Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Wisata_Kuliner

Nasi Jamblang, Makanan Para Pekerja Paksa pada Zaman Belanda

Sega Jamblang khas Cirebon. Sumber foto: Istimewa

Sega Jamblang atau Nasi Jamblang merupakan makanan khas dari Cirebon, Jawa Barat. Paling khas dari kuliner ini, nasinya dibungkus daun jati. Keunikan lainnya adalah, kuliner ini tidak ada kaitan dengan buah jamblang.

JAKARTA – KABARE.ID: Jika Anda mengunjungi Kota Cirebon, tidak lengkap jika tidak menyantap Sega Jamblang. Sajian nasi yang dibungkus daun jati ini porsinya hanya satu kepal tangan, mirip dengan sego kucing yang dihidangkan dengan lauk terpisah.

Lauk yang disajikan sebagai pelengkap Sega Jamblang antara lain tahu sayur, paru-paru, semur daging, perkedel, sate kentang, telur dadar, telur goreng, semur ikan, ikan asin, tahu tempe, dan lainnya.

Dari sekian menu yang harus dicoba adalah balakutak hidueng. Makanan cumi-cumi atau sotong berkuah kental itu dimasak bersama dengan tintanya. Jadi masakan berwarna hitam seperti rawon.

Sejarah Nasi Jamblang

Pada sekitar 1847, bisa dikatakan menjadi cikal bakal lahirnya Sega Jamblang. Saat itu, Belanda membangun dua prabrik tebu di Plumbon dan Gempol. Serta satu pabrik sprirtus di Palimanan.

Dibangunnya tiga pabrik tersebut menyerap banyak pekerja. Mayoritas pekerja didatangkan dari Cirebon dan daerah sekitarnya. Di sisi lain tidak ada penjual nasi, karena kepercayaan saat itu, tidak baik atau pamali berjualan nasi.

Sampai akhirnya salah satu warga Jamblang bernama Ki Antara atau H Abdul Latif dan istrinya Ny Pulung atau Tan Piauw Lun bersedakah makanan untuk sarapan para pekerja tiap harinya. Mereka menggunakan daun jati untuk membungkus nasinya.

Dari mulut ke mulut informasi itu menyebar. Akhirnya banyak pekerja yang makan di sana. Meski awalnya gratis, para pekerja merasa tidak enak. Mereka pun sepakat memberikan sukarela untuk makanan yang mereka makan. 

Dari sanalah Sega Jamblang akhirnya dijual oleh banyak orang. Tidak hanya warga Desa Jamblang, tapi warga Cirebon lainnya. Termasuk juga di kota besar seperti Jakarta. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post