Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Mouly Surya Angkat “Jalan Tak Ada Ujung” ke Layar Lebar

Sutradara Mouly Surya di sela Peluncuran Buku Yayasan Obor Indonesia dan Adaptasi Novel Mochtar Lubis ke Film di JCC, Jakarta, Kamis (13/9/2018). (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

Sutradara Mouly Surya akan memfilmkan novel “Jalan Tak Ada Ujung” karya penulis Mochtar Lubis.

JAKARTA-KABARE.ID: Hal itu diungkapkan Mouly dalam acara Peluncuran Buku Yayasan Obor Indonesia dan Adaptasi Novel Mochtar Lubis ke Film di sela pameran buku internasional, Indonesia International Book Fair (IIBF) di Balai Sidang Jakarta/ Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (13/9/2018).

“Saya bahagia. Ini kesempatan luar biasa menginterpretasikan karya sastra yang luar biasa. Jujur ketika pertama kali baca buku ini, saya langsung jatuh cinta. Langsung terbayang sinematiknya, bisa kegambar mau bikin film seperti apa,” kata Mouly.

Mengadaptasi karya sastra menjadi film memang pengalaman baru bagi Mouly. Kendati demikian dunia sastra bukan hal baru baginya, karena sejak kecil ia gemar membaca dan bercita-cita menjadi penulis. “Aku kuliah S1 sastra, tiap minggu harus bisa membaca minimal satu buku sastra. Jadi dunia sastra bukan hal baru lagi,” kata Mouly.

Ia berharap “Jalan Tak Ada Ujung” bisa jadi karya keempatnya setelah “Fiksi” (2007), “Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta” (2013), dan “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak” (2017).

Jalan Tak Ada Ujung

Mouly Surya (ketiga dari kiri) dalam acara Peluncuran Buku Yayasan Obor Indonesia dan Adaptasi Novel Mochtar Lubis ke Film di sela pameran buku internasional, Indonesia International Book Fair (IIBF) di Balai Sidang Jakarta/ Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (13/9/2018). (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

 

“Jalan Tak Ada Ujung” memiliki latar kota Jakarta yang dicekam oleh ketegangan “perang kota” antara September 1946 hingga Juli 1947. Film ini bercerita tentang Isa, seorang guru yang dihadapkan dengan pilihan mendukung Belanda atau Kemerdekaan RI.

Untuk mendapatkan gambaran situasi pada tahun 1946 tentu memerlukan riset yang mendalam. Menurut Mouly mempelajari konteks sejarah yang terjadi saat itu adalah suatu proses yang sangat menarik. Ia mengatakan kejadiaan “perang kota” di Jakarta pada waktu itu masih relevan jika dikaitkan dengan situasi saat ini.

“Konteks negara pada saat itu sangat complicated, merdeka tapi kayak belum merdeka. Menurut saya cerita ini masih sangat relevan jika dikaitkan dengan dunia politik saat ini. Ada orang-orang yang nasionalis, ada juga yang terpaksa memilih pilihan lain untuk bertahan hidup karena ketakutan,” kata Mouly.

Meskipun ceritanya diambil dari novel yang sudah jadi, Mouly mengaku proses memindahkan naskah dari novel menjadi film butuh waktu yang lama, apalagi ia harus menggambarkan setting tahun 1946. “Tahun ini saya fokus mengerjakan naskahnya. Tahun depan mulai proses syutingnya. Insya Allah 2020 filmya rilis,” kata Mouly. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post