Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
BISNIS

Membangun 10 ‘Bali Baru’

Arief Yahya, Menteri Pariwisata

Bali telah menjadi buah bibir dunia sejak abad 16. Padahal, banyak daerah di Indonesia memiliki potensi wisata alam dan budaya setara Bali. Apabila 10 ‘Bali Baru’ yang dicanangkan pemerintah berjalan sesuai target, pendapatan devisa dari periwisata bisa melompat empat kali lipat.

Jakarta - Kekayaan budaya yang ada di setiap daerah sangat patut untuk terus dihidupkan. Selain  menjadi ciri khas suatu daerah, budaya juga sebagai wujud kearifan lokal. Bahkan, kekayaan budaya dapat diandalkan menjadi tulang punggung pembangunan suatu daerah. Tentu apabila kreasi budaya mampu dikemas dengan baik dan dipromosikan ke seluruh dunia.

Arief Yahya, Menteri Pariwisata, menjelaskan, 60% turis asing datang ke Indonesia karena tertarik budaya. Selebihnya, 35% karena keindahan alam dan 5% karena dibuat, seperti meetings, incentives, conferences dan exhibitions (MICE). “Budaya merupakan alasan utama turis datang ke Indonesia. Keragaman kita sangat dramatis dan memesona. Tidak saja dari penampakan luar, tetapi juga keragaman dari dalam,” ujarnya.

Semakin bertambah besar jumlah turis akan berdampak pada peningkatan ekonomi. Daerah tujuan akan bertambah penghasilannya dan devisa negara tumbuh. Sayangnya, kunjungan turis ke Indonesia masih kalah dengan Malaysia dan Thailand. Tahun 2015, kunjungan turis ke Indonesia 10 juta. Sedangkan ke Malaysia dan Thailand masing-masing mencapai 25 juta dan hampir 30 juta. Indonesia yang lebih luas wilayahnya dan kekayaan budaya lebih beragam kalah jauh dengan dua negara tersebut.

Terobosan yang dilakukan Kementerian Pariwisata untuk meningkatkan jumlah Wisman, salah satunya membuat 25 tujuan wisata baru, yang kemudian dipertajam menjadi 10. Tujuh dari sepuluh destinasi prioritas adalah destinasi bahari. Belum lagi wisata tematik yang dikembangkan akan bersandar pada sejarah bahari yang kaya. Mulai dari Jalur Samudra Chengho, Wonder Way of Wallacea hingga perjalanan budaya Panji yang membangun peradaban pesisir Asia Tenggara. Semua itu dikembangkan menjadi ikon pariwisata bahari.

“Jumlah wisatawan mancanegara (Wisman) tahun 2016 diproyeksikan mencapai 12 juta. Kami mengharapkan jumlah Wisman terus meningkat.  Untuk itu ada tiga cara, yaitu pemasaran, pengembangan tujuan wisata, dan regulasi,” ujar Arief Yahya. Berikut petikan wawancara dengan pria kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur.

 

Bagaimana kunjungan Wisman di tahun 2015?

Indeks daya saing tahun 2013, Indonesia ada di rangking 70, sedangkan di tahun 2015 menjadi 50. Pendapatan devisa sekitar US$12 miliar. Tenaga kerja di sektor pariwisata ada 11 juta orang. Jumlah Wisman 10 juta dan Wisnus mencapai 255 juta. Jadi pencapaian tahun 2015 bisa dikatakan sangat baik.

 

Bagaimana target di tahun 2016?

Kami proyeksikan Wisman naik menjadi 12 juta. Tahun 2015, Wisman ke Indonesia mencapai 10 Juta. Malaysia 25 Juta dan Thailand hampir 30 Juta. Pendapatan devisa kita US$12 miliar, Malaysia UU$20 miliar dan Thailand US$40 miliar.

 

Bagaimana agar jumlah Wisman meningkat?

Cara meningkatkannya dengan 3 cara: pemasaran, pengembangan destinasi wisata, dan regulasi. Pertama, untuk pemasaran dengan mempersiapkan destinasi atau produk. Contoh, Februari 2016 ada Tahun Baru Cina. Untuk menarik turis dari Cina, kita harus mengadakan promosi pariwisata beberapa bulan sebelumnya.

