Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Melestarikan Budaya Nusantara Lewat Kebaya

Tokoh Perempuan Yenny Wahid (kedua kiri) menjadi pembicara dalam diskusi Rumpi Kebaya di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (8/10/2019). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

Diskusi yang mengangkat tema "Melestarikan Budaya Nusantara Lewat Kebaya" tersebut merupakan rangkaian dari Pekan Kebudayaan Nasional 2019.

JAKARTA - KABARE.ID: Perkembangan zaman memang melahirkan padu padan kontemporer, tetapi busana tradisional perempuan Indonesia, khususnya kebaya tetap selalu terjaga, tak pernah luntur dari masa ke masa.

Melihat itu, aktivis sekaligus politisi Yenny Wahid menyebut perlu adanya upaya menonjolkan ciri khas sebagai bangsa.

"Salah satunya (upayanya) adalah dengan berkebaya yang menampilkan keunikan kita sebagai bangsa dan tidak ada bangsa lain yang menyerupai. Berkebaya menghidupkan budaya," ungkap Yenny pada diskusi Rumpi Kebaya di Pekan Kebudayaan Nasional di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (8/10/2019).

Menghidupkan budaya bangsa lewat berkebaya memiliki beragam efek, mulai dari sektor ekonomi, industri tradisional, dan lapangan pekerjaan baru.

Upaya tetap melestarikan kebaya juga dicanangkan lewat kampanye Selasa Berkebaya yang dicetuskan Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia.

Menurut akademisi tata busana dari UPI, Suciati, kebaya memiliki pangkal lengan lurus dan harus lengan panjang. Siluet samping berkurva sampai sepanggul atau pertengahan antara panggul dan lutut yang bernama kebaya panjang.

“Kebaya merujuk salah satu jenis garmen blus. Pada bagian bottom pakai kain tradisional Indonesia. Selebihnya ada pula pemakaian sanggul, penataan rambut yang ditekuk, selendang, selop, longtorso, dan hand bag," kata Suciati

Pada diskusi yang digelar oleh Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia tersebut, Suciati juga menyebut terdapat beberapa jalur kebaya. Sebut saja kebaya adati, struktur tata busana yang dipakai untuk acara adat di tiap daerah dengan detail khusus merujuk pada daerah tersebut.

"Lalu ada kebaya etnik Nusantara, kebaya sehari-hari dengan beragam model. Intinya pada detail model kerah depan, panjang pendek atau panjangnya kita lihat ciri dari daerah mana," lanjutnya.

Ada pula kebaya nasional dengan pakem secara nasional dan kebaya kontemporer yang padu padan tidak lagi mengikuti standar kebaya klasik. Pemakaian kebaya kontemporer biasanya dilengkapi dengan aksesori tertentu.

"Kebaya etnik merujuk pada aturan daerah, sedangkan kontemporer bukan lagi busana tradisi tetapi lebih ke fashion, bukan lagi berdasarkan aturan baku atau pakem," tutur Suciati. (*)


 

Basakoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post