Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Oscar Lawalata Menuju 1.000 Kain Batik untuk Dunia

Desainer Oscar Lawalata di acara fashion show bertajuk "Batik for The World, Menuju 1.000 Kain". (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

Setiap satu lembar kain batik memerlukan proses panjang. Sehingga tidak boleh main potong-potong begitu saja. Untuk itu perancang harus berfikir bagaimana menciptakan bentuk baru,tanpa merusak motif batik, kata Oscar Lawalata.

JAKARTA-KABARE.ID: Setelah sukses menampilkan karya rancangannya di markas UNESCO pada Juni 2018 lalu, desainer Oscar Lawalata kembali memamerkan karya terbarunya dalam acara fashion show bertajuk "Batik for The World, Menuju 1.000 Kain" yang diselenggarakan di Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (19/10/2018).

Dalam kesempatan itu, Oscar menyajikan sekitar 50 tampilan busana modern dengan material utama kain batik tulis yang diaplikasikannya pada beragam jenis kain seperti sutera, tenun, katun, dan linen. Pertunjukan dibagi dalam empat babak: Trenggalek, Surabaya, Madura, dan tiga daerah yang menjadi satu di antaranya Kediri, Ponorogo, dan Gresik.

Karya-karya yang ditampilkan berupa midi dress, outer, tunik, bawahan kebaya, dress serupa mantel, blus, serta sleeveless blouse. Pada koleksi kali ini, Oscar juga menyediakan pilihan busana pria. Namun, busana pria yang ditampilkan terbatas pada atasan berlengan panjang.

Untuk pilihan warna, Oscar menggunakan warna-warna alam seperti gradasi cokelat, hijau gelap, biru dongker, ungu, dan merah marun. Di antara warna-warna tersebut, terselip pula beragam warna cerah. Bagi Oscar, kain-kain batik khas Jawa Timur memiliki ciri khas penggunaan pewarna alam seperti nuansa hijau dari dedaunan dan sentuhan cokelat dari akar.

"Warna alam mereka kuat. Mungkin tak sehalus Jawa Tengah, tapi ini yang membedakan mereka," katanya.

Fashion show bertajuk "Batik for The World, Menuju 1.000 Kain". Dalam acara tersebut, ada sekitar 50 koleksi busana yang dirancang oleh Oscar Lawalata. (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

 

Melalui panggung fashion show, Oscar berusaha membuat batik menjadi sesuatu yang 'baru'. Batik dengan motif klasik dikombinasikan dengan sentuhan modern agar tak terkesan usang. Oscar juga tak sembarangan menyematkan sulam, manik, atau payet agar motif tetap bisa memperlihatkan keindahannya.

“Karena setiap satu lembar kain batik memerlukan proses panjang, mulai dari menggambar motif, melapisinya dengan malam atau lilin, proses pewarnaan hingga kain siap digunakan. Sehingga tidak (boleh) kita potong-potong begitu saja. Ia memiliki bentuk baru tapi motif tidak rusak," kata Oscar.

Sore itu, pertunjukan tidak hanya mengangkat kisah batik Jawa Timur, tetapi juga kisah penenun di Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam upaya melestarikan busaya yang dikemas dalam helai kain yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Selain menjadi ajang pelestarian budaya, kesempatan ini juga dimanfaatkan Oscar bersama Bank Mandiri untuk melelang empat lembar kain khas Jawa Timur. Lelang yang berlangsung tertutup itu dimulai dengan nilai Rp11 juta untuk kain yang dipilih.

Sebanyak 20 persen hasil lelang tersebut, akan disumbangkan untuk korban bencana dan pemulihan wilayah terdampak bencana. Selain Palu, hasil lelang juga akan disumbangkan untuk Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang juga dilanda gempa pada Agustus 2018 lalu. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post