Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
BISNIS

Melihat Pesona Batik Madura di Kementerian Perindustrian

Interakasi antra penjual dan pembeli di Pameran Batik yang digelar di Kemenperin. (Foto: Baskoro Dien/ Kabare.id)

Kementerian Perindustrian bekerja sama dengan Yayasan Batik Indonesia menggelar pameran Cerah Ceria Pesona Batik Madura di Plasa Industri Kementerian Perindustrian, pada 15-18 Mei 2018.

JAKARTA-KABARE.ID: Sebanyak 48 perajin IKM batik binaan Yayasan Batik Indonesia (YBI) menampilkan karya terbaik dalam pameran bertajuk "Cerah Ceria Pesona Batik Madura" di Plasa Industri Kementerian Perindustrian, pada 15-18 Mei 2018.

Batik Madura punya ciri khas sendiri jika dibandingkan dengan batik Jawa, perbedaan terletak pada motif maupun warna yang digunakan. Batik Madura punya kesan kuat dan berani, selain itu dalam sebuah kain bisa terdapat dua atau lebih warna yang berpadu dengan elok.

Merah, kuning, dan hijau muda, menjadi warna ungulan batik madura. Tiap warna pada kain batik menyimpan makna tersendiri, warna merah misalnya, melambangkan karakter masyarakat Madura yang kuat dan keras; warna hijau melambang warna religi, di mana beberapa kerajaan Islam didirikan dan berkembang di Madura; sementara warna kuning melambangkan bulir-bulir padi yang ditanam oleh penduduk setempat.

Berbicara mengenai motif, batik madura memiliki motif yang lebih bebas dan beragam. Karaben sapeh, sakereh, kempeng salederih, padih kepa, dan manik-manik merupakan motif yang sudah dipatenkan. Selain itu, motif yang biasa dijumpai antara lain tumbuhan, binatang, sekarjagat, keong mas, daun memba, gorek basi, dan kombinasi bentuk-bentuk lain sesuai dengan kreativitas pembatiknya.

Sejarah mencatat, batik Madura sudah ada sejak zaman kerajaan di abad ke-16, digunakan oleh Raden Azhar ketika berperang maupun dalam kehidupan sehari-hari. Saat itu batik dijadikan sebagai simbol kerajaan yang memiliki nilai tinggi.

Para pembesar kerajaan juga sering menggunakan motif parang atau dalam bahasa Madura disebut motif leres dengan garis melintang yang simetris. Pada saat itu, batik dengan motif ini diperkenalkan oleh Adipati Sumenep yang membuat batik dengan motif parang mulai popular di Madura.

Saat ini motif batik madura telah banyak mengalami perkembangan yang terbilang luar biasa. Sebagai salah satu bentuk seni tinggi, batik Madura juga banyak diminati oleh pecinta batik, baik dari dalam negeri maupun dari mancanegara. 

Salah satu motif batik Madura. (Infobatik.id)

 

Promosi karya terbaik

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin, Gati Wibawaningsih mengatakan, pameran ini bertujuan untuk mempromosikan karya-karya terbaik dari para perajin IKM batik untuk memperluas pasar, sekaligus sebagai kekuatan yang mampu menggerakkan peremonomian rakyat. 

"Industri batik telah berperan penting bagi perekonomian nasional. Secara market leader, Indonesia telah menguasai pasar batik dunia serta telah menjadi penggerak perekonomian di regional maupun nasional," ujar Gati di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (15/5/2018).

Gati menambahkan, industri batik juga telah berjasa menyediakan ribuan lapangan kerja dan menyumbang devisa negara. Kemenperin mencatat nilai ekspor batik dan produk batik 2017 mencapai US$ 58,46 juta dengan pasar utama Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. 

"Perdagangan produk pakaian jadi dunia yang mencapau US$ 442 miliar menjadi peluang besar bagi industri batik untuk meningkatkan pangsa pasarnya, mengingat batik sebagai salah satu bahan baku produk pakaian jadi," terangnya. 

Ia menyebutkan, saat ini industri batik nasional didominasi oleh industri kecil dan menengah yang tersebar di 101 sentra. "Jumlah tenaga kerja yang terserap di sentra IKM batik mencapai 15 ribu orang," katanya. 

Berbagai program disiapkan Kemenperin untuk terus mengembangkan industri batik nasional, antara lain: program peningkatan SDM, pengembangan kualitas produk, standarisasi, fasilitas mesin dan peralatan, serta promosi dan pameran diberikan kepada para perajin dan pelaku usaha batik untuk meningkatkan daya saing dan kapasitas produksi. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post