Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
MATA AIR

Melihat Hati Dengan Mata Hati

Ilustrasi: (Antara Foto)

Oleh: Reza V. Maspaitella

Saya paling suka mendengar musik. Apalagi kalau yang memainkan instrumennya adalah istri saya sendiri, yang memang pemain piano, maka perasaan saya akan larut. Tubuh saya boleh saja masih berada di sofa, tapi imaji saya bisa melayang-layang terbang jauh, ke ruang dan waktu tanpa batas. Ketika lagu itu sudah pada nada terakhirnya, jiwa yang melayang-layang tadi kembali ke raganya. Saya menyebutnya raga yang jiwanya mendapatkan pencerahan.

Saya tidak habis-habisnya mengagumi bagaimana tujuh nada dasar – do re mi fa sol la si – bisa melahirkan ribuan bahkan mungkin jutaan lagu di muka bumi ini, termasuk lagu kebangsaan kita Indonesia Raya lengkap dengan tiga stanza. Maka saya yakin, di balik kemampuan sang seniman itu, pasti ada campur tangan Tuhan Yang Maha Indah.

Tapi bagaimana kalau saya melihat kenyataan hidup di luar musik, katakanlah di bidang politik, dunia usaha, dan kemanusiaan pada umumnya. Apalagi kalau melihatnya pakai rasa, dengan mata hati,  dengan sederet firman Tuhan?  Seru! Kita disuguhi, nilai-nilai baik-buruk, benar salah,  sedang jungkir balik, tukar tempat.

Anehnya sering kali hal itu dijadikan proyek, dan dirayakan dengan biaya besar-besaran. Di depan mata kita, banyak sekali orang “merasa bisa”, tapi jarang yang “bisa merasa”. Maka sering kali kita melihat orang-orang yang tidak kompeten mengurus daerah/negara, tapi jumawa, yang akhirnya berurusan dengan KPK dan penjara. Orang-orang seperti  mau membengkakkan jumlah penghuni penjara di mana-mana.

Melihat hati dengan hati, sesungguhnya cara berpikir tabularasa. Di mana, pada mulanya manusia adalah kertas putih. Mau jadi apa orang itu kelak, dipengaruhi oleh tulisan lingkungan. Pertanyaannya, apakah lingkungan saat ini, baik untuk menulisi tabularasa itu? Di sinilah perlunya subyek untuk memilih dan memilah, tulisan atau makna yang dibutuhkan untuk perkembangan hidupnya.

Tidak ada musik tanpa proses. Ia harus dibuat lagunya, ditulis liriknya, diaransemen dan dimainkan orang-orang yang berkompeten, di bawah komando seorang dirigen. Tapi apa yang kita lihat di depan mata kita belakangan ini, adalah pameran jurus-jurus menghalalkan segala cara, hampir di segala bidang. Celakanya orang-orang yang patuh pada langkah, proses dan cara, jadi bahan olok-olokan: katrok, penakut, sok suci, sok alim, sok agamis, sok Pancasilais, dan sebagainya.

Maka sebagai manusia Indonesia yang ingin menjadi warga negara yang baik, taat, Pancasilais, tantangannya besar. Apalagi nilai-nilai Pancasila dewasa ini, seperti dibuang ke laut, diganti oleh nilai-nilai liberal, dan – meminjam kata orang Jogja: waton menange dhewe, asal menang sendiri.

Kalau sudah demikian keadaannya, maka kepada siapa di negeri ini kita bisa mengadu. Kalau seorang penyanyi, ia bisa melantunkan lagu Melayu lama “Insyaflah wahai manusia”; kalau seorang pelukis ia bisa menggambar orang yang bersujud atau sedang menengadahkan tangan berdoa; kalau dia seorang penyair ia bisa menggubah puisi seperti Chairil Anwar “Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang….” Nah, karena saya Reza V. Maspaitella, cukuplah saya menulis “Mata Air” ini untuk pembaca.

 

Salam Mata Air

 

 

*Tulisan ini pernah dimuat Majalah Kabare edisi Juli 2017.

Kabare.id

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post