Kita harus memahami betul waktu libur setiap negara, karena berbeda-beda.  Harus pandai menentukan waktu promosi, seperti branding, advertising dan selling. Branding kita adalah “Wonderfull Indonesia”. Pada tahun-tahun sebelumnya, posisi kita ada di rangking 147, sedangkan pada 2015 melompat ke-47. Posisi ini sangat bagus untuk membantu advertising dan selling. Karena brand value yang tinggi membuat orang berpikir. Ini akan mempermudah penjualan.

Kedua destinasi. Kita membangun Top 25 Kawasan Strategis Wisata Nasional. Difokuskan lagi oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menjadi 10 detinasi prioritas, istilahnya membangun 10 ‘Bali Baru’ dari Barat sampai Timur.

 

Apa saja 10 ‘Bali Baru’ tersebut?

Danau Toba, Sumatera Utara; Tanjung Klayang, Belitung; Tanjung Lesung, Banten; Pulau Seribu, Jakarta; Borobudur, Jawa Tengah; Bromo, Jawa Timur; Mandalika, Lombok; Komodo dan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT); Wakatobi, Sulawesi Tenggara; Pulau Morotai, Maluku Utara.

 

Bisa disebutkan regulasi apa yang diinginkan pariwisata?

Kita melakukan bebas Visa agar mempermudahkan orang masuk ke Indonesia. Dampaknya, orang berkunjung naik 20% . Sebelumnya, Indonesia hanya memberi bebas Visa pada 15 negara, sekarang kepada 90 negara.

Regulasi lainnya adalah CAIT (Clearance Approval for Indonesian Territory).  Selama ini, orang ingin masuk ke Indonesia membutuhkan proses tiga minggu. Maka CAIT digantikan yang lebih standar, yaitu CIQP (Customs Imigration Quarantine and Port). Diharapkan tahun 2016 program ini berjalan. Orang yang ingin masuk ke Indonesia hanya memakan waktu tiga jam.  Pada 2017 nanti hanya satu jam saja.

Dahulu Wisman tidak bisa embarkasi dan disembarkasi di Indonesia, sehingga harus ke negara lain. Sekarang lebih fleksibel, orang bisa fly and cruise ke Bali dan embarkasi di Bali atau Surabaya. Ada 5 Pelabuhan, yaitu Medan, Jakarta, Surabaya, Bali dan Makassar. Poin regulasi ini untuk mempermudah orang masuk ke Indonesia.

 

Bagaimana tentang keamanannya? Karena pelabuhan dan bandara merupakan pintu gerbang negara ini.

Untuk menjaga keamanan, diberlakukan yang namanya CIQP tadi. Seluruh kelengkapan dokumen juga masih ditanya dan periksa secara ketat.

Untuk meningkatkan promosi, kami mengharapkan media bukan hanya memberikan kritik dan saran. Namun media  dapat menjadi subyek dan dapat memberi ide bagaimana cara Wisman ini mencapai 20 juta.

 

Bagaimana cara agar target tercapai dalam kondisi seperti ini?

Kita hanya bertumbuh 10% di tahun 2015. Saya berharap dapat tumbuh empat kali setelah ada beberapa regulasi dan  menciptakan 10 ‘Bali Baru’. Anggaran pemasaran juga naik, dari Rp300 milliar untuk seluruh Indonesia, menjadi Rp3 triliun. Jadi dengan promosi ditingkatkan, destinasi dibangun dan regulasi dipermudah. Karena sekarang tantangannya lebih besar.

 

Dari 10 ‘Bali Baru’ tadi, manakah yang diperkirakan lebih kuat menarik minat Wisman?

Sampai saat ini yang paling banyak dikunjungi Wisman itu Borobudur, tetapi hanya sekitar 250 ribu orang di tahun 2015. Tahun 2019 kami targetkan menjadi 2 juta. Borobudur itu lebih tua  dan lebih awal dibangun dari Angkor Wat di Kamboja. Kita tinggal mempermudah akses ke Borobudur dan sekitarnya, seperti Sangiran di Solo, Karimun Jawa di Semarang, dan Dataran Tinggi Dieng.

