Monday 8 May 2015 / 22:03
  • Hingga Jumat (3/4), 1.986 orang di Indonesia Positif Covid-19, 134 orang sembuh, dan 181 meninggal.
BISNIS

Paduan Dua Budaya

Istana Kedatun Keagungan Lampung

Letaknya bersebelahan dengan Kesultanan Banten, namun kebesaran Kesultanan Lampung tak banyak diketahui. Akibatnya, kebudayaan Lampung tak berkembang dan malah semakin pudar. Dalam kondisi ini, Istana Kedatun Keagungan Lampung menjadi gugus terdepan dalam pelestarian budaya Lampung.

Jakarta - Lampung berbeda dengan Banten, meski keduanya memiliki hubungan darah. Hubungan itu berasal dari pendiri Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon yang merupakan penyebar agama Islam, Syarif Hidayatullah. Syarif Hidayatullah memiliki dua orang suadara yang menjadi penguasa Lampung kala itu, yaitu Ratu Saksi atau lebih dikenal Ratu Daerah Putih dan Ratu Simaringgai.

Saat Maulana Hasanuddin, putera Syarif Hidayatullah menaklukkan Banten, dia meminta bantuan Ratu Daerah Putih. Setelah berhasil menaklukkan dan mengislamkan Banten, sebagian pasukan asal Lampung menetap di Anyer Selatan. Daerah ini dikenal sebagai sebuah enclave suku bangsa Lampung di Banten, yaitu Lampung Cikoneng atau desa Cikoneng.

Namun itu cerita sejarah. Kedatun Keagungan Lampung yang dipimpin Suttan Seghayo Mawardi memilih menatap masa depan. Baginya, itu lebih mengkhawatirkan karena mengancam eksistensi budaya Lampung.

“Budaya bisa mengangkat Lampung menjadi lebih maju dan makmur. Budaya Sakai Sembayan misalnya, mendorong masyarakat Lampung senantiasa menjaga sikap kebersamaan dan tolong menolong dalam kebaikan,” kata Suttan Seghayo Mawardi, keturunan Kesultanan Lampung. 

Langkah awalnya, ia bangun Kedatun Keagungan Lampung pada 1995. Bangunan seluas 6 ribu hektare di Jalan Sultan Haji Bandar Lampung ini penuh dengan benda-benda budaya Lampung. Kentalnya filosofi budaya Lampung juga tercermin dalam desain bangunan yang memerlukan waktu 5 tahun pembangunannya ini.

Bangunan Kedatun Keagungan tersusun dari kayu jenis tembesu, unglen, dan kayu lainnya. Agar awet tidak dimakan rayap, kayu berkualitas tinggi ini sebelumnya sudah diawetkan dengan cara dibenamkan dalam lumpur selama bertahun-tahun.

“Memang Kedatung Keagungan dibangun untuk mengingatkan tingginya budaya Lampung yang penuh nilai-nilai luhur, semoga generasi penerus Lampung mampu mengambil nilai-nilai luhur budaya nenek moyang kita,” kata Suttan Seghayo Mawardi.

Tingginya budaya ditunjukkan dengan Lampung yang memiliki aksara dan bahasa sendiri. Sayangnya aksara dan bahasa baru sekedar menjadi muatan lokal dalam kurikulum sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP). Namun upaya mengangkat Bahasa Lampung ke tingkat yang lebih tinggi belum dilakukan, apalagi menjadi bahasa pergaulan sehari-hari. 

Mawardi mengkhawatirkan jika tidak ada upaya serius dari pemerintah daerah, bahasa Lampung akan punah dalam beberapa generasi mendatang. Generasi muda Lampung enggan menggunakan bahasa daerah karena merasa kolot dan terbelakang. Situasi bertambah kritis karena banyak orangtua yang memandang tidak perlu menggajarkan Bahasa Lampung pada anak-anaknya.

“Ini tugas berat pemerintah daerah dan juga seluruh masyarakat Lampung,” papar lelaki kelahiran Lampung, 12 Juni 1951 ini.

Sedangkan untuk pelestarian Aksara Lampung, Mawardi mengharapkan setidaknya digunakan untuk melengkapi nama-nama gedung perkantoran, baik pemerintah atau swasta serta toko-toko. “Harus ada suasana Lampung yang kental yang dirasakan masyarakat atau jika tamu datang merasa berada di Lampung,” tutur mantan Pejabat Pemerintah Provinsi (pemprov) Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta ini.

Mawardi mengungkapkan budaya Lampung terdiri dari dua jurai, yaitu Pepadun dan Sai Batin. Budaya Pepadun berkembang di pedalaman dan Sai Batin di daerah pesisir. Dua budaya ini membuat Lampung disebut Sai Bumi Ruwa Jurai yang berarti satu daerah yang dibentuk dua ragam budaya. Meskipun terdiri dari dua budaya, nilai-nilai masyarakat Lampung pada dasarnya sama yang terdiri dari lima pilar, yaitu piil pesinggiri, bejuluk beadeh, nemui nyimah, nengah nyappur, dan sakai sembayan.

Suami Suttan Mahkota Sofia Hanum ini menuturkan nilai piil pasinggiri menekankan pentingnya warga Lampung memiliki keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nilai adat ini jika diterapkan akan membuat Lampung terbebas dari budaya yang merusak seperti korupsi. Sedangkan nilai kebersamaan dalam sakai sembayan seharusnya membawa Lampung terbebas dari kemiskinan.

Mawardi menekankan budaya seharusnya jangan dilihat dari sisi fisik saja tetapi lebih penting adalah nilai-nilai dan falsafah yang terkandung di dalamnya. Jika nilai dan falsafah bisa diresapi, bangsa Indonesia tidak akan kehilangan jati diri bangsanya.

Teks: Mada Mahfud; Foto: Dhodi Syailendra

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post