Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Melihat Kreativitas Anak Bangsa di Bidang Teknologi Tata Busana

Teknologi tata busana jadi salah satu bidang lomba favorit di LKS 2019. (dok. Kemendikbud RI)

Sejak tahun 2006, Indonesia selalu meraih medali emas untuk Teknologi Tata Busana dalam ajang keterampilan internasional, World Skills Competition.

YOGYAKARTA-KABARE.ID: Teknologi Tata Busana menjadi salah satu bidang lomba favorit dalam Lomba Kompetensi Siswa (LKS) 2019 SMK.

Juri LKS 2019, Nathanael Suryadi mengatakan, potensi anak-anak Indonesia di bidang Teknologi Tata Busana sangat cerah. Pasalnya, keterampilan para para peserta dari tahun ke tahun salalu berkembang.

"Alhamdulillah anak-anak banyak sekali yang bisa mengerjakan. Ini bukti bahwa perkembangan sistem pendidikan di bidang tata busana di seluruh SMK di Indonesia mulai membuahkan hasil,” ujar Nathanael di Jogja Expo Center, Yogyakarta, Rabu (10/7/2019).

Bahkan apa yang dibuat oleh para peserta di luar ekspektasi para juri. “Ternyata hasilnya luar biasa. Jadi saya sangat berterima kasih kepada guru-guru seluruh Indonesia. Mereka bekerja keras untuk perjuangan di LKS," katanya.

Baca juga: Ketika Indonesia dan Australia Merayakan Sejarah Balet

Dalam LKS 2019 bidang lomba Teknologi Tata Busana, peserta diberikan tugas untuk menyelesaikan lima modul dengan tema baju muslim untuk bekerja di kantor. Kelima modul itu adalah membuat pola, membuat desain, mengerjakan draping untuk membuat jilbab, membuat sketsa/drawing, dan memberikan ragam hias.

Nathanael mengatakan, dalam memberikan penilaian, juri melihat kemampuan peserta dalam membaca tren busana muslim dan bagaimana mereka mengerjakan atau menyajikannya dalam desain yang sesuai degan kreativitas dan teknik yang dikuasai peserta.

"Kita nilai juga ketepatan mereka dalam melalukan pengukuran dan pembuatan pola. Karena dengan berbagai modifikasi dan variasi baju yang mereka buat tentu menuntut teknik-teknik tertentu,” ujar Nathanael.

Para peserta dalam pembuatan pola harus mengerjakan ukuran yang diambil dari manekin, kemudian mereka mengerjakan dengan berbagai jenis mesin yang telah disiapkan oleh panitia.

Baca juga: Status dari UNESCO Menarik Investor untuk Membangun Ombilin sebagai Destinasi Wisata

Nathanael menuturkan, dalam bidang lomba Fashion Technology, peserta bisa membuat dress, rok, atau manset khusus baju muslim. Karena itu ketepatan dalam pengerjaan sesuai dengan teknik dan keragaman pakaian yang dihasilkan menjadi penilaian juri.

"Jadi kalau mereka membuat tiga macam, misalnya ada rok, atasan, dan blazer, maka kita lihat keragaman di dalam proses desainnya seperti apa. Dia bisa berkreasikah atau monoton? Jadi kreativitas mereka itu benar-benar dieksplor," tutur Nathanael.

Standar penilaian dalam LKS mengikuti standar kompetisi internasional, yakni World Skills Competition (WSC). Tidak hanya penilaian, standar soal pun dibuat mengikuti standar WSC. Juri dalam LKS berasal dari berbagai latar belakang. Selain Nathanael, ada dua orang dari perwakilan industri dan dua orang dengan latar belakang akademisi atau dunia pendidikan.

"Jadi daya pandang dari masing-masing juri berpengaruh untuk bagaimana saling melengkapi nilai yang diberikan para juri," katanya. (*)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post