Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Komunitas

Nelayan di Banyuwangi Puasa Melaut Karena Cuaca Ekstrem

Kapal-kapal nelayan di Banyuwangi/Foto: Ardian Fanani (detik.com)

Sejumlah nelayan di Banyuwangi memilih tidak melaut karena cuaca ekstrem.

BANYUWANGI – KABARE.ID: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Propinsi Jawa Timur memprediksi adanya gelombang tinggi di Laut Selatan Jawa dalam sepekan ke depan. Yakni berkisar antara 1,5 hingga 3 meter.

Sedangkan di laut Selat Bali berkisar antara 1 hingga 2 meter. Imbas dari peringatan cuaca ekstrem tersebut, nelayan di Pantai Grajagan dan Pancer tidak ada yang pergi melaut.

"Di wilayah itu (Pancer dan Grajagan) tidak ada nelayan yang kerja mencari ikan," kata Abidin, Ketua Nelayan di TPI Kecamatan Muncar kepada wartawan, Rabu (8/1/2020).

Kendati demikian, kata dia, ada beberapa nelayan di Banyuwangi yang masih nekat mencari ikan di laut. Namun para nelayan tersebut tidak berani berlayar di tengah laut. Terutama di perairan Selatan Banyuwangi.

"Kalau di Selat Bali masih ada beberapa nelayan yang mencari ikan. Kalau menuju ke tengah mereka masih belum berani," tambahnya.

Baca juga: Pemerintah Kirim 120 Nelayan Pantura ke Natuna

Krisna (30), salah seorang nelayan Muncar mengaku tetap nekat melaut, meskipun ada informasi dari BMKG Jawa Timur terkait cuaca ekstrem. Mereka yang pergi melaut, kata dia, hanya sebagian nelayan dengan perahu yang berukuran kecil. Mereka biasanya mencari lobster dan kepiting.

“Kalau untuk perahu kecil seperti nelayan mencari kepiting dan lobster. Banyak yang pergi melaut, tapi ya di pinggir-pinggir saja. Untuk nelayan perahu besar tidak banyak," katanya.

Sementara untuk harga ikan terbilang masih stabil. Harga per kilogramnya bervariasi antara Rp 20 ribu hingga Rp 35 ribu.

"Untuk harga ikan seperti lemuru sekarang masih normal Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu. Tapi kalau malam Tahun Baru kemarin naik Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu," lanjutnya.

Baca juga: Sukarelawan Jawa Tengah Bantu Pascabanjir Jakarta dan Jawa Barat

Berdasarkan keterangan BMKG Jawa Timur, wilayah perairan Selatan Banyuwangi akan terjadi cuaca ekstrim pada periode 4-10 Januari 2020.

Prakirawan BMKG Banyuwangi Agung Dwi Nugroho mengatakan, cuaca ekstrem tersebut diperkirakan terjadi karena adanya pola tekanan rendah di Selatan Samudera Hindia, atau wilayah Nusa Tenggara. Sehingga menyebabkan terbentuknya pola pertemuan angin atau konvergensi di sepanjang wilayah Jawa Timur.

Ia menambahkan, dalam kurun waktu 3 hingga 5 hari ke depan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang dan petir akan melanda wilayah Banyuwangi dan sekitarnya.

"Jadi kita lihat gangguan di sini adalah adanya sistem tekanan rendah yang sedikit di selatan Samudera Hindia sehingga bisa dikategorikan bahwa intensitasnya sedang hingga lebat. Untuk masyarakat terutama yang kita waspadai karena intensitas hujan sedang hingga lebat ini terutama di daerah pegunungan yaitu potensi terjadinya tanah longsor, banjir dan sebagainya," kata Agung.

Menurut Agung, selain potensi hujan dengan intensitas lebat dan angin kencang, cuaca buruk di tengah laut diperkirakan juga akan terjadi. Tinggi gelombang tersebut juga berpotensi terjadinya badai di tengah laut secara tiba-tiba. Sehingga jika memaksakan untuk tetap beraktivitas di tengah laut, dikhawatirkan akan terjadi kecelakaan laut. Untuk itu bagi para nelayan diminta tidak melaut dalam beberapa hari ke depan. (*)

 

Sumber: Detik.com

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post