Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Melemang, Tarian Energik dari Kepulauan Riau

Tari Kayang Melemang asal Kepulauan Riau. Foto: Istimewa

Melemang terlahir sebagai tarian istana yang dipertunjukkan dalam lingkup Kerajaan Bentan, kerajaan yang pernah ada di wilayah Bukit Batu, Bintan.

JAKARTA - KABARE.ID: Tari melemang adalah seni pertunjukan dari Kepulauan Riau. Tarian energik ini merunut sejarahnya berasal dari Tanjungpisau, Desa Penaga, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bintan Wan Rudi Iskandar, melemang merupakan tarian klasik yang telah dipertunjukkan sejak abad ke-12. Melemang terlahir sebagai tarian istana yang dipertunjukkan dalam lingkup Kerajaan Bentan, kerajaan yang pernah ada di wilayah Bukit Batu, Bintan. 

"Awalnya Tari Melemang hanya disajikan di saat-saat tertentu sebagai tarian hiburan bagi raja dan pembesar di kalangan kerajaan di waktu istirahat. Karena ditarikan di lingkungan istana, maka tarian ini dilakukan oleh para dayang Kerajaan Bentan," ujar Wan Rudi Iskandar, sebagaimana dikutip dari Indonesia.go.id, Kamis (10/9/2020).

Rudi menjelaskan, tari melemang biasanya dimainkan oleh 14 penari yang terdiri dari perempuan dan laki-laki. Mereka memainkan peran sebagai raja, permaisuri, putri, pemusik, penyanyi, dan penari.

Setiap penari mengenakan kostum khas Melayu sesuai dengan perannya masing-masing. 

Penari perempuan biasanya mengenakan baju kurung panjang, celana panjang dipadu dengan kain songket Melayu yang dibuat seperti rok serta sabuk. Di bagian kepalanya dihiasi dengan sunting di mana terselip seutas kain panjang mirip selendang menjuntai di bagian tubuh penari hingga ke pinggang. 

Penari laki-laki juga mengenakan baju kurung panjang sebagai atasan. Namun untuk bawahannya, mereka mengenakan celana panjang dibalut kain songket Melayu.

Tari melemang tampil dengan iringan musik dan lantunan lagu khas Melayu yang mengisahkan kehidupan seorang raja di sebuah kerajaan.

Lagu yang dilantunkan merupakan nyanyian Melayu bernada lincah dan ceria. Nyanyian itu menjadi pengiring dari seluruh rangkaian gerak yang ditarikan. Adapun alat musik yang digunakan berupa akordeon, gong, biola, hingga tambur. Tari melemang ditampilkan selama satu jam.

Menurut pemerhati seni tari Melayu Haliz Zefri, koreografi tarian ini menggabungkan gerakan zapin, joget, dan inang dengan pola dinamis dan memerlukan stamina tubuh prima. 

"Tarian ini menonjolkan karakter dan ekspresi kecantikan perempuan Melayu yang energik dan lembut dalam penampilan dan semakin menarik untuk ditonton," kata sarjana seni tari dari Universitas Pendidikan Indonesia Bandung ini.

Klimaks dari tarian ini, menurut Zefri, terjadi ketika para penari membentuk formasi lingkaran dan mempertunjukkan atraksi akrobatik dengan mengambil sikap tubuh seperti sedang kayang. 

Posisi kayang adalah posisi tubuh dibuat nyaris sejajar dengan permukaan lantai kemudian dilengkungkan dengan wajah menatap langit dan bertumpu kepada kedua tangan dan kaki yang menopang berat tubuh ketika dilengkungkan. Tubuh yang dilengkungkan kemudian didorong ke atas sehingga membentuk seperti busur. Gerakan seperti ini memerlukan keahlian khusus. Maklum saja, dalam bahasa setempat melemang artinya melengkung atau kayang.

Dalam posisi kayang seperti ini, penari-penari di masa seni pertunjukan istana harus mengambil benda-benda yang diletakkan di lantai, seperti sapu tangan. Namun dalam penampilan saat ini ketika dijadikan hiburan rakyat, dalam posisi kayang mereka harus bisa mengambil tak hanya sapu tangan, melainkan juga uang kertas atau logam yang dilemparkan penonton ke panggung. 

Saat ini tari melemang banyak disuguhkan pada acara-acara resmi pemerintahan dan festival budaya rakyat Melayu di Bintan dan Kepri tiap Juli dan Agustus. Tarian ini sudah makin jarang ditampilkan sebagai seni pertunjukan dalam hajatan perkawinan di masyarakat. (*)
 

Sumber: Indonesia.go.id

Baskoro Dien

TIDAK ADA KOMENTAR

KOMENTAR

Popular Post