Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
KABAR

Membaca Berita di Agregator, Jadi Tren Baru Masyarakat Digital

Ilustrasi: (Pixabay)

Oleh: Shelly Tantri, Head of Business Development, BaBe

Disrupsi dalam dunia media telah memakan korban media arus utama. Pelan tapi pasti, media konvensional gulung tikar. Konsultan bisnis PwC dalam laporan “Perspective from the Global Entertainment and Media Outlook 2017” menyebutkan bahwa laju global pertumbuhan koran dalam lima tahun ke depan adalah minus 8,3 persen. Ini angka terendah karena prediksi untuk media massa konvensional lainnya (majalah, radio, televisi, dan buku) juga mengalami pertumbuhan minus pada 3,4-6 persen saja. Di sisi lain, PwC memprediksi media berbasis internet tumbuh 0,5 sampai 6 persen.

Fenomena stagnansi hingga penurunan global media cetak dan koran yang terjadi di Eropa dan Amerika sejak 2009 lalu, makin nyata terjadi di Indonesia sejak 2015 hingga 2017 ini. Hal ini bisa terlihat dari penutupan parsial atau total sejumlah media cetak bahkan dari kelompok media besar. Data Serikat Perusahaan Pers pun menunjukkan, jumlah penerbitan dan tiras sejak 2002 masing-masing mengalami minus 59 persen dan stagnansi. Jika diturunkan lagi angkanya, yakni 1.254 penerbitan pada 2013 dan tersisa 850 penerbitan pada 2017, maka secara umum, tiap tahun rata-rata tutup 80 jumlah penerbitan atau total 404 penerbitan dalam lima tahun terakhir.

Di sisi lain, mengacu pada data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), terjadi kenaikan jumlah pengguna internet di Indonesia. Dalam 15 tahun terakhir (2002 – 2017) terjadi kenaikan pengakses internet dari 4,5 juta warganet menjadi 145 juta warganet. Ada yang menarik dari kebiasaan warganet itu dengan merujuk data APJII 2016. Yakni, motivasi warganet Indonesia dalam mengakses internet (dalam jawaban terbukanya) yang tertinggi ternyata bukan akses media massa daring atau berita, melainkan media sosial dan mencari hiburan.

 

Dari Media Massa Ke Sosial Media

Sementara dari data yang dipaparkan Reuters Institute, 51 persen responden mengaku memanfaatkan media sosial sebagai sumber berita. Portal berita tak lagi dilirik sebagai sumber utama informasi mereka, dengan angka 12 persen responden menyatakan media sosial sebagai sumber utama mereka dalam mendapatkan berita.

Dari sumber yang sama juga, terungkap bahwa anak muda merupakan generasi yang mengandalkan media sosial sebagai tempat utama memperoleh berita dibandingkan media konvensional seperti televisi. Terdapat 28 persen anak muda berusia 18 hingga 24 tahun yang mengungkapkan bahwa media sosial lebih utama sebagai sumber berita dibandingkan televisi yang hanya memperoleh 24 persen.

Keberadaan media sosial tak pelak telah mengubah perilaku masyarakat dalam memperlakukan konten-konten berita. Sebuah konten berita yang menarik di media sosial bisa dengan cepat menyebar di kalangan pengguna media sosial lainnya. Hal ini terungkap dari paparan Reuters Institute yang mengungkapkan bahwa 24 persen pengguna internet membagikan konten berita di media sosial.

 

Era Aggregator Berita

Selain media sosial, aplikasi pengumpul berita atau news aggregator juga berkembang cukup pesat sebagai wadah masyarakat memperoleh berita. Perilaku orang memperoleh informasi pun berubah. Menurut Reuters Institute, 36 persen responden mengaku membaca berita karena direkomendasikan secara otomatis oleh mesin yang bekerja di belakang platform. Cara ini menghasilkan persentase pembaca berita lebih tinggi dibanding konten-konten yang direkomendasikan oleh jurnalis atau editor.

Sayangnya, di Indonesia dengan tingkat literasi yang masih rendah (data dari Programme for International Student Assessment peringkat literasi Indonesia adalah nomor 64 dari 72 negara) plus budaya getok tular, gampangnya membagi informasi ini tidak disertai dengan budaya menelaah. Alhasil, kabar bohong pun dengan mudah menyebar di media sosial. Data dari DailySocial.id yang melakukan survey pada 2018 dengan responden 2.032 pengguna smartphone di berbagai penjuru Indonesia menemukan, sebagian besar responden (44,19%) tidak yakin memiliki kepiawaian dalam mendeteksi berita bohong.

Di sinilah peran news aggregator sebagai penyaring berita bohong. Ada beberapa hal yang menjadi alasan pendukung hal itu. Konten dari news aggregator dimoderasi dan berasal dari sumber tepercaya. Selain itu, teknologi kecerdasan buatan yang ada di belakang platform news aggregator akan mengirimkan informasi berdasarkan minat warganet sendiri. Hal ini akan memungkinkan luasnya topik dan kedalaman informasi yang dikonsumsi. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post