Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
Wisata_Kuliner

Melestarikan Binthe Biluti, Kuliner Tradisional Khas Gorontalo

Binthe Biluti, kuliner tradisional khas Gorontalo. (Foto: Instagram/@fiveme)

Binthe Biluti adalah jagung yang diolah dengan cara disangrai atau digoreng tanpa minyak. Hidangan ini dibuat dengan mencampurkan jagung, udang kecil, kelapa parut, bawang merah, garam, dan cabai yang telah dihaluskan.

JAKARTA-KABARE.ID: Binthe Biluti nyaris dilupakan kebanyakan warga Gorontalo pada masa sekarang, hingga seorang perempuan meraciknya kembali dan manyajikannya dalam bentuk yang lebih segar.

Adalah Hasanah Djamil (36), guru SDN 59 Dumbo Raya Kota Gorontalo yang berhasil mengangkat citra makanan berbahan dasar jagung lokal tersebut sehingga mencuri hati para penikmat kuliner lokal dan wisatwan.

Dalam Bahasa Gorontalo, binthe berarti jagung dan biluti berarti menyangrai, jadi Binthe Biluti adalah jagung yang diolah dengan cara disangrai atau digoreng tanpa minyak.

Membuat Binthe Biluti bagi Nana (sapaan akrabnya), bukan hal rumit. Sejak kecil Nana menyantap dan mengamati cara mengolah Binthe Biluti yang dibuat oleh Ibunya sebagai menu utama maupun makanan tambahan bagi keluarga.

“Ibu saya sering memasak Binthe Biluti sehingga lidah saya terbiasa. Dari ibu pula, akhirnya saya memiliki ide untuk memopulerkan kembali Binthe Biluti,” ujar Nana, dikutip antaranews.com, Senin (30/4/2018).

 

Kreasi baru

Lazimnya Binthe Biluti disangrai tanpa minyak, namun Nana berkreasi dengan menambah sedikit mentega agar rasa yang diperoleh menjadi lebih gurih dan tekstur jangung yang lebih lembut.

Menurutnya, Binthe Biluti kurang digemari generasi muda Gorontalo karena jagung yang disangrai sudah tua sehingga menjadi keras. Oleh karena itu, ia hanya memilih jagung muda.

Binthe Biluti buatannya disangrai selama satu jam, agar kematangan jagung merata, kemudian ditambah udang kecil (gami/ebi) segar, kelapa parut, bawang merah, garam, dan cabai yang telah dihaluskan.  

Ia memilih udang yang hidup di air tawar Danau Limboto, dibandingkan dengan udang dari laut. Nana menilai, rasa udang danau lebih gurih dibandingkan dengan udang laut.

Ibu dua anak itu menyajikan Binthe Biluti bersama ‘gohu putungo’, yakni campuran sayur jantung pisang, kelapa, daun papaya, dan bumbu. Semua bahan yang digunakan Nana untuk membuat Binthe Biluti berasal dari bahan yang masih segar.

“itu syaratnya, jagung saya pilih yang baru dipanen, udangnya baru ditangkap, dan sayurannya tidak boleh yang sudah layu,” ujarnya.

 

Binthe Biluti berbuah rindu

Nana menjual Binthe Biluti dalam kemasan kotak mika berukuran sedang dengan harga Rp12 ribu. Dalam sehari ia melayani pesanan melalui akun media sosialnya 50-100 paket dengan bantuan seorang kurir.

Binthe Biluti buatan Nana kerap berbuah rindu bagi para penggemarnya. Sekali saja Nana tidak berjualan, ada puluhan pelanggan yang kecewa. “Saya suka sekali makan Binthe Biluti ini, porsinya cukup dan sayurannya banyak. Rasanya juga bikin ketagihan,” kata salah seorang pelanggan, Diah Ayu Lestari (29).

Selain menggunakan jasa kurir, Nana juga membuka warung di depan rumahnya dengan satu payung besar, meja, beberapa kursi, serta spanduk kecil bertuliskan “Binthe Biluti Aisyah”. Di warung sederhana itu, terdapat juga makanan jagung olahan lainnya, seperti Binthe Biluhuta (jagung siram).

Binthe Biluhuta adalah makanan tradisional yang diolah dengan cara merebus jagung, lalu mencampurkannya dengan bawang merah, garam, cabai, kelapa parut, ikan atau udang, serta kemangi. Panganan tradisional ini termasuk kuliner yang tetap lestari hingga saat ini, bila dibandingkan dengan Binthe Biluti. (bas)

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post