Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Mengenang 18 Tahun Kepergian Broery Pesolima

Broery Pesolima. (Foto: Laya Pesolima)

Di tanah kelahirannya, Ambon manise, Broery sudah memiliki bakat dalam dunia tarik suara sejak kecil.

KABARE.ID: Ijinkan aku pergi, apalagi yang engkau tangisi. Semogalah pengganti ku dapat lebih mengerti hati mu..

Itulah sepenggal lirik lagu berjudul Pamit yang mengiringi kepergian Broery Pesolima, penyanyi lagendaris berkaliber internasional, yang telah 18 tahun pergi meninggalkan keluarga, rekan, dan penggemarnya.

Broery pergi meninggalkan istri terkasih Wanda Latuperissa, dan dua buah hatinya Don dan Laya Pesolima. Sejak kepergian Broery, Wanda, Don dan Laya hijrah ke Washington DC, Amerika Serikat.

Laporan kontributor Kabare.id di Amerika Serikat, Laya sering tampil di panggung, mewarisi ‘suara’ sang legenda. Ia memiliki warna suara yang khas, syahdu, lembut dan dalam, seakan menegaskan bahwa ia adalah anak dari seorang legenda.

Laya sering kali hadir dalam setiap acara menyanyikan lagu-lagu sang Ayah. Belum lama ini ia hadir memeriahkan kongres Diaspora Indonesia yang di selenggarakan di Jakarta. Sedangkan Don Pesolima, sehari-hari sibuk menghabiskan waktu sebagai anggota Angkatan Laut Amerika Serikat.

Broery Pesolima  lahir di Kuda Mati, Ambon pada 25 Juni 1948 dari pasangan Gijsberth Pesulima dan Wilmintje Marantika dengan nama asli Simon Dominggus Pesulima. Ia dibesarkan paman dari keluarga ibunya, Pendeta Simon Marantika, dan punya tiga saudara: Henky, Freejohn (alm), serta Hemi (alm).

Di tanah kelahirannya, Ambon manise, Broery sudah memiliki bakat dalam dunia tarik  suara sejak kecil. Ia menjadi anggota paduan suara gereja dan sering mengikuti lomba-lomba menyanyi berskala lokal, seperti kontes di RRI Ambon yang menghantarkannya jadi juara pada awal 1960-an.

Keluarga mendiang Broery Pesolima: Laya, Wanda, dan Don. (foto: dok. Wanda Pesolima)

 

Pindah ke Jakarta pada 1964 demi mengejar mimpinya sebagai penyanyi papan atas. Broery mengubah namanya jadi “Broery Marantika” mengikuti identitas keluarga sang ibu.

Di Jakata, awal karier dalam dunia musik Broery bergabung bersama kelompok The Pro’s yang beranggotakan Abadi soesman (pianis), Dimas Wahab (bas), Pomo (alat tiup), Enteng Tanamal (gitar), Fuad Hasan (drum), dan Broery mengisi posisi vokal. Grup ini didukung perusahaan minyak negara, Pertamina, dan dikenal juga sebagai “Pertamina Culture Group” kala tampil di Amerika dengan misi memperkenalkan Indonesia.

Kasihmu – kasihku, adalah salah satu lagu yang diciptakan oleh: Abadi Susman di era 70an. Sang penulis lagu mengatakan, ia khusus menciptakan lagu untuk warna suara Broery. “Bukan bagaimana saya menciptakan lagu, tapi saya benar – benar merasapi warna suaranya. Broery ini punya kaler seperti ini, dan setelah itu tidak ketemu lagi,”  ungkapan Abadi S, dalam sebuah wawancara di NY.

Lewat The Pro’s, nama Broery perlahan melejit. Bahkan, melebihi nama grup itu sendiri. Kemampuannya mengolah suara dan melakukan improvisasi dan penampilan yang bersifat intertement membuatnya mudah meraih perhatian publik.

“Suaranya khas nyong Ambon dan jago improvisasi yang luar biasa membuat penggemar terlena. Broery memiliki suatu karisma tersendiri dalam membawakan lagu. Apa yang ditampilkannya di luar kebiasaan yang ada. Lagu apa saja di lahap sama Broery,” ungkap  actor dan pemusik Indonesia, Enteng Tanamal kepada kontributor Kabare.id.

Enteng menyebut, Broery pernah bercerita tentang keunggulannya yang menyatakan bahwa inspirasinya datang dari Nat King Cole, Ray Charles dan Leonarichy dan banyak penyanyi kulit hitam lainnya. Nostagia lagu barat yang di hadirkan di Indonesia meraih pasaran industri musik Indonesia sepulangnya dari Amerika, kala itu.

