Monday 8 May 2015 / 22:03
  • -
SENI BUDAYA

Meimura Usung Ludruk Kebangsaan ke Jakarta

Lakon "Cak Durrasim" saat dipentaskan kelompok Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara, disutradarai Meimura, di Surabaya. (Foto: dok Meimura)

Ludruk kemasan baru dari kota pahlawan Surabaya garapan Meimura, akan tampil di TIM dan TMII. Mau mengetuk jiwa kebangsaan kita, khususnya perihal patriotisme, dan pemberantasan korupsi. Juga tentang nasib ludruk sendiri, yang pernah jadi alat perjuangan di zaman penjajahan.

JAKARTA-KABARE.ID : Setelah berhasil merevitalisasi kesenian tradisional ludruk di kota pahlawan Surabaya dengan cita rasa masa kini, atau istilah populernya jaman now, Meimuara selaku sutradara bersama kelompok Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara akan menggebrak Jakarta di bulan kemerdekaan ini. Dengan memainkan dua lakon, pertama: "Bui/Guruku Tersayang" adaptasi karya Akhudiat, di Taman Mini Indonesia Indah (17/8/2018). Dilanjutkan dengan lakon kedua: "Cak Durrasim", di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, selama dua malam berturut-turut (18-19/8/2018).

Hari-hari ini mereka sedang berlatih secara intens di markasnya di kota pahlawan Surabaya. Bersamaan dengan itu, tim produksi sedang menuntaskan aspek manajemennya, terutama sponsor, publikasi, dan tiket/undangan, agar berhasil memainkan dua lakon dengan moral cerita berbeda, dihadapan publik metropolitan Jakarta, yang notabene bukan penonton fanatik kesenian ludruk.

Kepada kabare.id. Meimura mengatakan, bahwa lakon "Bui/Guruku Tersayang" mengadaptasi dari karya teaterawan Surabaya Akhudiat. Berkisah tentang pusaran narkoba, dimana tokoh-tokohnya bisa "mengatur" bangsa dan negara, meski dari balik penjara, Sedangkan lakon "Cak Durrasim", nama salah satu pejuang di Surabaya, selain Bung Tomo, dll., yang rela berkorban jiwa dan raga, demi kemerdekaan Tanah Air, Bangsa dan Negaranya. "Ini perlu didengungkan kembali di ibukota RI, untuk membangkitkan adab, asah, asih, asuh dan gotong royong yang belakangan ini mulai porak poranda," tutur Meimura melalui WhatsApp, beberapa saat lalu.

Muhibah pentas ludruk Surabaya ke Jakarta, didukung oleh seluruh awak kesenian ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara (SN). Mulai dari Mak Unyil yang kini berusia 80 tahun, hingga Putik, anggota ludruk anak yang masih berusia 4-6  tahun.

Di Istana Kepresidenan

 Ludruk dengan lakon "Cak Durrasim" dengan garapan artistik yang laras dengan masa kini. (Foto: Dok Meimura)

 

Pementasan muhibah ludruk Surabaya ke Jakarta ini, menurut Meimura untuk merayakan HUT Kemerdekaan RI ke-73, dan Asian Games. Ludruk, tambahnya, dalam sejarahnya, dalam masa perjuangan kemerdekaan dijadikan media efektif untuk menyampakaian berbagai informasi kepada rakyat, Jawa Timur khususnya. Parikan (sejenis pantun khas Jawa Timur) Cak Durrasim yang sangat melegenda sampai sekarang untuk melawan penjajah saat itu adalah, "Pegupon omahe doro, melok Nipon tambah soro". Terjemahan bebasnya, pegupon rumah burung dara, ikut Jepang tambah sengsara.

"Saat ini kesenian ludruk di Jatim tidak punya ruang ekspresi yang representatif. Juga tidak ada kebijakan spesial dari pemerintah/negara  untuk menjaga dan mengembangkannya, berbeda dengan kesenian yang lain," ujar Meimura yang pernah mendapat penghargaan sebagai pegiat ludruk dari PWI Jawa Timur.

Saat Meimura dengan ludruknya memainkan lakon Paman Doblang, adaptasi Rendra. Artistiknya tampil menonjol. (Foto: Dok Meimura)

 

Usaha revitalisasi Meimura agar ludruk bisa disukai generasi masa kini, diarahkan pada inovasi cerita/lakon, tata artistik, hingga manajemen, termasuk penggarapn penonton. Secara ajek, ludruk gaya barunya -- Irama Budaya Sinar Nusantara --  setiap malam Minggu tampil di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya. Selain itu, upayanya yang lain dalam bentuk melakukan regenerasi, dengan membuka kelas latihan gratis untuk anak dan remaja. Sedangkan untuk menarik simpati orang asing yang tinggal dan bekerja di Surabaya, sekaligus promosi ke dunia luar, ia mengajak para diplomat main ludruk.

Apa target pentas di Jakarta? Meimura berharap akan terbuka wacana baru tentang penanganan yang adil pada kesenian tradisi, apalagi yang klasik seperti ludruk. Seturut dengan UU Pemajuan Kebudayaan. "Presiden kita mesti turut mikir bentar saja, tentang kesenian ludruk ini. Di jaman Bung Karno, ludruk tampil selama 16 hari di Istana Kepresidenan,  dan presiden ikut main," ujar Meimura menutup pembicaraan.

Yusuf Susilo Hartono

Yusuf Susilo Hartono

  1. Avatar
    Ria Tuesday, 07 August 2018

    Salut kepada Cak Meimura ..., Salut juga pada Mas Joko, Ludruk memerlukan orang seperti njenengan ..

KOMENTAR

Popular Post