Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Wisata_Kuliner

Mengunjungi Bukit Matahari di Pulau Nias

Seorang pemuda Nias sedang memperlihatkan kebolehannya saat melompati batu setinggi 2 meter. (Foto: Kemenpar RI)

“Bawomataluo” yang dalam bahasa Nias berarti bukit matahari ini dibangun di atas bukit dengan ketinggian 324 meter di atas permukaan laut.

NIAS – KABARE.ID: Desa Bawomataluo di Pulau Nias, Sumatera Utara punya daya tariknya tersendiri. Untuk menuju desa para pelompat batu itu, butuh waktu 3 jam dari Bandara Binaka di Gunung Sitoli atau 40 menit dati Teluk Dalam ibu kota Kabupaten Nias Selatan.

Desa Bawomataluo ditinggali oleh setidaknya seribu kepala keluarga. Masyarakat di dalamnya masih memegang teguh nilai adat istiadat secara turun-temurun. Beragam pusaka budaya yang dulu dimiliki oleh para leluhur masih disimpan dan dirawat dengan baik. Rumah-rumah adat di dalamnya juga diturunkan dari generasi ke generasi.

Wisatawan bisa menemukan omo hada atau rumah adat tradisional yang terbuat dari kayu tanpa paku. Ada juga situs megalitikum, pelestarian tari-tarian, hingga atraksi lompat batu atau hombo batu.

Frans, salah satu pemandu wisata menceritakan asal mula para pemuda di kampungnya yang bisa melompati batu setinggi 2 meter. Lompat batu bermula dari syarat pemuda untuk bisa ikut berperang.

Dahulu perang antar-wilayah sering terjadi. Setiap wilayah biasanya dipagari dengan bambu setinggi dua meter atau lebih. Untuk bisa ikut berperang dan diterima sebagai prajurit raja, seorang pemuda harus bisa melompati bambu yang memagari wilayah lawan. “Pemuda yang mampu melompati batu ini dianggap telah dewasa dan matang secara fisik,” kata Frans.

Jika ingin menyaksikan tradisi ini, pengunjung harus membayar dua orang pemuda desa dengan tarif Rp150 ribu untuk dua kali lompatan. Setiap pemuda akan melompat satu kali. “Mereka bisa 10 kali sehari melompat, lumayan bagi penghasilan mereka sehari-hari,” kata Frans.

Selain terkenal dengan atraksi lompat batu, desa ini juga terkenal dengan arsitektural serta patung-patung kuno. “Di sini juga memiliki tradisi potong babi jika tengah berkabung. Jika ada orang yang meninggal di sini, babinya ikut dipotong juga dan dibagikan ke seluruh warga desa," kata Frans. (*/bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post