Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Pendidikan

Memupuk Budaya Gotong Royong Melalui Program Gizi Anak Sekolah

Mendikbud Muhadjir Effendy saat meninjau dapur Progas di SD Inpres 1 Kabupaten Sorong. (Foto: Kemdikbud.go.id)

Program Gizi Anak Sekolah (Progas) bisa dijadikan contoh menerapkan semangat gotong royong antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pihak sekolah, komite sekolah, warga, petani, dan nelayan.

SORONG-KABARE.ID: Seperti halnya dicontohkan di SD Inpres 1 Kabupaten Sorong, Distrik Aimas, Provinsi Papua Barat, dimana pengolahan makanan untuk anak-anak dalam Progas menggunakan bahan yang sebagian besar merupakan hasil tani dari orang tua siswa.

"Kebetulan kita semua memakai bahan lokal, ayam juga ayam lokal. Buah juga lokal, yang kita beli langsung dari orang tua murid yang menanam,” kata Sekretaris Komite Sekolah SD Inpres 1 Kabupaten Sorong, Shinta, seperti dikutip laman Kemdikbud.go.id, Selasa (25/9/2018).

Shinta mengatakan, komite sekolah mempercayakan penggunaan bahan lokal dari hasil tani orang tua siswa karena proses penanamannya tidak menggunakan bahan-bahan kimia sehingga dinilai lebih sehat.

“Jadi kita tidak mengambil buah-buahan dari luar yang dikhawatirkan bisa mengandung bahan yang bisa mengganggu pencernaan anak. Sayur juga kita ambil dari lokal, yang ditanam orang tua murid sendiri," kata Shinta.  

Baca juga: Mendikbud Tinjau Dapur Progas di Kabupaten Sorong

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy sempat melihat langsung proses persiapan menu sarapan di Dapur Progas SD Inpres 1 Kabupaten Sorong. Ia memuji cara memasak, kerja sama, hingga menu yang disiapkan dengan menggunakan bahan lokal.

"Saya sangat mendukung supaya bahan-bahan yang digunakan untuk memasak berasal dari masyarakat sekitar, sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani terutama yang memproduksi, atau bergerak di sektor pangan di sini," ujar Mendikbud, Senin (24/9/2018).

Baca juga: Mendikbud: Menjadi Juara Memang Penting, Tetapi Kejujuran Jauh Lebih Penting

Dapur Progas di SD Inpres 1 Kabupaten Sorong dijalankan dengan kerja sama antara pihak sekolah dengan komite sekolah. Para juru masak yang terdiri dari orang tua siswa dan juru masak sekolah berbagi tugas supaya sarapan sudah siap dihidangkan untuk seluruh siswa sebelum pukul 09.00 WIT. "Jadi kebersamaan itu yang penting dalam dapur," tuturnya.

Shinta mengatakan, menu yang disajikan bergantian setiap hari, sesuai dengan standar yang ditetapkan pusat (Kemendikbud). "Semua sudah diatur menunya. Jadi kalori, gizi, sudah diatur mengikuti prosedur yang ada ditentukan dari pusat. Menunya ada bubur ayam, mie jagung dan ayam, ada sop ayam, nasi gurih, jadi bergantian menunya dalam seminggu," ujarnya.

Buah-buahan menjadi salah satu menu yang wajib ada di dalam Progas. Di SD Inpres 1 Kabupaten Sorong, setidaknya ada tiga jenis buah-buahan yang disajikan bergantian, yaitu pepaya, pisang, dan semangka.

Menurut Shinta, Progas sudah berjalan sekitar tiga bulan di SD Inpres 1 Kabupaten Sorong, dan berjalan dengan baik berkat kerja sama semua pihak. "Alhamdulillah lancar. Dari pemerintah juga sudah ada anggarannya, kita tinggal kelola saja. Harapan kami semoga Progas jangan terputus supaya anak-anak Papua tidak mendapatkan gizi buruk," tuturnya.

Baca juga: Belajar Pendidikan Karakter dari Pencak Silat

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) Hamid Muhammad mengatakan, Progas merupakan program untuk merespons permasalahan gizi pada anak sekolah.

Masalah gizi tersebut antara lain anak yang terlalu kurus, berjumlah 11 persen dari populasi anak usia 5-11 tahun, lalu anak dengan kelebihan berat badan sebesar 18,8 persen, anak stunting sebesar 30,7 persen terjadi pada anak yang baru masuk SD, dan terakhir anemia sebesar 26 persen.

Progas diharapkan bisa berjalan sinergi dengan program kesehatan lainnya di sekolah, seperti program UKS, sanitasi, kantin sehat, sekolah sehat dan perilaku hidup bersih. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post