Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Pendidikan

Mengenal Sanhaji, Anak Tukang Kayu yang Berprestasi di IPB University

Sanhaji, anak tukang kayu yang berprestasi di IPB University. (Humas IPB)

Berasal dari keluarga sederhana, tak menyurutkan semangat Sanhaji, mahasiswa Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, IPB University asal Bondowoso Jawa Timur.

JAKARTA – KABARE.ID: Ayahnya bekerja sebagai tukang meubel dengan penghasilan sekitar Rp2,5 juta per bulan dan ibu yang tidak bekerja. Sejak menyelami masa kampus di IPB University, Sanhaji telah meraih setidaknya 15 prestasi, baik itu yang berskala nasional maupun internasional.

Prestasi itu tidak datang dengan mudah. Ia bercerita, ketika kelas 2 SMA mencoba mengikuti extrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR), tetapi karena setengah hati, ia pun pusing dengan KIR. Akhirnya ia berhenti di awal.

Ketika kuliah tingkat pertama ia pun mulai belajar sendiri menulis proposal ilmiah pada ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Ia kembali gagal tidak didanai karena tulisan ala kadarnya.

“Alhamdulillah, di tingkat dua saya menerima beasiswa tempat tinggal Asrama Pondok Inspirasi, di sinilah saya mulai belajar sungguh-sungguh cara menulis karya ilmiah yang baik,” ujar Sanhaji belum lama ini.

Pada awalnya, Sanhaji mengakui bahwa menulis itu sulit terutama dalam mencari ide yang tepat serta kesusahan dalam merangkai kalimat. Namun hal itu dijadikannya motivasi sebagai petunjuk untuk mendapatkan harta karun.

Dan hal tersebut terbukti, kerja keras dengan ikhtiar terus belajar menulis yang baik melalui pembinaan asrama Pondok Inspirasi. Alhamdulillah sekarang saya sangat menikmati manfaat dan keberkahan yang diberikan oleh Allah,” ujar Sanhaji yang juga terpilih menjadi Delegasi IPB TRI-U di China, Oktober 2019 ini.

Baca juga: Kahiyang Ayu Lulus dengan Predikat Cumlaude di Sekolah Bisnis IPB University

Terdapat dua produk unggulan karya Sanhaji bersama tim yaitu ERBRON-C (alat pengutip buah brondolan sawit) dan STAR-TREX (mesin pengangkut tambang belerang).

“Masya Allah saya sangat bersyukur kepada Allah SWT, Ibu dan Bapak saya selalu memberikan yang terbaik buat saya dengan cara apapun. Saya ingat sekali untuk berangkat ke IPB semester 1 demi membelikan saya laptop, Bapak saya sampai rela menjual sapi. Padahal sapi tersebut merupakan sapi lokal dan harta berharga keluarga kami,” ujarnya.

“Sejak awal saya sudah menolak, kalau Bapak sampai menjual sapi. Dan sampai saat ini Alhamdulillah saya dapat menciptakan karya-karya yang luar biasa dengan laptop itu,” sambung dia.

Sanhaji merupakan mahasiswa penerima Bidikmisi yang sejak kuliah ia harus belajar untuk mandiri. Hal yang tertanam dalam pikirannya adalah ia harus mencari cara agar tidak menerima kiriman dari orang tuanya.

“Alhamdulillah Allah selalu memberikan rezeki langsung kepada saya melalui berbagai lomba-lomba karya ilmiah. Terutama jasa Ibu saya yang tiada terkira. Ibu selalu berdoa dan menginginkan saya untuk melanjutkan S2, meskipun dengan ekonomi yang sederhana,” tutupnya. (*/bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post