Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Menggagas Gerakan Inventarisasi Benda-benda Seni Koleksi Nasional

Ki-ka : Rizki A.Zaelani, Yusuf Susilo Hartono, Irawan Karseno dan Kepala Galeri Nasional Pustanto, dalam seminar koleksi nasional di GNI, Kamis (11/10/2018). (Foto: WH)

Bagaimana tidak disebut harta karun, jika koleksi-koleksi lukisan milik negara yang tersebar di dalam dan luar negeri bisa dikelola dengan baik, untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

JAKARTA-KABARE.ID : Sejak Indonesia merdeka hingga sekarang, pemerintah sudah banyak mengoleksi benda-benda seni, lukisan hingga patung, yang dipelopori oleh Bapak Kolektor Seni, yang juga Presiden pertama RI Soekarno. Namun belum pernah ada pendataan secara menyeluruh, dan memanfaatkannya secara terkoordinasi dan berjejaring untuk apresiasi dan ilmu pengetahuan. Untuk itulah Galeri Nasional berhasrat menjadikan dirinya Pusat Dokumentasi dan Informasi Seni Rupa Indonesia, dan akan memprakarsai gerakan inventarisasi benda-benda seni koleksi nasional.

Hal itu terungkap dalam diskusi sehari bertajuk "Karya Seni Rupa Koleksi Negara yang Terbarukan", di Galeri Nasional Indonesia-Jakarta, Kamis (11/10/2018). Dengan nara sumber Rizki A.Zaelani, Dosen seni rupa ITB Bandung selaku salah satu kurator Galeri Nasional, dan Ketua Pekerja Harian Dewan Kesenian Jakarta Irawan Karseno.

Diskusi ini mengiringi pameran seni rupa koleksi nasional bertajuk "Menyigi Masa", di Gedung A-Galeri Nasional, yang dikuratori Suwarno Wisetrotomo dan Rizki Zaelani, yang menampilkan koleksi Museum Aceh, Galeri Nasional, dll. Hadir dalam diskusi yang dipandu wartawan seni-budaya Yusuf Susilo Hartono, antara lain Direktur Sejarah Kemendikbud Triana Wulandari, putri maestro Affandi (alm) Kartika Affandi, sejumlah pengelola museum, akademisi dan perupa.

Suasana Pameran "Menyigi Masa" yang melibatkan koleksi berbagai museum Tanah Air. (Foto: Kabare.id/ysh)

 

Dalam sambutannya Kepala Galeri Nasional Pustanto menggambarkan, selama 73 tahun Indonesia merdeka, para perupa berjuang lewat seni rupa. Sekarang dimana saja karya-karya, terutama yang dibeli pemerintah menggunakan uang rakyat itu? Diluar yang telah disimpan dan dikelola dengan baik di Istana-istana kepresiden RI dan Galeri Nasional, koleksi-koleksi lukisan milik negara itu tersebar di berbagai museum, kantor-kantor BUMN, Bank Indonesia, Pusat Kesenian Jakarta-TIM, gubernuran-gubernuran, hingga kantor-kantor Kedutaan RI di seluruh dunia. "Saya terharu ketika mendengar cerita, lukisan Affandi di pajang dekat dapur di salah satu kedutaan kita di luar negeri," tutur Pustanto.

Dewasa ini koleksi Istana maupun koleksi Galeri Nasional, sudah terdata berikut narasinya, hingga taksiran harga. Oleh karena itu Pustanto ingin melakukan sosialisasi dan pendekatan kepada para pihak terkait, sembari memikirkan payung hukumnya, sehingga bisa menjadi gerakan nasional. "Kelak kita akan mendapatkan data, berapa jumlah benda seni koleksi nasional ( bisa disebut juga koleksi negara), tahu jenisnya apa saja, sehingga bisa untuk berbagai kepentingan, ya apresiasi, edukasi, ilmu pengetahuan, dan lain-lain," tegasnya.

Direktur Sejarah Triana Wulandari memberikan masukan pemikiran, hendaknya dalam mendata benda-benda koleksi nasional itu nanti, tidak berhenti pada unsur artistik saja, melainkan menyentuh aspek kesejarahan sehingga karya-karya seni rupa tersebut terkait dengan sejarah perjalanan bangsa kita. Sejurus dengan ini akademisi Universitas Negeri Jakarta Prof. Cut Kamaril mengharapkan dalam penarasian koleksi tidak melupakan aspek psikologinya.

Direktur Sejarah Triana Wulandari bersama Kartika Affandi. (Foto:kabare.id/ysh)

 

Dalam pandangan Rizki Zaelani sebuah karya seni, setelah selesai diciptakan senimannya, ia akan memasuki kehidupannya sendiri. Sebuah karya seni yang sering kali dipamerkan, ia seperti di(lahir)kan berkali-kali. Dan dalam mendokumentasikan karya seni penting sekali melacak asal-usulnya. "Sebagai contoh karya-karya kaligrafi koleksi Museum Aceh ini. Menurut mereka itu sumbangan dari Bu Tien, pasca MTQ 1981 di Aceh. Ternyata, menurut Pak Sunaryo, setelah pameran karyanya tidak dikembalikan, dan tidak pernah ada pembelian," tuturnya.

Menurut Irawan Karseno, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah perlu melakukan pembelian karya para perupa yang telah teruji pengalaman dan dedikasinya. Agar masyarakat bisa mengapresiasi karya-karya tersebut, itu merupakan tugas dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, maupun Dinas-dinas Pendidikan dan Kebudayaan di seluruh provinsi, kabupaten, Kota.

Mendukung gagasan ini, pekerja seni-budaya Henri Nurcahyo dari Surabaya mengharapkan agar Badan Pengawas Keuangan mau mengaudit secara berkala koleksi-koleksi negara yang ada, sebab dibeli dengan uang rakyat. Kedepan, semua karya koleksi pemerintah supaya dibuat katalog onlinenya supaya seluruh pihak yang berkepentingan bisa mendapatkan informasinya secara mudah dan murah. (ysh)

Yusuf Susilo Hartono

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post