Sehabis dari The Pro’s, Broery memutuskan bersolo karier. Pada 1969, ia masuk dapur rekaman dan mencetak lagu sekaligus hits pertamanya, Angin Malam yang diciptakan A. Riyanto. Selain itu, Broery juga melahirkan tembang-tembang populer lainnya seperti Mengapa Harus Jumpa, Aku Jatuh Cinta, Aku Begini Engkau Begitu, sampai Biarkan Bulan Bicara.

Empat tahun kemudian, seperti dicatat Denny Sakrie dalam 100 Tahun Musik Indonesia (2015), Broery mengerjakan album soundtrack film Akhir Sebuah Impian bersama A. Riyanto, Emilia Contessa, dan Benyamin Sueb. Dalam album ini, Broery membawakan lagu Angin Malam, Mimpi Sedih, serta Duri Dalam Cinta.

Keluarga mendiang Broery Pesolima: Laya, Don, dan Wanda. (foto: dok. Wanda Pesolima)

 

Dekade 1970-an adalah tahun kejayaan Broery. Ia menang Festival Lagu Pop Nasional 1974 dan mewakili Indonesia bertarung di World Pop Song Festival di Tokyo. Broery juga muncul dalam dunia film Indonesia. Tercatat, Broery pernah jadi pemain di Brandal Metropolitan (1971), Lagu Untukmu (1973), Jangan Biarkan Mereka Lapar (1975), Impian Perawan (1976), serta Istriku Sayang Istriku Malang (1977).

Sedangkan untuk pasangan duet, Broery berkolaborasi dengan banyak penyanyi, baik lokal maupun internasional. Ia pernah berduet bersama Emillia Contessa (Layu Sebelum Berkembang, Nasib Pengembara), Vina Panduwinata (Bahasa Cinta, Untuk Apa Lagi), Dewi Yull (Kharisma Cinta, Rindu yang Terlarang), sampai Sharifah Aini, penyanyi asal Malaysia (Seiring dan Sejalan).

Penggemar Broery bukan saja di Indonesia tapi juga di Malaysia dan Singapura bahkan sampai di benua Eropa dan Amerika. Jangan Ada Dusta di Antara Kita adalah salah satu lagu hits yang dinyanyikan Broery Marantika. Ia menyanyikan lagu itu bersama Dewi Yull pada 1992.

Meledaknya Jangan Ada Dusta di Antara Kita tak bisa dilepaskan dari sosok Broery yang memiliki karakter suara yang begitu berat, syahdu, dan lembut. Duetnya bersama Dewi Yull juga tampak saling melengkapi: mengisi kekosongan satu sama lain, menghidupkan makna yang tersimpan dalam liriknya.

Artis berdarah ambon ini pernah menikah dengan penyanyi asal Singapura, Anita Sarawak. Meskipun usia perkawinan mereka tidak berlanjut lama. Tahun 1980an  setelah perpisahan itu, Broery kembali ke Indonesia di tengah rasa keputus asahan dan kebimbangan. Alm Rinto Harahap hadir dengan sebuah karya lagu yang sangat romantic Aku Jatuh Cinta yang membuat Broery kembali mendapat tempat paling atas dalam balantika lagu pop Indonesia.

Pada 1998, Broery pernah terserang stroke. Penyakit itu pula yang menjadi penyebab kematiannya pada 7 April 2000 di Rumah Sakit Puri Cinere, Jakarta Selatan.

Hidup adalah sebuah perjalanan, lahir berkarya lalu kemudian menanti kapan kita dipanggil untuk menghadap sang Pencipta. Broery adalah seorang penyanyi yang selalu bernyanyi dengan hati. Broery adalah salah satu penyanyi pop yang namanya berkibar sebagai penyanyi yang mampu menafsir lagu dan daya inprovisiasi yang tinggi, sehingga membuatnya selau tampil beda dengan yang lain.

Ketekunannya saat berproses dan didikan sang ayahnya membuat dia benar–benar matang dalam dunia tarik suara, dalam dunia yang di tekuninya. Karya–karyanya selalu tinggal abadi di setiap relung hati pencinta musik pop Indonesia.

 

Selamat tinggal, ku doakan kau selalu bahagia.. 
Hanya pesan ku, Jangan lupa kirimkan kabar mu.. 
Bila suatu hari Dia membuat kecewa di hati.. 
Batin ini takkan rela mendengar mu hidup menderita..

Selamt tinggal kekasih..

Selamat jalan sayang..

 

 

Leo Huwae

Baskoro Dien

  1. Avatar
    Noerma Thursday, 03 October 2019

    Kak Broery, selamat jalan kak, suara mu suatu berkah yang telah menghibur banyak manusia dan setiap lagu yang kau nyanyikan selalu bawa seluruh jiwamu di dalamnya. Semoga surga jadi tempau yang Ter akhir. Salam untuk keluarga kak Broery Marantika

KOMENTAR

Popular Post