Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
BISNIS

Mendulang Rupiah di Pameran ICRA 2018

Frederica Jitmau (kanan) bersama pengrajin dari Kota Sorong di sela Pameran ICRA 2018, Kamis (13/9/2018). (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

Pameran produk kriya serta produk interior karya para pengrajin Indonesia, Interior & Craft (ICRA) dijadikan ajang untuk mendulang rupiah.

JAKARTA-KABARE.ID: Salah satunya dirasakan oleh para pengrajin dari Kota Sorong, Papua Barat yang membuka stan atas dukungan Dinas Perindustrian Kota Sorong.

Pantauan Kabare.id, sejak hari pertama pembukaan pada Rabu (12/9), stan Pemerintah Kota Sorong Dinas Perindustrain tidak pernah sepi dari pengunjung. Frederica Jitmau, Pembina Pengrajin Dinas Perindustrian Kota Sorong mengatakan, para pengrajin mampu mendapatkan omzet mencapai Rp7 juta per hari.

“Produk yang ditawarkan berfariasi mulai dari noken, lukisan kayu ukiran, tifa, panah, koteka, hiasan dinding dan lainnya. Harga yang ditawarkan mulai Rp150 ribu hingga Rp5 juta,” kata Frederica Jitmau kepada Kabare.id di lokasi pameran ICRA 2018 di Balai Sidang Jakarta/ Jakarta Convention Center (JCC), Kamis malam (13/9/2018).

Sangking larisnya, stan yang tadinya dipenuhi kerajinan khas Papua ini sedikit-demi sedikit mulai terlihat kosong. Bahkan sebagian besar kerajinan yang bernilai tinngi sudah ludes dibeli pengunjung.  

Dibuat dengan ketelitian dan proses waktu

Aneka kerajinan karya para pengrajin Kota Sorong, Papua. (Foto: Kabare.id/ Baskoro Dien)

 

Frederica bercerita, produk kerajinan yang ditampilkan kali ini merupakan hasil kerajinan para pengrajin binaan Dinas Perindustraian Kota Sorong. Total ada 10 pengrajin pilihan yang karyanya ditampilkan pada pameran ICRA 2018 kali ini.

Banyaknya kerajinan yang ditampilkan oleh Dinas Perindustrain Kota Sorong tidak terlepas dari diakuinya Noken sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. “Luar biasa sejak ditetapkan sebagai warisan dunia, para pengrajin makin giat melestarikan budaya. Bahkan setiap hari Kamis kami masyarakat di Sorong secara khusus menggunakan pakaian batik Papua dengan tas noken,” kata  Frederica.

Selain digunakan oleh masyarakat setempat produk kerajinan mereka juga dipajang dan dijual di pelabuhan transit, bandara, pasar sentral, tempat umum, dan tempat-tempat pos wisatawan seperti Jayapura, Wamena, dll.

(Baca juga: Prungg, Produk Kreatif dari Karung Goni)

Menurut Frederica, kerajinan noken pada awalnya digunakan masyarakat Papua untuk pesta adat, kemudian berkembang menjadi tempat untuk membawa bahan-bahan hasil berkebun, hingga kini dipergunakan untuk berbagai macam keperluan.

Noken yang asli, menurutnya dibuat dari serat kayu dan memerlukan proses pengerjaan yang tidak sebentar. Untuk ukuran kecil bisa satu bulan, sedangkan ukuran besar bisa memerlukan waktu pengerjaan 3-6 bulan, karena bahan serat kayu diambil dari hutan. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post