Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Komunitas

Mendikbud Tinjau Dapur Progas di Kabupaten Sorong

Pencanangan Progas di SD Inpres 1, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat, Senin (24/9/2018). (Foto: Kemdikbud.go.id)

Program Gizi Anak Sekolah (Progas) telah berjalan sejak 2016. Setiap tahun, jumlah kabupaten dan sekolah dasar (SD) yang menjadi sasaran program ini terus bertambah. Tahun ini, Kemendikbud mencanangkan Progas untuk Kabupaten Sorong, Papua Barat.

SORONG-KABARE.ID: Siswa siswi di SD Inpres 1, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat kini telah menyantap sarapan bergizi setiap hari melalui Program Gizi Anak Sekolah (Progas) yang baru diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, Senin (24/9/2018).

Dalam kunjungan kerja ke Kabupaten Sorong, Mendikbud Muhadjir Effendy meninjau Dapur Progas di SD Inpres 1 dan melihat langsung persiapan makanan untuk anak-anak sekolah yang dimasak di Dapur Progas. Menu yang tengah disiapkan adalah bubur ayam dengan potongan sayur (wortel dan buncis), kuah kaldu, dan buah pepaya.

"Cara memasak, menunya, sudah terstandar, luar biasa. Termasuk yang memasak juga. Saya sangat mendukung supaya bahan-bahan yang digunakan untuk memasak berasal dari masyarakat sekitar, sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani," ujar Mendikbud, seperti dikutip dari laman Kemdikbud.go.id.

Mendikbud berharap, Progas bisa didiseminasi dan dikembangkan dengan baik oleh Pemerintah Kabupaten Sorong sehingga semua SD yang di Kabupaten Sorong bisa menikmati sarapan pagi yg bergizi dan sehat seperti yang sudah dilakukan di SD Inpres 1 Kabupaten Sorong.

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Menengah (Dirjen Dikdasmen) Hamid Muhammad mengatakan, Progas merupakan program untuk merespons permasalahan gizi pada anak sekolah.

Masalah gizi tersebut antara lain anak yang terlalu kurus, berjumlah 11 persen dari populasi anak usia 5-11 tahun, lalu anak dengan kelebihan berat badan sebesar 18,8 persen, anak stunting sebesar 30,7 persen terjadi pada anak yang baru masuk SD, dan terakhir anemia sebesar 26 persen.

Progas dimulai pada 2016 di empat kabupaten, yaitu di tiga kabupaten di NTT dan satu kabupaten di Banten. Pada tahun 2017 penerapan Progas meluas di 11 kabupaten di lima provinsi. Kemudian pada tahun 2018 bertambah menjadi 64 kabupaten di 20 provinsi.

"Pemilihan sekolahnya sesuai dengan yang sudah kita siapkan. Tiap kabupaten ada dua kecamatan, dan tiap kecamatan ada lima SD, sehingga di setiap kabupaten ada 10 SD. Di Kabupaten Sorong sendiri ada 10 SD, dengan total 2.170 siswa," tutur Hamid.

Progas dijalankan bekerja sama dengan beberapa pihak, antara lain World Food Programme (WFP), SEAMEO Refcon, dan Fakultas Ekologi Manusia Jurusan Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB).

Progas diharapkan bisa berjalan sinergi dengan program kesehatan lainnya di sekolah, seperti program UKS, sanitasi, kantin sehat, sekolah sehat, dan perilaku hidup bersih. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post