 

Bagimanakah dengan Badan Otoritas Borobudur?

Kita harus melihat critical success factor. Pengelola Borobudur itu oleh tujuh bupati. Istilahnya, satu perusahaan tetapi chief executive officer (CEO) ada tujuh. Hal tersebut sangat tidak memungkinkan (berjalan dengan baik, Red.). Maka dibentuklah Badan Otoritas Borobudur (BOB) agar single destination menjadi single management.

Tugas BOB menciptakan atraksi atau tagline, bangun akses untuk mempermudah jalan ke tempat tersebut. Misalnya membangun bandara, dermaga, terminal, infrastruktur jalan dan yang terakhir amenitas, yaitu restoran, hotel, dan lain-lain. Tugas lainnya adalah mengkoordinasikan atau mengelola kawasan otorita.

 

Tujuan terbesar Wisman ke Indonesia itu apa?

Ada istilah PES (Passenger Exit Service). Kami tanya hal apa yang menjadikan mereka berwisata ke Indonesia. Jawabannya, 60% tertarik pada budaya, 35% keindahan alam, dan 5% karena buatan, seperti meetings, incentives, conferences dan exhibitions (MICE).

Jadi, kebudayaan merupakan kekuatan bangsa Indonesia, dan diharapkan menjadi penghasil devisa yang akan terus bertahan. Sementara penghasil devisa terbesar lainnya, seperti oil and gas, coal dan crude palm oil (minyak kelapa sawit) kemungkinan akan habis suatu saat nanti.

 

Meski bangsa ini kaya dengan berbagai budaya tetapi sepertinya kurang diminati?

Penilaian ini sebenarnya salah. Karena art culture, art attraction di Indonesia sangat kaya. Namun karena kurang promosi, maka banyak yang tidak mengetahui banyak acara kebudayaan yang diselenggarakan.

Promosi untuk budaya di Indonesia ini sangat kurang. Padahal kekayaan Indonesia sangat banyak. Maka terjadi masalah-masalah, seperti negara tetangga yang mengklaim budaya kita adalah budaya mereka.

Menurut World Economic Forum pada Travel Tourism Competitiveness Index bahwa budaya dan kekayaan alam Indonesia selalu ada di Top 20 Dunia. Karena itu, media dan promosi berperan penting dalam hal ini.

 

Adakah yang ditawarkan tujuan wisata dalam satu tahun kepada Wisman?

Ada banyak kalender acara yang ditawarkan, salah satunya culture performance. Misalnya, turis datang ke daerah-daerah akan disambut dengan tarian khas daerah tersebut.  Di Indonesia ada banyak bahasa dan dialek, namun seperti yang tadi dikatakan hal tersebut kurang dipromosikan.

 

Awal tahun ini kita dikejutkan dengan teror bom di Sarinah, Jakarta Pusat. Disusul dengan penangkapan beberapa teroris di daerah-daerah. Terkesan Indonesia banyak teroris. Apakah ini tidak mempengaruhi kunjungan Wisman ke Indonesia?

Teroris bisa terjadi di mana saja. Di seluruh dunia juga ada teroris, tidak ada negara yang aman. Teror di Sarinah tidak berdampak para priwisata di Indonesia.

Ada tahapan-tahapan yang kita lakukan apabila terjadi sesuatu. Pertama, apabila terjadi krisis keamanan, kita memberikan respon kepada masyarakat dunia bahwa kita sedang krisis. Kedua, kita harus menghentikan seluruh promosi pariwisata di seluruh dunia. Karena tidak mungkin mengundang tamu dalam keadaan tidak aman.

Ketiga, kita mengecek di hotel-hotel adakah yang membatalkan, penerbangan adakah yang batal, ternyata tidak ada. Maka Kementerian Pariwisata mengumumkan bahwa promosi sudah boleh dilakukan kembali karena kondisi Indonesia sudah aman.

Teks: La Ode Idris; Foto: Albert Taurino

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post