Malaysia, namanya Sugeng Jabri. Dia waktu itu mencari nama Sugeng di Mayalsia di Yellow Pages cuma ada empat. Namun sewaktu ke Indonesia dia mencari nama Sugeng di Yellow Pages ketemu banyak. Kemudian dia bertemu Sugeng Riyadi, dan 10 Sugeng lainnya membentuk Paguyuban Sugeng di Taman Mini Indonesia tahun 2008. Resminya 8 November 2008 kita menyatakan untuk paguyuban ini. Pada saat itu belum ada aplilkasi WhatsApp dan sejenisnya, kami berkomunikasi lewat Facebook dan berkumpul hingga pada ulang tahun ke-8 kemarin telah berkumpul sekitar 8.000 nama Sugeng di FB, sementara yang terdaftar secara resmi di kartu keanggotaan Paguyuban Sugeng telah mencapai 1.781 nama Sugeng.

Dasar terbentuknya Paguyuban Sugeng untuk apa?

Itu dasarnya adalah persaudaraan, non agama, non politik, non sara. Pokoknya ketika tercium hal-hal semacam itu kami tolak. Karena tujuan terbentuknya paguyuban ini untuk persaudaraan.

Apa saja kegiatan Paguyuban Sugeng

Kami sedang gencar bergerak di bidang sosial. Seperti santunan ke anak yatim. Kami mendirikan Sugeng Peduli Sugeng (SPS). Di antara kegiatannya, secara sukarela mengumpulkan dana untuk Sugeng-Sugeng yang membutuhkan bantuan. Beberapa Sugeng (maaf) yang meninggal dunia diberikan santunan. Meskipun tidak banyak, namun dapat meringankan sedikit beban keluarga Sugeng yang terkena musibah. Beberapa Sugeng yang dirawat di rumah sakit juga diberikan bantuan, tapi ya.. belum bisa banyak. Belum lama ada seorang Sugeng di Banjarnegara, berprofesi sebagai pekerja. Dia kesetrum berapa ribu volt, tangannya diamputasi, nanti 8 Januari kami akan kesana. Meskipun bukan anggota asalkan ada nama Sugeng kami pasti tergerak untuk membantu.

Arti dan makna Sugeng itu apa?

Kalau saya sendiri, dulu (cerita bapak ibu), saya diadopsi pakde dan bude saya karena mereka tidak memiliki anak. Arti Sugeng sebenarnya itu selamat. Bagi saya diartikan Sugeng itu supaya selamat diangkat anak oleh pakde, bude saya. Sebetulnya nama asli saya Sudaryono.

Apakah Paguyuban Sugeng diharuskan membayar iuran?

Kami tidak ada iuran. Kalau ada apa-apa, misalkan kegiatan ulang tahun, kami menyumbang secara sukarela. Beberapa gerakan yang terkenal adalah 'seket ewu', sumbangan sukarela setiap anggota minimal Rp50 Ribu.

Paguyuban Sugeng ini rutin menggelar acara?

Ya, setiap ulang tahun (8 November) kami adakan acara. Kami juga akan menggelar musyawarah besar di Banten, Jawa Barat. Dalam setiap kegiatan biasanya turut ikut, anak dan cucu. Turut memeriahkan pokoknya. Jadi ketika berkumpul, sangat banyak. Pokoknya siapa saja yang memiliki nama Sugeng, silakan bergabung.

Ketika berkumpul para Sugeng ini membahas apa?

Kita kumpul untuk guyonan, foto-fotoan. Ketika ada mantenan (pernikahan) kita datang bersama atas nama Sugeng. Pokoknya kekeluargaan, dan itu menyenangkan.

Ada perbedaan tidak sebelum dan sesudah adanya Paguyuban Sugeng?

Banyak sekali perbedaan. Anak saya sampai berkata, "Semenjak Bapak jadi pengurus Paguyuban Sugeng, rumah jadi kayak basecamp, seru, asyik dan keren". Dalam paguyban ini tidak ada perbedaan, kami semua keluarga. Saya bahkan sudah empat kali menjadi saksi pernikahan orang bernama Sugeng.

Paguyuban Sugeng juga biasa dijadikan ajang curhat (curahan hati) untuk memecahkan persoalan rumah tangga dan lainnya. Kami yang tua memberi nasihat pada yang muda seperti sebuah keluarga.

Apakah Sugeng itu selalu orang Jawa?

