Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Komunitas

Orang Rimba Melawan Himpitan Kemajuan Zaman

Orang Rimba atau Suku Anak Dalam. (Foto: Kemenparekraf RI)

Alih fungsi hutan menjadi kebun sawit mengancam keberadaan Suku Anak Dalam. Bagaimana mereka bertahan di tengah gempuran ini?

JAMBI – KABARE.ID: Orang Rimba atau Suku Anak Dalam merupakan salah satu suku yang berdiam di Provinsi Jambi. Berdasarkan survei pada 2018, populasi Orang Rimba mencapai 5.000 jiwa yang menyebar di lima kabupaten yaitu Sarolangun, Merangin, Tebo, Batanghari, dan Bungo.

Orang Rimba masih memegang kuat tradisi dan budaya yang diwariskan oleh leluhur mereka. Mereka biasanya hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya di pedalaman hutan Sumatra. Mereka dulu banyak tinggal di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) sebelum kawasan itu dijadikan taman nasional.

Satu kelompok Orang Rimba umumnya terdiri dari lima hingga 10 keluarga, dan dipimpin oleh seorang tetua suku yang bergelar Temenggung. Temenggung ini bertugas untuk menegakkan hukum di tengah kelompoknya, serta mengawasi klaim wilayah mereka di hutan. Setiap pelanggaran akan dikenai sanksi berupa denda.

Rumah atau tempat tinggal Orang Dalam bernama sudung. Dulunya, sudung berupa pondok tanpa dinding yang diberi atap dari daun benal, serdang, atau rumbia. Letaknya agak masuk ke dalam belukar dan hutan yang lebat. Tiap sudung satu keluarga agak terpisah dengan sudung keluarga lainnya. Anak-anak yang sudah besar, dibuatkan sudung sendiri yang tidak jauh dari sudung orangtuanya.

Berburu dan Meramu

Makanan Orang Rimba diperolah dari meramu umbi-umbian, umbat-umbatan, dan buah-buahan. Mereka juga suka berburu. Hampir semua satwa liar yang ada di kawasan diburu untuk dimakan, terutama babi hutan. Mereka terkadang juga membeli makanan yang dijual di pasar, di sekitar kawasan mereka tinggal.

Orang Rimba memegang kepercayaan animisme dan dinamisme. Orang Rimba percaya kepada roh-roh baik maupun roh-roh jahat. Mereka meyakini bahwa tumbuhan atau tanaman memiliki kekuatan gaib, begitu pula dengan roh nenek moyang.

Saat ada yang anggota yang meninggal, mereka akan pindah meninggalkan hunian sementara mereka beserta jasad anggota kelompok selama beberapa tahun hingga rasa duka hilang. Setelah itu mereka bisa kembali ke wilayah tersebut. Tradisi ini disebut melangun.

Alih fungsi hutanlah yang pada akhirnya paling mengancam keberadaan mereka. Derasnya arus modernisasi memaksa mereka melakukan hal serupa dengan yang dilakukan masyarakat saat ini, yaitu hidup menetap. Beberapa dari mereka kini tinggal di sebuah perumahan yang ada di tengah perkebunan sawit. (*)

 

Sumber: Kemenparekraf RI

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post