Sugeng itu tidak selalu orang Jawa. Bahkan yang menciptakan mars Paguyuban Sugeng berasal dari Medan, Sumatra Utara, bernama Sugeng Anugrah yang tidak bisa berbahasa Jawa.

Kejadian unik apa yang pernah terjadi?

Ada yang unik: Sugeng dengan Sugeng menikah. Bukan homo loh, ya. Perempuannya bernama Sugeng Winarsih dan pria bernama Sugeng Sukarno. Mereka itu yang melamarkan saya. Yang akad nikahnya Sugeng Riyadi (Ketua Umum) dan yang menjadi saksinya Sugeng Suratno (Sekertaris Umum), yang jaga tamu Bu Sugeng, tukang fotonya juga Sugeng, yang makan dan ngabisin makanannya juga Sugeng. hahahaha....

Kami masuk MURI untuk paguyuban dengan nama terbanyak di tahun 2012. Pada saat itu anggota baru 3.000. Saat ini sedang dalam proses mendaftarkan MURI lagi yakni, pemain angklung dengan nama sama terbanyak; minum kopi Luwak dengan nama sama terbanyak (karena yang membuat kopi Luwak itu bernama Sugeng juga); dan naik kereta api dengan nama sama terbanyak (dari Jawa Timur satu gerbong namanya Sugeng semua).

Banyak juga ya kejadian unik dengan nama Sugeng ini. Ada keunikan yang lain?

Ada juga kejadian unik ketika seorang Sugeng pulang kampung dan mobilnya mogok. Sugeng tersebut kemudian menulis pesan di WA, tidak lama datang lima orang Sugeng yang kebetulan tinggal di dekat situ untuk membantu membetulkan mobil Sugeng yang mogok.

Kepala Stasiun di Jawa Timur bernama Sugeng. Ketika naik kereta dan pesan tiket, kami disatukan dalam satu gerbong. Pernah tidak bayar notaris karena notarisnya bernama Sugeng. Kebetulan dapat dokter bernama Sugeng, biaya konsultasinya digratiskan. Bahkan juga ada beberapa dokter bernama Sugeng yang memberikan diskon atau menanggung sepenuhnya biaya berobat atas dasar kekeluargaan. Saya baru-baru ini main ke Jogja, di sana ada penjual angkringan bernama Sugeng. Kemudian berkumpul sekitar 20 orang, jadi makan-makan seperti keluarga.

Ketika ada orang bernama Sugeng tertimpa musibah, kami atas nama kekeluargaan selalu membantu. Padahal tidak ada hubungan saudara atau tetangga. Jadi nama Sugeng ini memperkuat persaudaraan dan akan saling membantu.

Apalagi yang ada di Paguyuban Sugeng?

Koperasi yang khusus membuat dan menjual pernak pernik, souvernir dan kaos Sugeng. Yang berhak membuat itu hanya Paguyuban Pusat. Karena ketika membeli barang dari Koperasi Sugeng Rp5 Ribu akan otomatis disumbangkan untuk dana Kas yang bisa sewaktu-waktu digunakan untuk kebutuhan sosial dan sebaginya. Kalau dulu istilahnya Sumbangan Sukarela Tanpa Tekanan (Susu Tante), kemudian berubah menjadi Sumbangan Sukarela Setia Kawan (Susu Perawan), yang kemudian berubah lagi menjadi Sumbangan Keamanan Tanpa Tekanan (Sukamto). Meskipun istilahnya sering berganti, intinya kita menyumbang dengan sukarela tanpa tekanan.

Apa saran Anda kepada paguyuban sejenis agar tetap eksis seperti Paguyuban Sugeng yang telah berdiri 8 tahun?

Intinya persaudaraan. Bahkan Paguyuban Sugeng memiliki simbol dua "S" yang menyatu membentuk lambang hati yang bisa diartikan sesama Sugeng itu bersaudara dan saling berbagi. Di Paguyuban Sugeng kalau membawa bisnis akan ditolak. Sebab banyak paguyuban hancur karena kepincut bisnis, yang ada jadinya saling sikut dan haus kekuasaan. Intinya jika mau paguyuban tetap berjalan, ya, jangan dijadikan lahan bisnis, tidak berpolitik, dan tidak SARA. Kalau itu dilanggar, ya, pastilah kacau.

(Editor: LOI)

Baskoro

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post